Prasasti Pagaruyung II
| Prasasti Pagaruyung II | |
|---|---|
| Prasasti Bukit Gombak II | |
Prasasti Pagaruyung II yang terbelah dua, foto tampak penuh dari atas | |
| Jenis | Prasasti batu |
| Bahan baku | Batu pasir berwarna coklat kekuningan |
| Ukuran | Segi empat berukuran tinggi=250 cm, lebar=116 cm, tebal=18 cm |
| Sistem penulisan | Aksara Pasca Pallawa |
| Dibuat | 1295 Saka (1373 M) |
| Tempat ditemukan | Jorong Bukit Gombak, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat |
| Lokasi sekarang | Kompleks Prasasti Adityawarman |
| Koordinat | 0°28′24,7″S 100°36′32,4″E / 0.46667°S 100.60000°E[1] |
| Bahasa | Bahasa Sanskerta dan Melayu Kuno |
Prasasti Pagaruyung II Prasasti Pagaruyung II (Sumatra) | |
Prasasti Pagaruyung II adalah sebuah prasasti peninggalan Raja Adityawarman, yang bertarikh 1295 Saka atau 1373 Masehi.[2] Prasasti ini juga dikenal dengan nama lain, yaitu Prasasti Bukit Gombak II.[3] Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Melayu Kuno, dengan memakai aksara Pasca Pallawa. Tulisan pada prasasti ini elok dan rapi, dengan goresan yang cukup dalam.[4][5] Kondisi prasasti tersebut mengalami kerusakan, sehingga sebagian besar tulisannya tak dapat dibaca dengan baik.[2]
Prasasti ini tercatat ditemukan pertama kali di daerah Bukit Gombak,[6] dan telah kini telah dipindahkan ke Kompleks Prasasti Adityawarman, yang terletak di Jorong Gudam, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Kompleks ini berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Pagaruyung dengan Batusangkar. Dalam kompleks ini berjajar pula sejumlah prasasti lain yang diberi penomoran Pagaruyung I hingga Pagaruyung VIII.[7]
Isi prasasti ini berupa ungkapan penghormatan dan pemujaan terhadap Adityawarman sebagai seorang penguasa yang dihormati. Prasasti ini resmi diakui sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Surat Keputusan (SK) Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010, yang diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada tanggal 8 Januari 2010.[8]
Latar belakang
Prasasti ini telah disebutkan dalam laporan resmi pemerintah kolonial Belanda, Inventaris der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden (1912), yang disusun oleh N.J. Krom berdasarkan data lapangan dari Asisten Residen L.C. Westenenk di Fort de Kock (sekarang Kota Bukitttinggi).[9] Dalam laporannya, Krom mengelompokkan batu-batu prasasti di daerah dataran tinggi Minangkabau ke dalam dua kategori: Adityawarman-inscripties, yaitu prasasti yang secara langsung menyebut nama raja Adityawarman, dan prasasti yang menggunakan bentuk aksara serupa namun tidak menyebutkan nama raja tersebut, yang disebutnya sebagai Adityawarman-schrift. Prasasti ini termasuk kelompok pertama dan tercantum pada inventaris nomor 24, halaman 42, dengan deskripsi: "Sebuah batu besar datar yang retak, di atasnya terdapat permulaan + sepuluh baris; di akhirnya memuat nama Adityawarman. Batu ini sekarang di Pagaruyung (= batu Pagaruyung No. 2)".[9]
Krom mencatat bahwa prasasti ini ditemukan di daerah Bukit Gombak, yang pada masa kolonial termasuk wilayah Onderafdeeling Fort van der Capellen.[10] Lokasi penemuan aslinya berada di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.[11] Pada masa berikutnya, prasasti ini dipindahkan dari lokasi asalnya dan kini disimpan di Kompleks Prasasti Adityawarman.[12]
Secara umum, isi prasasti memuat puji-pujian kepada Raja Adityawarman. Ia diduga telah mengeluarkan setidaknya dua puluh prasasti, di mana delapan belas di antaranya terletak di Kabupaten Tanah Datar. Menurut beberapa sejarawan, Adityawarman masih memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa; sehingga banyak model pahatan pada prasastinya dianggap terinspirasi dari tradisi raja-raja Jawa.[13]
