Kegembiraan (Buddhisme)

Kegembiraan atau kegiuran (Pali: pīti; Sanskerta: प्रीति, prīti) adalah sebuah faktor mental[1] terkait dengan penyerapan meditatif (Sanskerta: dhyana; Pali: jhāna) dari meditasi Buddhis. Menurut Buddhadasa Bhikkhu, pīti adalah sebuah kualitas merangsang, menggairahkan, dan memberi energi, yang berbeda dengan ketenangan sukha.[2]

Definisi

Pīti adalah sebuah saṅkhāra (formasi) penuh riang gembira yang tidak berkaitan dengan objek apa pun, sehingga praktisi tidak mencapainya melalui nafsu-keinginan. Istilah ini sering diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "rapture" (kegiuran) dan dibedakan dari "kebahagiaan" atau "kesenangan" meditatif yang bertahan lebih lama (Pali, Sanskerta: sukha), yang merupakan perasaan (vedanā) lebih halus yang muncul bersamaan dengan pīti.

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa pīti didefinisikan dalam empat batasan:[3]

  • Karakteristik: kepuasan (sampiyāyanalakkhaṇa).
  • Fungsi: untuk menyegarkan batin-dan-tubuh (kāyacittapīṇanarasā) atau mengembang/menyebar (pharaṇarasā).
  • Manifestasi: kegembiraan yang meluap (odagyapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: batin-dan-jasmani (nāmarūpa).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:

Kegembiraan (pīti) adalah faktor-mental yang membuat batin senang dan puas dengan objeknya. Kata lain dari kegembiraan (pīti) yang mempunyai makna sama adalah kegirangan (pāmojja) dan bersukacita (āmodanā). Dengan demikian, faktor-mental kegembiraan mengandung aspek emosional dalam intensitas tertentu. Kualitas rendah kegembiraan muncul pada saat seseorang tertawa terbahak-bahak. Kegembiraan yang seperti itu bersifat duniawi dan berkaitan dengan pancaindra. Dalam kualitasnya yang sempurna, kegembiraan menjadi faktor jhāna yang membuat batin puas dan mampu bersama dengan tanda-serupa (paṭibhāga nimitta) untuk jangka waktu berjam-jam tanpa berminat untuk “berpaling” ke objek-objek yang lain.

Kegembiraan jenis ini bersifat spiritual dan sudah terbebas dari dunia pancaindra (nirāmisā pīti). Teks-teks kita membedakan kegembiraan menjadi lima. Akan tetapi, hanya kegembiraan yang meresap ke seluruh tubuh (pharaṇapīti) yang disebut sebagai faktor jhāna. Pada saat menjadi akar dari absorpsi (jhāna), kegembiraan yang meresap mencapai perkembangannya melalui percampurannya dengan konsentrasi.

Faktor mental dalam meditasi

Dalam kitab-kitab komentar mengenai meditasi Buddhis, pengembangan jhāna (Sanskerta: dhyāna) dideskripsikan sebagai pengembangan lima faktor mental (cetasika) yang melawan lima rintangan batin (nīvaraṇa):[4]

Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna
Faktor jhāna (jhānaṅga) Jhāna
pertama
Jhāna
kedua
Jhāna
ketiga
Jhāna
keempat
Vitakka
(penempatan awal)

(vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi)

(diredakan)
Vicāra
(penempatan sinambung)
Pīti
(kegembiraan)

(vivekaja)

(samādhija;
ajjhattaṁ sampasādana)

(dipudarkan)
Sukha
(kebahagiaan)

(kāyena paṭisaṁvedeti)

(dilampaui;
adukkhamasukhaṁ upekkhāsatipārisuddhi)
Ekaggatā
(kemanunggalan,
keterpusatan)

(satipārisuddhi cittekaggatā)
Referensi: [5][6][7][8] 
  1. vitakka ("penempatan-awal pikiran") melawan kemalasan dan kelambanan/kantuk (thīna-middha)
  2. vicāra ("penempatan-sinambung pikiran") melawan keragu-raguan (vicikicchā)
  3. pīti (kegiuran) melawan niat buruk (byāpāda)
  4. sukha ("kebahagiaan non-indrawi") melawan kegelisahan/kebingungan dan kekhawatiran/penyesalan (uddhacca-kukkucca)
  5. ekaggatā ("keterpusatan/kemanunggalan pikiran") melawan keinginan indrawi (kāmacchanda)

Baik pīti maupun sukha lahir dari keterasingan jasmani dan keheningan mental pada jhāna pertama, kemudian lahir dari konsentrasi yang terpusat (samādhi) pada jhāna kedua, tapi hanya sukha yang dipertahankan pada jhāna ketiga sementara pīti memudar seiring dengan pengolahan keseimbangan/ketidakberpihakan batin yang murni dan penuh-perhatian (upekkhāsatipārisuddhi).

