Kiratamurti
| Kiratamurti | |
|---|---|
Siwa sebagai pemburu dari suku Kirata | |
Siwa (tengah, berlengan empat) sebagai pemberi anugerah Pasupatastra kepada Arjuna (kedua dari kiri, berkulit hijau) setelah menyamar sebagai orang Kirata. | |
| Nama lain | Pasupatamurti |
| Afiliasi | Siwa |
| Pustaka | Mahabharata, Kiratarjuniya |
| Kepercayaan | Hindu |
| Aliran | Saiwa |
Kiratamurti (Dewanagari: किरातमूर्ति ; IAST: Kirātamūrti), atau disebut Kirata (Dewanagari: किरात ; IAST: Kirāta) saja, adalah salah satu wujud dari dewa Hindu Siwa sebagai seorang pemburu dari suku Kirata, pribumi India Utara yang menghuni kawasan pegunungan.[1][2] Wujud ini tercatat dalam wiracarita Hindu Mahabharata jilid ketiga, Wanaparwa. Dalam kitab dikisahkan bahwa Siwa mengambil wujud tersebut untuk menguji keberanian dan kemampuan Arjuna, serta memberinya anugerah senjata sakti Pasupatastra. Kisah tersebut juga menjadi inspirasi karya puisi kepahlawan Sanskerta berjudul Kiratarjuniya karya Bharavi (abad ke-6 M).[3] Di India Selatan, varian dari wujud ini disebut pula Pasupatamurti (Dewanagari: पाशुपतमूर्ति; IAST: Pāśupatamūrti; arti: "Wujud [Siwa] membawa Pasupata").[4]
Legenda
Kisah Siwa sebagai Kirata muncul dalam suatu episode dari Wanaparwa ("himpunan kisah di hutan"), jilid ketiga wiracarita Mahabharata. Dikisahkan bahwa para Pandawa—tokoh protagonis wiracarita tersebut—diasingkan ke hutan setelah kehilangan hak kuasa atas kerajaannya sendiri akibat kalah berjudi dengan sepupu mereka, para Korawa. Di sana, mereka mempersiapkan diri untuk merebut kerajaan mereka kembali dari tangan para Korawa. Dalam usaha persiapan tersebut, Arjuna—salah satu Pandawa—bertapa memuja Dewa Siwa—atas petunjuk dari Dewa Indra—untuk memperoleh senjata sakti. Setelah beberapa lama, Siwa berkenan dengan tindakan Arjuna dan memutuskan untuk menguji sekaligus memberinya hadiah.
Ketika sesosok babi hutan jadi-jadian bernama Muka mengganggu pertapaan Arjuna, Siwa turun ke Bumi dalam wujud orang Kirata, suku pemburu yang tinggal di kawasan pegunungan. Baik Arjuna maupun Kirata memanah Muka secara bersamaan sehingga babi tersebut tewas. Saat mereka berhadapan, keduanya mengeklaim sebagai orang pertama yang berhasil menembak babi hutan tersebut. Karena tidak ada yang mengalah, mereka pun bertarung. Meskipun pertarungan sudah berlangsung lama, Arjuna tidak mampu mengalahkannya. Akhirnya, Arjuna menyadari siapa Kirata sesungguhnya, lalu menyerah. Siwa senang dengan sikap Arjuna, lalu dia memberi anugerah berupa panah sakti bernama Pasupatastra. Selain Arjuna, tiada orang yang memiliki senjata tersebut sebagaimana termaktub dalam Mahabharata.[5][6]
Lihat pula
Referensi
- ^ Radhakumud Mukharji (2009), Hindu Shabhyata, Rajkamal Prakashan Pvt Ltd, ISBN 978-81-267-0503-0,
... किरात (मंगोल) : द्रविड़ भाषाओं से भिन्न यह भाषाओं में किरात या ...
- ^ Shiva Prasad Dabral (1965), Uttarākhaṇḍ kā itihās, Volume 2, Vīr-Gāthā-Prakāshan,
... प्राचीन साहित्य में किरात-संस्कृति, किरात-भूमि ...
- ^ Singh, M. P. (2002). Encyclopaedia of teaching of history (Edisi 1st). Lucknow: Institute for Sustainable Development. hlm. 297. ISBN 81-261-1243-3. OCLC 631660227.
- ^ R. Suthashi (2010), "Description of Pashupata-Murti", Prayogamanjari and Saivagamanibandhana (Study), Wisdom Library
- ^ John Telford; Benjamin Aquila Barber (1876), William Lonsdale Watkinson; William Theophilus Davison (ed.), The London quarterly review, Volume 46, J.A. Sharp, hlm. 324
- ^ Sures Chandra Banerji (1989), A companion to Sanskrit literature: spanning a period of over three thousand years, containing brief accounts of authors, works, characters, technical terms, geographical names, myths, legends, and several appendices (Edisi 2), Motilal Banarsidass Publ., hlm. 215, ISBN 978-81-208-0063-2
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.