Deskripsi fisik
Prasasti Pagaruyung II berukuran tinggi 250 sentimeter, lebar 116 sentimeter, dan tebal 18 sentimeter, dan tertulis di atas batu pasir kuarsa berwarna coklat kekuningan.[3][14] Prasasti ini sudah terpecah menjadi dua bagian, dan ia diletakkan rebah di samping Prasasti Pagaruyung I.[15] Dengan kondisi tersebut, prasasti ini tidak menghasilkan kalimat dan terjemahan yang utuh. Kondisi fisik prasasti ini kurang baik sehingga sulit untuk dibaca, akan tetapi diperkirakan terdapat 14 baris tulisan pada batu tersebut. Pada batu bagian atas, terdapat 9 baris tulisan di mana banyak kata-kata yang hilang. Namun, kondisi pada batu bagian bawah relatif lebih baik sehingga masih bisa dibaca dengan kalimat yang lebih utuh. Prasasti ini memiliki goresan berupa coretan yang dalam dan tulisannya dapat dikatakan indah dan rapi.[16][17]
Pada batu bagian atas, ditemukan kerusakan atau keausan tulisan pada sisi kiri, meskipun hanya beberapa huruf. Pada sisi kanan dan bagian tengah akhir prasasti kerusakannya lebih parah. Penyebab kerusakan pada sisi kanan adalah karena faktor keausan batu, sedangkan pada tengah akhir prasasti adalah karena adanya lubang-lubang buatan, yang mengganggu dan menghilangkan sebagian tulisan. Selain itu, ada beberapa baris tulisan hilang terutama pada sisi kiri bawah karena adanya bagian batu yang lepas atau hilang. Hal ini terlihat dari bentuk pecahan yang miring ke bawah pada sisi kanan, sehingga pada sisi ini muncul beberapa huruf, sebagai kelanjutan huruf sisi kiri yang hilang.[14]
Pada batu bagian bawah yang merupakan pecahan dari batu bagian atas, ternyata persambungannya tidak tersambungkan secara utuh. Hal ini menunjukkan bahwa ada bagian tulisan yang hilang. Akibatnya, tulisan pada baris terakhir batu bagian atas tidak berlanjut pada tulisan awal pada batu bagian bawah. Akan tetapi, batu bagian bawah mempunyai tulisan yang masih utuh dan relatif bagus, kecuali pada bagian awal yang terputus tersebut.[14]
Ornamen

Ornamen yang tertera pada Prasasti Pagaruyung II terlihat lebih kaya dibandingkan dengan Prasasti Pagaruyung I. Ornamen tersebut memperlihatkan sebuah bentuk yang menyerupai kepala kala yang distilir, dengan bingkai yang dihiasi dengan motif sulur-suluran dan pola geometris yang rumit.[18]
Kepala kala pada bagian atas prasasti ini memiliki bibir atau kumis tebal dengan lidah terjulur panjang. Kepala tersebut dari sisi kanan dan kirinya keluar sulur atau tanduk yang menyerupai lidah ular bercabang, serta terdapat pula ornamen lainnya yang membentuk bingkai yang padat dengan hiasan di dalamnya.[11] Bagian atas kepala kala berbentuk meruncing, sehingga jika disatukan dengan bingkainya akan membentuk stela.[19]
Pemakaian ornamen gambar pada prasasti-prasasti Adityawarman di Sumatera Barat merupakan suatu hal baru, karena para raja Melayu sebelumnya tidak pernah memahatkan pada prasasti mereka.[13][20]
Isi prasasti
Pada dasarnya, Prasasti Pagaruyung II ini berisi ungkapan penghormatan dan pemujaan terhadap kebesaran serta keagungan Adityawarman sebagai seorang raja yang berkuasa dan dihormati.[21]
Pada baris ke dua prasasti terdapat kata nrpati dan maharaja yang biasanya merupakan formulasi nama diri dan jabatan seseorang, namun banyak huruf di depan dan belakang kata-kata tersebut sudah aus sehingga tidak terbaca.[22] Pada baris ketujuh ditemukan kata saka yang mengindikasikan pertanggalan. Pada baris kedelapan disebutkan angka tahun yang menggunakan candra sengkala, menurut pembacaan Istiawan (2006) yaitu yakse (raksasa) yang berarti 5 dan dwara (gapura) yang berarti 9, sehingga jika digabungkan menghasilkan angka tahun --95 Saka. Dengan berasumsi prasasti ini sezaman dengan prasasti-prasasti Adityawarman lainnya, angka tahun yang memungkinkan adalah 1295 Saka atau 1373 Masehi.[11] Dengan demikian, prasasti ini diperkirakan dikeluarkan 2-3 tahun sebelum Adityawarman turun takhta, sebagaimana ditandai oleh Prasasti Saruaso I–yang memiliki angka tahun prasasti termuda–bertarikh 1375 M.[23]
Satu penggalan kata pada bagian akhir prasasti, yaitu sadaganyjanam, berarti 'manusia dari gunung'. Akan tetapi, karena bentuk fisik batu yang sudah tidak utuh, isi keseluruhan prasasti hingga kini tidak dapat diketahui secara menyeluruh maknanya, mengingat terjemahan yang dihasilkan meloncat-loncat.[24][25]
Alih aksara dan alih bahasa
Prasasti ini ditulis memakai aksara Pasca Pallawa dengan menggunakan bahasa Sanskerta dan Melayu Kuno.[11][21]
Alih aksara
Berikut ini adalah alih bahasa Prasasti Pagaruyung II, menurut Utomo (2007) dan Kusumadewi (2012):[11][26][27]
|
Utomo (2007)
1. Subhamastu //0//---jāto bha-ṅa |
Kusumadewi (2012)
|
Alih bahasa
Berikut ini adalah alih bahasa Prasasti Pagaruyung II menurut Istiawan (2006) dan Arlo Griffiths sebagaimana dikutip dalam Kusumadewi (2012):[11][5]
|
Istiawan (2006)
1. Selamat (bahagia) ... (kelanjutannya belum dapat diterjemahkan) |
Griffiths, dalam Kusumadewi (2012)
|
Signifikansi dan upaya pelestarian

Prasasti Pagaruyung II saat ini masih berfungsi sebagai sarana pendidikan dan pengenalan sejarah untuk masyarakat sekitar maupun umum.[21] Tulisan-tulisan yang terukir pada batu-batu ini bukan hanya berfungsi sebagai dokumen pemerintahan, tetapi juga sebagai saksi sejarah yang memperlihatkan kemajuan budaya, agama, dan bahasa pada masa itu.[16] Walaupun beberapa bagian prasasti telah rusak, keberadaan prasasti ini dan prasasti-prasasti lainnya di Kompleks Prasasti Adityawarman menjadi sumber penting untuk menelusuri jejak peradaban Melayu Kuno dan masa kejayaan Kerajaan Adityawarman.[28]
Pengelolaan dan perawatan prasasti ini di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III (dahulu Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat). Sebagai situs arkeologi yang dilindungi, kompleks prasasti ini tetap menarik perhatian peneliti, sejarawan, dan menjadi destinasi wisata edukatif untuk memahami sejarah kebudayaan Sumatera Barat.[28] Upaya konservasi teknis yang telah dilakukan balai ini meliputi pembangunan cungkup sebagai atap pelindung dari cuaca, serta memasang pagar besi di sekeliling kompleks untuk mencegah kerusakan, termasuk dari hewan liar. Pada tahun 2022 dilakukan upaya penataan beberapa kawasan prasasti Adityawarman di sekitar Kota Batusangkar berupa perbaikan infrastruktur, guna meningkatkan aksesibilitas bagi peneliti dan pengunjung umum.[28][29]
Prasasti ini juga telah resmi diakui sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Surat Keputusan (SK) Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010, yang diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada tanggal 8 Januari 2010.[8]
Lihat pula
- Daftar prasasti di Sumatera Barat
- Daftar Prasasti Nusantara
- Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar
- Adityawarman
- Fort van der Capellen
Referensi
- ^ Utomo & Sudarman 2018, hlm. 86.
- ^ a b Kozok 2015, hlm. 37.
- ^ a b Witasari 2011, hlm. 46.
- ^ Iriyani, Dania (4 Maret 2014). "Prasasti Pagaruyung II". © 2014 Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. http://kebudayaanindonesia.net/. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-20. Diakses tanggal 25 September 2016. ;
- ^ a b Istiawan 2006, hlm. 10.
- ^ Krom, N.J. 1912, hlm. 42.
- ^ Istiawan, Budi 2006, hlm. 1-3.
- ^ a b "Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010". 2023-02-06. Diakses tanggal 2025-08-26.
- ^ a b Krom 1912, hlm. 33.
- ^ Krom 1912, hlm. 41-42.
- ^ a b c d e f Kusumadewi 2012, hlm. 19-20.
- ^ Istiawan, Budi 2006, hlm. 3.
- ^ a b Chandra 2019, hlm. 8.
- ^ a b c Istiawan 2006, hlm. 9.
- ^ Suhadi 1990, hlm. 127.
- ^ a b Rahmawati, Nadia; Susanti, Lr. Retno (30 November 2024). "Warisan Kerajaan Pagaruyuang :Studi Historis-Antropologis". Banda Historia :Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya. 2 (2): 45. doi:https://doi.org/10.62176/bastoria.v2i2. ; ;
- ^ Istiawan 2006, hlm. 9-10.
- ^ Chandra 2019, hlm. 3.
- ^ Kusumadewi 2012, hlm. 46.
- ^ Witasari 2011, hlm. 125.
- ^ a b c Adryamarthanino, Verelladevanka; Indriawati, Tri (2022-12-20). "Batu Prasasti Pagaruyung II". Kompas.com. Kompas Cyber Media. Diakses tanggal 2025-10-18.
- ^ Istiawan 2006, hlm. 19-11.
- ^ Istiawan 2006, hlm. 11.
- ^ Istiawan 2006, hlm. 10-11.
- ^ Ruang Koleksi BPCB Sumatera Barat (2021-05-19). "Replika Prasasti Pagaruyung II". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-10-18.
- ^ Witasari 2011, hlm. 124.
- ^ Utomo 2007, hlm. 66.
- ^ a b c Roza, Darwyta (2024-11-29). "Kompleks Prasasti Pagaruyung, Jejak Sejarah Adityawarman melalui 9 Prasasti Kuno". Diakses tanggal 2025-10-19.
- ^ el Fitra, Iggoy. "Penataan Kawasan Prasasti Adityawarman". antarafoto.com. Antara Foto. Diakses tanggal 2025-10-18.
Bacaan lanjutan
- Chandra, Dodi (2019-02-22). "Lambang Raja Adityawarman (1347-1374 M): Sebuah Deskripsi Awal". Scribd. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat. Diakses tanggal 2025-10-04. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Istiawan, Budi (2006). Selintas Prasasti dari Melayu Kuno (PDF). Batusangkar: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar [Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat dan Riau]. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kozok, Uli (2015). A 14th Century Malay Code of Laws: The Nitisarasamuccaya (dalam bahasa Inggris). Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9789814459747. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Krom, Nicolaas Johannes (1912). "Inventaris de Oudheden in de Padangsche Bovenlanden". Oudheidkundig verslag (dalam bahasa Belanda). 49. Weltevreden: Albrecht & Co. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kusumadewi, Sri Ambarwati (2012). Adityawarman (1347-1374 Masehi): Kajian Epigrafi (PDF). Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Arkeologi, Universitas Indonesia. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Suhadi, Machi (1990). "Silsilah Adityawarman" (PDF). Kalpataru, Majalah Arkeologi. No. 9 (Edisi "Saraswati Esai-esai Arkeologi"). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Utomo, Bambang Budi (2007). Prasasti-Prasasti Sumatra. Pusat Penelitian dan Pengembangan Nasional, Badang Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Utomo, Bambang Budi; Sudarman (2018). "Budaya India di Minangkabau: Studi Analisis Terhadap Artefak di Tanah Datar dan Wilayah Sekitarnya". Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. VIII (16). UIN Imam Bonjol Padang. doi:https://doi.org/10.15548/khazanah.v0i0.76. ISSN (print), ISSN: 2614-3798 (online) 2339-207X (print), ISSN: 2614-3798 (online). ; ; Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Witasari, Vernika Hapri (2011). Lambang Raja pada Kerajaan Kuna di Kawasan Indonesia Abad XI- XV Masehi: Suatu Rekonstruksi Makna (PDF). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



