Prasasti Pagaruyung IV
| Prasasti Pagaruyung IV | |
|---|---|
Prasasti Pagaruyung IV | |
| Jenis | Prasasti batu |
| Bahan baku | Batu andesit |
| Sistem penulisan | Aksara Pasca-Pallawa |
| Dibuat | Abad ke-14 Masehi |
| Ditemukan | Gudam, Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat |
| Lokasi sekarang | Kompleks Prasasti Adityawarman |
| Bahasa | Sanskerta |
| Kebudayaan | Melayu Dharmāśraya / Minangkabau |
Pagaruyung IV Prasasti Pagaruyung IV (Sumatra) | |
Prasasti Pagaruyung IV, disebut juga dengan nama Prasasti Gudam I, adalah salah satu prasasti peninggalan masa pemerintahan Raja Adityawarman yang ditemukan di kawasan Gudam, Nagari Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Prasasti ini dipahatkan pada batu andesit dengan ukuran tinggi 100 cm, lebar 66 cm, dan tebal 15 cm, serta berhiaskan ornamen kepala kala dengan lidah menjulur di tengah mulutnya.[2]
Bahasa yang digunakan pada prasasti ini adalah bahasa Sanskerta, yang ditulis dengan menggunakan aksara Pasca-Pallawa. Terdapat tiga belas baris tulisan, namun bagian awal sulit dibaca karena mengalami keausan, sementara bagian bawah lebih jelas terbaca.[2]
Saat ini, Prasasti Pagaruyung IV disimpan di Kompleks Prasasti Adityawarman bersama beberapa prasasti lainnya.[3] Prasasti ini telah terdaftar sebagai benda cagar budaya dengan nomor registrasi inventaris 26/BCB-TB/SMB.[4]
Latar belakang
Prasasti Pagaruyung IV ditemukan di kawasan Gudam, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Pada masa kolonial Belanda, prasasti ini antara lain pernah dilaporkan oleh epigrafis N.J. Krom dalam Oudheidkundig Verslag (Laporan Kepurbakalaan) tahun 1912. Informasi dalam laporan tersebut sebagian besar disusun berdasarkan data inventaris kepurbakalaan yang dikumpulkan oleh L.C. Westenenk, Asisten Residen Belanda di Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi).[5]
Prasasti ini kemudian dipindahkan dari lokasi asal penemuannya dan kini disimpan di Kompleks Prasasti Adityawarman, Pagaruyung, bersama tujuh prasasti lain yang ditemukan di sekitar Nagari Pagaruyung serta sejumlah artefak lainnya.[6] Di situs tersebut, prasasti ini telah terdaftar sebagai benda cagar budaya dengan nomor inventaris 26/BCB-TB/SMB.[4]
Prasasti Pagaruyung IV merupakan salah satu bukti penting mengenai proses pembentukan identitas politik dan keagamaan Minangkabau klasik pra-Islam. Hal ini tercermin dalam bentuk sinkretisme dengan pengaruh India, melalui penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pasca-Pallawa.[4]
Deskripsi
Prasasti Pagaruyung IV dipahat pada batu andesit berwarna abu-abu kehitaman berbentuk persegi empat dengan permukaan agak rata. Prasasti ini memiliki ukuran tinggi 100 cm, dengan lebar 66 cm dan ketebalan 15 cm, dan dalam kondisi yang masih baik dan utuh.[2] Pada bagian atas prasasti ini terdapat ukiran ornamen kepala kala yang distilir, dan digambarkan memiliki lidah pada bagian tengah dari mulut kala tersebut.[7][8]
Terdapat 13 baris tulisan yang ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pasca-Pallawa, namun kondisinya saat ini secara umum telah aus. Pada bagian awal, yakni baris pertama hingga kedelapan, aksaranya cukup aus sehingga sangat sulit untuk dibaca. Sedangkan mulai baris kesembilan dan seterusnya, tulisannya relatif lebih jelas, meskipun secara keseluruhan interpretasi isi atau terjemahan lengkapnya belum dapat ditetapkan dengan baik.[2][9]
Isi
Istiawan (2006) melakukan upaya pembacaan awal dan menurutnya prasasti ini sebagian besar isinya sudah sulit untuk dibaca kembali sehingga interpretasinya menjadi kabur. Namun, dari bagian inskripsi yang masih dapat terbaca ditemukan kata "Adityawarman" pada baris ketiga belas, serta nama tempat "Sarawasa" pada baris kesembilan. Bentuk kata yang mirip, yaitu "Surawasawan", juga dijumpai pada Prasasti Saruaso I. Ia berpendapat bahwa, apabila pembacaannya benar, nama tempat tersebut kemungkinan merujuk pada lokasi di mana istana kerajaan pernah berdiri.[2][9][10]
Upaya pembacaan yang lebih baru dilakukan oleh Arlo Griffiths (belum diterbitkan) dan menghasilkan transkripsi yang jauh lebih lengkap, sebagaimana dikutip dalam penelitian Kusumadewi (2012). Menurut Griffiths, isi prasasti yang masih dapat dibaca ialah sebagai berikut:[11]
".... di hari, .... dan di tahun Śaka .... kekuasaan tujuh tanah emas .... seorang raja di bumi, Udayadityawarman dengan nilai-nilai kebajikannya.
Maitreyanatha yang agung, sebanding dengan salah satu yang berdiri di Bihara/ tempat tinggal keagamaan namun berlindung dalam kota, dalam kesempurnaan Malayapura, .... raja agung di antara para raja, Adityawarman, raja bijak dunia ...., memberikan nama kota.. yang sempurna, ketika matahari di antara para raja memimpin di Sriladana (cendana, tanah/kota). pada bulan penuh Karttika.
Nama julukan raja, berdiri dengan baik pada sebuah atom (?) dari permata Tathagata, Raja Udayadityawarman, [memberikan perintah untuk mendapatinya] negara dalam bahasa Sansekerta pada sebuah batu perintah."
Ornamen

Bagian atas prasasti ini memuat ornamen kepala kala yang distilir dengan lidah menjulur di tengah mulut. Chandra (2016) berpendapat bahwa motif tersebut kemungkinan berkaitan dengan aliran Buddha Tantrisme yang dianut oleh Adityawarman. Ornamen ini secara konteks tidak berhubungan langsung dengan isi prasasti. Ada beberapa prasasti Adityawarman lainnya yang juga memiliki ornamen serupa, namun isi dari setiap prasasti tersebut berbeda-beda.[12]
Pratiwi et al. (2021) berpendapat bahwa lambang kepala kala dipilih sebagai simbol pelindung batu prasasti, sekaligus pengingat bahwa mereka yang berbuat jahat akan bernasib buruk seperti kala tersebut.[13]
Witasari (2011) berpendapat bahwa ornamen tersebut merupakan identitas khusus yang dipilih oleh Adityawarman untuk menunjukkan eksistensinya. Lambang ini digunakan sang raja sebagai penanda serta pemersatu wilayah kekuasaannya. Tidak digunakannya lambang tersebut pada semua prasasti Adityawarman mengindikasikan bahwa tanda ini memiliki arti khusus dan tidak sekadar berfungsi sebagai hiasan.[12][14]
Interpretasi
Prasasti Pagaruyung IV diperkirakan berisi pernyataan resmi yang menegaskan kewibawaan dan kekuasaan Raja Adityawarman atas wilayah Pagaruyung, sekaligus peranannya dalam menjaga ajaran keagamaan yang dianut pada masa itu.[15] Kewibawaan Adityawarman sebagai seorang raja ditunjukkan melalui penyebutan gelarnya, yaitu Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa pada Prasasti Amoghapasa yang dikeluarkannya pada tahun 1347.[16] Sementara itu, pada Prasasti Pagaruyung IV, ia menegaskan bahwa kekuasaannya meliputi "tujuh tanah emas"—sebutan bagi pulau Sumatera (Swarnnadwipa atau Swarnnabhumi)—sebagai klaim atas luas wilayah yang berada di bawah kekuasaannya.[17]
Penyebutan kata Sarawasa juga penting, karena sesuai dengan kajian sejarah diperkirakan pada masa senjanya Adityawarman memusatkan kekuasaan di Nagari Saruaso, yang kini termasuk dalam Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Di tempat inilah sang raja menghabiskan sisa hidupnya dan mempersiapkan putranya, Ananggawarman, sebagai penerus takhtanya. Dalam konteks geopolitik Nusantara abad ke-14, posisi Adityawarman di pedalaman Sumatera sangat strategis untuk memperkuat kembali kekuasaan Melayu, setelah sebelumnya mengalami kemunduran dan tekanan, baik dari Palembang, Siam, maupun Jawa.[18]
Keberadaan Prasasti Pagaruyung IV tidak dapat dilepaskan dari konteks besar sejarah kerajaan Adityawarman. Ia menandai titik puncak integrasi budaya dan politik di dataran tinggi Sumatera Barat pada masa pra-Islam serta menjadi bukti penting proses pembentukan identitas politik setempat. Prasasti ini juga menunjukkan perkembangan tradisi masyarakat Hindu-Buddha di pedalaman Minangkabau, sebelum masuknya pengaruh Islam pada awal abad ke-16, sebagaimana dicatat dalam Suma Oriental (1512-1515) karya penjelajah Portugis Tomé Pires.[19][20]
Signifikansi dan upaya pelestarian
Prasasti ini memiliki nilai penting dalam menunjukkan keberadaan geografis dan administratif pemerintahan Adityawarman yang kuat di Minangkabau (Sumatera Barat) dan dunia Melayu pada pertengahan abad ke-14.[21][22] Prasasti ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang memperkuat kesadaran historis dan identitas daerah, serta sarana edukasi bagi masyarakat.[22] Prasasti ini telah didaftarkan sebagai bagian dari Cagar Budaya Peringkat Nasional di Kompleks Prasasti Adityawarman, melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 77/M/2019, yang diterbitkan pada tanggal 12 Maret 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.[23] Upaya perlindungan fisik seperti pemantauan tingkat pelapukan batu dan pembersihan permukaan prasasti dari lumut serta kotoran telah menjadi bagian dari kegiatan konservasi dasar di kompleks tersebut oleh juru pelihara prasasti Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumatera Barat.[24]
Lihat pula
Referensi
Catatan kaki
- ^ a b Krom 1912, hlm. 43.
- ^ a b c d e Kusumadewi 2012, hlm. 27, 100.
- ^ Kozok 2015, hlm. 36.
- ^ a b c Kusumadewi 2012, hlm. 100.
- ^ Krom 1912, hlm. 33.
- ^ Kurnia, Febby Eka; Monanda, Roberto (2015). Folklor Minangkabau: Mitos Batu-Batu dan Cerita Rakyat di Luhak Nan Tuo. Padang: Suri & BPA Sumbar. hlm. 24–25. ISBN 978-602-70688-3-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Setiawan et al. Oetomo, hlm. 115.
- ^ Chandra 2019, hlm. 4.
- ^ a b Istiawan 2006, hlm. 14.
- ^ Kozok 2015, hlm. 37.
- ^ Kusumadewi 2012, hlm. 27-29.
- ^ a b Chandra 2019, hlm. 9-10.
- ^ Pratiwi, Sunliesnyar & Adi 2024, hlm. 134.
- ^ Witasari 2011, hlm. 161.
- ^ Pratiwi, Sunliesnyar & Adi 2024, hlm. 132-33.
- ^ Kern, J.H.C., (1907), De wij-inscriptie op het Amoghapāça-beeld van Padang Candi(Batang Hari-districten); 1269 Çaka, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde.
- ^ Utomo, Bambang Budi (1994). Swarnnadwipa Abad XIII-XIV Masehi Penggunaan Atas Sumber Emas di Hulu Batanghari (Sumatra Barat). Berkala Arkeologi 14(2). hlm. 221–226. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Kozok 2015, hlm. 36, 41-43.
- ^ Anantha, Emilandinis; Isfa, Fauzia Annisa; Wahyuni, Meilinda Sri (2023). Sejarah Indonesia Kuno: Peninggalan Zaman Hindu Buddha Di Sumatra Barat, Kerajaan Pagaruyung". ;
- ^ Pires, Tomé; Rodrigues, Francisco (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515. McGill University Library. London : The Hakluyt Society. hlm. 163–165. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
- ^ Pratiwi, Sunliesnyar & Adi 2024, hlm. 121-125.
- ^ a b "Prasasti Pagaruyung IV". Pengetahuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-25.
- ^ "Daftar Cagar Budaya peringkat Nasional Tahun 2013-2022". Oktober 2022. Diakses tanggal 2025-09-19.
- ^ bpk3sumbar [@Instagram] (2025-09-04). "Observasi Keterawatan Prasasti di Kabupaten Tanah Datar" – via Instagram. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
Bacaan lanjutan
- Chandra, Dodi (2019). Lambang Raja Adityawarman (1347-1374 M): Sebuah Deskripsi Awal. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat. Diakses tanggal 2025-07-11.
- Istiawan, Budi (2006). Selintas Prasasti dari Melayu Kuno (PDF) (Edisi 1). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar (Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat dan Riau).
- Nastiti, Titi Surti (2015). Inskripsi Nusantara: Kajian Epigrafi Melayu Kuno. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional. ISBN 978-979-99057-8-9.
- Kozok, Uli (2015). A 14th Century Malay Code of Laws: The Nitisarasamuccaya (dalam bahasa Inggris). Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9789814459747.
- Krom, Nicolaas Johannes (1912). "Inventaris de Oudheden in de Padangsche Bovenlanden". Oudheidkundig verslag (dalam bahasa Belanda). 49. Weltevreden: Albrecht & Co.: 33–50. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kusumadewi, Sri Ambarwati (2012). "Adityawarman (1347-1374 Masehi): Kajian Epigrafi". Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia: 28. Diakses tanggal 2025-10-25. ;
- Pratiwi, Eka; Sunliesnyar, Hafiful Hadi; Adi, Ari Mukti Wardoyo Adi (2024). "Legitimasi Kekuasaan Ādityawarman di Kerajaan Malayu Berdasarkan Sumber-Sumber Prasasti". Berkala Arkeologi. 44 (2). doi:10.55981/jba.2024.6852. ISSN 2548-7132.
- Setiawan, Taufiqurrahman; Susilowati, Nenggih; Hidayati, Dyah; Soedewo, Ery; Oetomo, Repelita Wahyu; Chandra, Dody; Nasoichah, Churmatin; Koestoro, Lucas Partanda (2016). Sumatera Barat: catatan sejarah dan arkeologi. Medan: Balai Arkeologi Sumatera Utara. ISBN 978-979-751-682-6.
- Witasari, Vernika Hapri (2011). Lambang Raja pada Kerajaan Kuna di Kawasan Indonesia Abad XI- XV Masehi: Suatu Rekonstruksi Makna (PDF). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