Kitab Visuddhimagga dari abad ke-5 M membedakan antara pīti dan sukha melalui gambaran pengalaman berikut:

Dan di mana pun keduanya berkaitan, kegembiraan/kegiuran [di sini, terjemahan Ñāamoli untuk pīti] adalah kepuasan saat mendapatkan objek yang diinginkan, dan kebahagiaan [sukha] adalah pengalaman aktual atas objek tersebut ketika didapatkan. Di mana ada kegembiraan [pīti], di situ ada kebahagiaan (kesenangan) [sukha]; tetapi di mana ada kebahagiaan [sukha] belum tentu ada kegembiraan [pīti]. Kegembiraan termasuk ke dalam gugusan formasi (saṅkhārakkhandha); kebahagiaan termasuk ke dalam gugusan perasaan (vedanākkhandha). Jika seseorang yang kelelahan di padang pasir melihat atau mendengar tentang sebuah kolam di tepi hutan, ia akan memiliki kegembiraan (pīti); jika ia pergi ke tempat teduh di hutan itu dan menggunakan airnya, ia akan memiliki kebahagiaan (sukha)....[9]
Hubungan nāmarūpa, pañcakkhandha, dan Abhidhamma
Kelompok Pañcakkhandha
(lima gugusan)
Abhidhamma Theravāda
Paramattha-sacca
(realitas hakiki)
nāma
(batin)
viññāṇakkhandha
(gugusan kesadaran)
89/121 citta
(kesadaran)
81 duniawi
8/40 adiduniawi
vedanākkhandha
(gugusan perasaan)
52 cetasika
(cetasika)
vedanācetasika
(cetasika perasaan)
saññākkhandha
(gugusan persepsi)
saññācetasika
(cetasika persepsi)
saṅkhārakkhandha
(gugusan formasi)
50 cetasika lainnya
rūpa
(rupa)
rūpakkhandha
(gugusan rupa)
28 rūpa
(rupa)
unsur pokok
24 unsur turunan
-
Nibbāna
(Nirwana)
Catatan:
  • Kelompok dhamma adalah saṅkhāra dan Nibbāna.
  • Seluruh saṅkhāra bersifat anicca dan dukkha.
  • Seluruh dhamma bersifat anatta.
  • Bedakan konteks saṅkhāra dengan saṅkhārakkhandha.

Referensi

  1. ^ Salah satu elemen, keadaan, atau pengaruh yang berkontribusi untuk menghasilkan suatu hasil.
  2. ^ Buddhadasa Bhikkhu (penulis), Santikaro Bhikkhu (penerjemah). Mindfulness With Breathing : A Manual for Serious Beginners. 1988, hlm. 69
  3. ^ Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 65–66. ISBN 978-623-94342-7-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Lihat, misalnya, Samādhaga Sutta (alias, Pañcagikasamādhi Sutta, AN 5.28) (Thanissaro, 1997b).
  5. ^ Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words. Somerville: Wisdom Publications. hlm. 296–8 (SN 28:1-9). ISBN 978-0-86171-491-9.
  6. ^ Sujato, Bhikkhu. "Majjhima Nikāya 111: Anupada Sutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2026-03-16.
  7. ^ "Suttantapiṭake Aṅguttaranikāyo § 5.1.3.8". MettaNet-Lanka (dalam bahasa Pali). Diarsipkan dari asli tanggal 2007-11-05. Diakses tanggal 2007-06-06.
  8. ^ Bhikkhu, Thanissaro (1997). "Samadhanga Sutta: The Factors of Concentration (AN 5.28)". Access to Insight. Diakses tanggal 2007-06-06.
  9. ^ Vsm. IV, 100 (Ñāamoli, 1999, hal. 142). Demikian pula, lihat juga komentar Abhidhamma, Atthasalini (Bodhi, 1980).

Sumber

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement