Kemanunggalan (Buddhisme)
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 faktor mental (cetasika) |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Dalam Buddhisme, kemanunggalan (Pali: ekaggatā; Sanskrit: ekāgratā, एकाग्रता) juga dikenal sebagai keterpusatan pikiran, pemusatan pikiran,[1][2] penyatuan batin, dan ketenangan batin, adalah suatu faktor mental yang juga merupakan suatu faktor jhāna.
Dalam tradisi Theravāda, yang menafsirkan kembali jhāna sebagai konsentrasi terpusat, faktor mental ini dipandang sebagai komponen utama dalam semua tingkatan jhāna serta inti dari konsentrasi (samādhi). Pemusatan pikiran berfungsi menekan sementara nafsu indria, suatu syarat penting bagi pencapaian meditatif. Ekaggatā menjalankan peran untuk mengarahkan perhatian secara mendalam pada objek meditasi—ciri khas dari jhāna—namun tidak dapat bekerja sendiri. Ia memerlukan keterlibatan bersama empat faktor jhāna lainnya yang masing-masing memiliki fungsi khusus: vitakka, vicāra, pīti, and sukha.
Dalam ajaran Buddhis, ekaggatā diidentifikasi sebagai:
- Salah satu dari tujuh faktor mental universal dalam ajaran Abhidhamma Theravada.
- Salah satu kualitas yang berkaitan dengan jhāna kedua menurut Tipiṭaka.[3][4]
- Obat penawar terhadap nafsu indria (kāmacchanda) dalam kelompok lima rintangan (pañca nīvaraṇa)..
Referensi
- ^ BuddhaSasana: Concise Pali-English Dictionary
- ^ Shankman 2008, hlm. 4.
- ^ Henepola Gunaratana, The Path of Serenity and Insight: An Explanation of the Buddhist Jhānas, p.87
- ^ Roderick S. Bucknell (1993), Reinterpreting the Jhanas. p.375
Sumber
- Bhikkhu Bodhi (2012), A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha (Vipassana Meditation and the Buddha's Teachings), Independent Publishers Group Kindle Edition
- Nina van Gorkom (2010), Cetasikas, Zolag //links broken
- Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi, Shambhala Publications
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


