Tuhan dalam agama Hindu

Konsep ketuhanan dalam agama Hindu bervariasi menurut tradisi filsafat dan keagamaannya yang tidak seragam.[5] Agama Hindu mencakup aneka bentuk kepercayaan tentang Tuhan dan dewa-dewi, seperti henoteisme, monoteisme, politeisme, panenteisme, panteisme, pandeisme, monisme, agnostisisme, ateisme, dan nonteisme.[8]

Bentuk-bentuk teisme termaktub dalam kitab Bhagawadgita. Bakti yang penuh kasih dan tulus terhadap dewa-dewi tertentu seperti awatara Wisnu (contohnya Kresna), Siwa, dan Bunda Dewi (yang muncul sejak abad pertengahan India) kini dikenal dengan sebutan gerakan Bhakti.[9][10] Hinduisme masa kini dapat dikelompokkan ke dalam empat tradisi besar Hindu Teistik: Waisnawa, Saiwa, Sakta, dan Smarta. Aliran Waisnawa memuja Wisnu sebagai Tuhan, sedangkan Saiwa memuja Siwa dan Sakta memuja Sakti, atau meyakini seluruh dewa-dewi Hindu merupakan aspek dari satu Kebenaran Sejati (monisme) atau suatu zat metafisis yang kekal dan tak berwujud yang disebut Brahman atau Svayaṁ-Bhagavān ("Tuhan itu sendiri"). Sekte-sekte Hindu yang lebih kecil seperti Ganapatya dan Saura masing-masing menekankan pemujaan terhadap Ganesa dan Surya sebagai Tuhan.

Umat Hindu yang mengikuti ajaran Adwaita Wedanta meyakini ātman―roh pribadi dalam setiap makhluk hidup―pada dasarnya setara dengan Wisnu, Siwa, atau Dewi,[11][12][13] atau―dalam pemahaman lain―identik dengan Brahman.[20] Konsep filsafat Adwaita atau non-dualisme yang berkembang dalam filsafat Wedanta―terutama sebagaimana yang diajarkan dalam Upanisad―dipopulerkan oleh Adi Shankara, seorang filsuf Hindu, ahli Weda, guru agama, dan penekun spiritual abad ke-8 Masehi, dan sangat berdampak besar terhadap Hinduisme.[21][22][23] Maka dari itu, penganut Adwaita yakin bahwa Brahman merupakan Tuhan Yang Maha Esa (Parabrahman) dan Kebenaran Sejati yang hadir di luar jangkauan indra fisik dan alam baka.[24]

Umat Hindu yang mengikuti ajaran Dwaita Wedanta meyakini bahwa jīwātman (diri pribadi) dan Kebenaran Sejati yang disebut Brahman masing-masing berdiri sendiri, dan pada dasarnya memiliki perbedaan.[25][26] Konsep filsafat Dwaita atau dualisme yang berkembang dalam filsafat Wedanta―sebagaimana yang diajarkan dalam Weda―dipopulerkan oleh Madhvacharya, seorang filsuf, ahli Weda, dan teolog India pada abad ke-13 Masehi, dan memberikan dampak besar terhadap perkembangan Hinduisme.[27] Secara khusus, pengaruh Madhvacharya dianggap sangat penting dan ditekankan dalam perguruan Chaitanya Mahaprabhu dari Benggala.[28]

Referensi

  1. ^ a b Narayanan, Vasudha (2018) [2009]. "Gods, Goddesses, and Divine Powers (overview article)". Dalam Basu, Helene; Jacobsen, Knut A.; Malinar, Angelika; Narayanan, Vasudha (ed.). Brill's Encyclopedia of Hinduism. Vol. 1. Brill Publishers. doi:10.1163/2212-5019_BEH_COM_103. ISBN 978-90-04-17641-6. ISSN 2212-5019.
  2. ^ a b Lipner, Julius J. (2010) [1998]. Hindus: Their Religious Beliefs and Practices (Edisi Second). Routledge. hlm. 8. ISBN 978-0-415-45677-7. OCLC 698586925. [...] one need not be religious in the minimal sense described to be accepted as a Hindu by Hindus, or describe oneself perfectly validly as Hindu. One may be polytheistic or monotheistic, monistic or pantheistic, even an agnostic, humanist or atheist, and still be considered a Hindu.
  3. ^ Lester Kurtz (Ed.), Encyclopedia of Violence, Peace and Conflict, ISBN 978-0123695031, Academic Press, 2008
  4. ^ MK Gandhi, The Essence of Hinduism, Editor: VB Kher, Navajivan Publishing, see page 3; According to Gandhi, "a man may not believe in God and still call himself a Hindu."
  5. ^ [1][2][3][4]
  6. ^ Chakravarti, Sitansu S. (1991). "The Hindu Perspective". Hinduism, a Way of Life. Motilal Banarsidass. hlm. 70–71. ISBN 978-81-208-0899-7. OCLC 925707936. According to Hinduism, different religions are but alternate ways toward the same spiritual goal. Thus, although spirituality is a necessary quest for human beings, the religion one follows does not have to be the same for everyone. [...] The first Hindu scripture, the Rigveda, dating back to at least 4.000 years, says: "Truth is one, though the wise call it by different names." The Mahabharata, which includes the Gita, is replete with sayings meaning that religious streams, though separate, head toward the same ocean of divinity.
  7. ^ Smart, Ninian (10 November 2020) [26 July 1999]. "Polytheism". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica, Inc. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2020. Diakses tanggal 25 April 2021.
  8. ^ [1][2][6][7]
  9. ^ June McDaniel Hinduism, in John Corrigan, The Oxford Handbook of Religion and Emotion, (2007) Oxford University Press, 544 pages, pp. 52-53 ISBN 0-19-517021-0
  10. ^ Karen Pechelis (2014), The Embodiment of Bhakti, Oxford University Press, ISBN 978-0195351903, pages 3-4, 15-28
  11. ^ Mariasusai Dhavamony (1999), Hindu Spirituality, GB Press, ISBN 978-8876528187, page 129
  12. ^ Olivelle 1992, hlm. 80-81, 210 with footnotes.
  13. ^ Ganesh Tagare (2002), The Pratyabhijñā Philosophy, Motilal Banarsidass, ISBN 978-8120818927, pages 16–19
  14. ^ a b Leeming, David A. (2014). "Brahman". Dalam Leeming, David A. (ed.). Encyclopedia of Psychology and Religion (Edisi 2nd). Springer Verlag. hlm. 197. doi:10.1007/978-1-4614-6086-2_9052. ISBN 978-1-4614-6087-9.
  15. ^ a b Halligan, Fredrica R. (2014). "Atman". Dalam Leeming, David A. (ed.). Encyclopedia of Psychology and Religion (Edisi 2nd). Springer Verlag. hlm. 134–135. doi:10.1007/978-1-4614-6086-2_54. ISBN 978-1-4614-6087-9.
  16. ^ a b Ram-Prasad, Chakravarthi (2018) [2010]. "Brahman". Dalam Basu, Helene; Jacobsen, Knut A.; Malinar, Angelika; Narayanan, Vasudha (ed.). Brill's Encyclopedia of Hinduism. Vol. 2. Brill Publishers. doi:10.1163/2212-5019_BEH_COM_2050070. ISBN 978-90-04-17893-9. ISSN 2212-5019.
  17. ^ William Wainwright (2012), Concepts of God Diarsipkan 23 March 2015 di Wayback Machine., Stanford Encyclopedia of Philosophy, Stanford University
  18. ^ U Murthy (1979), Samskara, Oxford University Press, ISBN 978-0195610796, page 150
  19. ^ a b Dissanayake, Wimal (1993). "The Body in Indian Theory and Practice". Dalam Kasulis, Thomas P.; Ames, Roger T.; Dissanayake, Wimal (ed.). Self as Body in Asian Theory and Practice. SUNY Series: The Body in Culture, History, and Religion. SUNY Press. hlm. 39. ISBN 0-7914-1079-X. OCLC 24174772.
  20. ^ [14][15][16][17][18][19]
  21. ^ Indich 2000, hlm. vii.
  22. ^ Fowler 2002, hlm. 240-243.
  23. ^ Brannigan 2009, hlm. 19, Quote: "Advaita Vedanta is the most influential philosophical system in Hindu thought.".
  24. ^ [14][15][16][19]
  25. ^ Ignatius Puthiadam (1985). Viṣṇu, the Ever Free: A Study of the Mādhva Concept of God. Dialogue Series. hlm. 227.
  26. ^ Bryant, Edwin (2007). Krishna: A Sourcebook (Chapter 15 by Deepak Sarma). Oxford University Press. hlm. 358. ISBN 978-0195148923.
  27. ^ N. V. Isaeva (1993). Shankara and Indian Philosophy. SUNY Press. hlm. 253. ISBN 978-0791412817.
  28. ^ B. N. Krishnamurti Sharma (1986). Philosophy of Śrī Madhvācārya. Motilal Banarsidass Publications. hlm. 22. ISBN 9788120800687.

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement