Alaksmi

Alaksmi
Dewi kemalangan dan kesedihan
Nama lain
Genderwanita
AfiliasiDewi
PustakaLinggapurana,[1] Padmapurana
Simbolgagak
Atributsapu, tampah
Wahanagagak, keledai
Dewa/dewi terkaitJyesta, Dumawati, Nirrti
KepercayaanHindu
Keluarga
SaudaraLaksmi
SuamiKali (asura)
Udalaka (versi Padmapurana)

Alaksmi (Dewanagari: अलक्ष्मी; ,IASTAlakṣmī, अलक्ष्मी) adalah antitesis dari Dewi Laksmi (dewi rezeki dan keberuntungan) dalam kepercayaan Hindu. Alaksmi juga dikenal dengan nama Kalahapriya dan Daridara, serta dipadankan dengan Jyesta (saudari Laksmi), Nirrti (dewi duka lara),[2] dan Dumawati (dewi kemiskinan dan keputusasaan).[3]

Alaksmi juga disebut sebagai bayang-bayang Dewi Laksmi. Dalam kitab Padmapurana, dia tercipta dari pengadukan samudra yang mengeluarkan segala macam isi dunia, baik maupun buruk.[4] Menurut kitab, hal-hal yang buruk muncul terlebih dahulu—termasuk Alaksmi—lalu disusul oleh hal-hal yang baik.

Nama dan sosok

Alaksmi berasal dari kata Sanskerta अ (a) yang berarti "bukan" atau "anti-", dan लक्ष्मी (lakṣmī) yang mengacu kepada dewi keberuntungan, sehingga Alakṣmī berarti "bukan Laksmi" atau "anti-Laksmi". Berbanding terbalik dengan Laksmi—yang merupakan dewi kemamkmuran, keberuntungan, kekayaan, dan kesehatan—Alaksmi adalah dewi kesialan, kemalangan, kemiskinan, dan kesengsaraan.

Nama Alaksmi sendiri tidak disebutkan dalam kitab Weda atau Upanisad, tetapi aspek-aspek dari Alaksmi cocok dengan ciri-ciri dewi Nirrti. Beberapa pustaka Hindu mengidentifikasi Alaksmi sebagai sosok yang sama dengan Nirrti.[5][6]

Selain Nirrti, Dewi Jyesta juga dipadankan dengan Alaksmi. Peran Jyesta merupakan kebalikan dari Laksmi, dan sama-sama muncul dari peristiwa Samudramantana, seperti halnya Laksmi dan Alaksmi.[7] Jyesta menyandang gelar "Alaksmi" sebab dia menyukai tempat-tempat yang buruk dan berbagai sesuatu yang tidak memberikan berkah.[3]

Sebagai dewi kemalangan dan nasib buruk, Alaksmi juga memiliki hubungan dengan Dewi Dumawati, salah satu anggota Mahawidya (dewi kebijaksanaan) yang diyakini sebagai dewi kemiskinan dan keputusasaan.[8] Baik Alaksmi maupun Dumawati digambarkan keriput, memiliki panji berlambang gagak, dan membawa tampah. Meskipun terdapat kemiripan, Alaksmi tidak memiliki karakteristik Dumawati yang signifikan, seperti status janda dan penekanan pada keburukannya.[3]

Legenda

Sosok Alaksmi (atau Jyesta) dari lukisan pengadukan lautan susu (ca 1820), tampak berkulit gelap, membawa sapu dan tampah.

Kisah Alaksmi dan Jyesta memiliki kemiripan: tercipta dari pengadukan lautan susu. Kisahnya tertulis dalam naskah Padmapurana dan Linggapurana, diawali dengan lenyapnya Dewi Laksmi akibat kesalahan Dewa Indra. Dikisahkan pada suatu hari, seorang resi bernama Durwasa memberikan rangkaian bunga kepada Indra, dewa penguasa kahyangan. Indra yang angkuh kemudian mencampakkan bunga itu ke lantai dan terinjak oleh Airawata, gajah peliharaanya. Durwasa yang sakit hati pun mengutuk bahwa kelak kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki Indra akan lenyap seketika. Laksmi yang menyaksikan peristiwa tersebut memilih untuk meninggalkan Indra dan menceburkan diri ke dalam lautan susu.

Kepergian Laksmi menimbulkan petaka bagi tiga alam (kahyangan, bumi, dan dunia bawah), yang berimbas pada kerusakan dan kekacauan semesta. Sebelumnya, Laksmi selalu memberi keberkahan dan keberuntungan bagi alam semesta. Tanpa adanya Laksmi, sapi-sapi berhenti menghasilkan susu, tanaman tidak lagi menghasilkan buah dan bunga, sinar matahari semakin meredup, emas-permata tidak lagi berkilau, para asura (demon) bergentayangan, hingga banyak terjadi kematian. Dewa Wisnu selaku dewa pelindung semesta sekaligus suami dari Laksmi berinisiatif mencari istrinya dengan cara mengaduk lautan susu (disebut Samudramantana). Para dewa dan asura turut bekerjasama dalam pengadukan lautan susu.

Setelah pengadukan lautan susu berlangsung selama ribuan tahun, Laksmi akhirnya muncul—tetapi tidak sendirian—bersama bayangan hitam yang membentuk sesosok wanita, yang kemudian bayangan itu diberi nama Alaksmi (digambarkan sebagai bentuk kekecewaan dari Laksmi). Kemudian, Wisnu membagi dunia menjadi dua sisi, yakni kebaikan dan keburukan. Selama peristiwa pengadukan lautan, Laksmi ditugaskan untuk menebar kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Sedangkan Alaksmi ditugaskan untuk menebarkan kejahatan, kesedihan, kemiskinan, penderitaan. Alaksmi akan tinggal bersama orang-orang yang berhati jahat, serakah, atau jauh dari agama.

Kepercayaan

Sosok Alaksmi sering dipadankan dengan Dumawati (gambar), meskipun terdapat perbedaan di antara banyaknya kesamaan.

Alaksmi digambarkan memiliki fisik bungkuk, gigi tidak rapi, kulit penuh keriput seperti nenek-nenek, dan rambut yang kusut tak terawat. Dia identik dengan gagak, dan digambarkan mengendarai gagak, atau keledai. Namun dalam versi lain, Alaksmi digambarkan sangat mirip dengan Laksmi tetapi mengenakan pakaian serba hitam dan memiliki sorot mata yang sangat tajam (sorot mata Alaksmi sering diidentifikasikan sebagai mata jahat yang menakutkan).[9][10]

Untuk mengusir Alaksmi dari rumah atau tempat usaha, masyarakat India sering menggantung nimbu mirchi (semacam jimat yang terbuat dari rangkaian tujuh buah cabai dan satu buah lemon) untuk mengganggu konsentrasi Alaksmi yang sedang mengambil keberuntungan pemilik rumah atau tempat usaha, sehingga Alaksmi merasa lapar lalu lupa akan tugasnya dan fokus memakan cabai dan lemon. Alaksmi sangat menyukai makanan dengan rasa asam dan pedas, sedangkan Laksmi suka dengan makanan manis.[11][12] Setelah diberi sesajen, Alaksmi diusir dengan cara memukul tampah (nyiru) dengan batang tebu.[13]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Linga Purana – Part 2, English translation by J. L. Shastri (1951), Chapter 6: "The origin and activities of Alakshmi".
  2. ^ Kirin Narayan (2011). Storytellers, Saints, and Scoundrels: Folk Narrative in Hindu Religious Teaching. University of Pennsylvania Press. hlm. 223. ISBN 978-0-8122-0583-1.
  3. ^ a b c Kinsley, David R. (1997). Tantric visions of the divine feminine: the ten mahāvidyās. University of California Press. ISBN 978-0-520-20499-7.
  4. ^ Tracy Pintchman (2005). Guests at God's Wedding: Celebrating Kartik among the Women of Benares. SUNY Press. hlm. 48–49. ISBN 978-0-7914-8256-8.
  5. ^ Benard, Elisabeth; Moon, Beverly (2000-09-21). Goddesses Who Rule (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-535294-8.
  6. ^ Daniélou, Alain (1991-12-01). The Myths and Gods of India: The Classic Work on Hindu Polytheism from the Princeton Bollingen Series (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. ISBN 978-1-59477-733-2.
  7. ^ Leslie, Julia (1992). "Sri and Jyestha: Ambivalent Role Models for Women". Dalam Leslie, Julia (ed.). Roles and rituals for Hindu women. Motilal Banarsidass. ISBN 81-208-1036-8.
  8. ^ Daniélou, Alain (1991-12-01). The myths and gods of India. Inner Traditions / Bear & Company. hlm. 282–3. ISBN 978-0-89281-354-4.
  9. ^ Ashish Kumar (2020), Samudramanthanam: Churning of life, Orangebooks Publication
  10. ^ Dayal N Harjani (2018), Sindhi Roots & Rituals – Part 2, Notion Press, ISBN 9781642494808
  11. ^ Christine Iverson (2023), The Herbal Apothecary: Recipes, Remedies and Rituals, Summersdale, ISBN 9781837992423
  12. ^ Anna Franklin (2019), The Hearth Witch's Kitchen Herbal: Culinary Herbs for Magic, Beauty, and Health, Llewellyn Publications, ISBN 9780738758237
  13. ^ Sankar Sen Gupta (1970), A Study of Women of Bengal, Indian Publications

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement