Aliran seni feminis

Gerakan seni feminis adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada upaya dan pencapaian para feminis di berbagai negara dalam menghasilkan karya seni yang merefleksikan kehidupan serta pengalaman perempuan, sekaligus mengubah landasan dan struktur produksi serta persepsi seni kontemporer. Gerakan ini juga berfokus pada peningkatan visibilitas perempuan dalam sejarah seni dan praktik kesenian. Gerakan ini menantang hierarki tradisional dalam dunia seni yang menempatkan seni rupa seperti patung dan lukisan sebagai bentuk yang lebih tinggi dibandingkan kerajinan yang sering diasosiasikan dengan pekerjaan perempuan, seperti menenun, menjahit, tambal sulam, dan keramik. Sejumlah seniman perempuan menggunakan bahan nonkonvensional dalam karya patung lunak serta menerapkan teknik seperti pengisian, penggantungan, dan penggelaran kain untuk merepresentasikan pengalaman hidup mereka.[1]

Tujuan gerakan seni feminis meliputi dekonstruksi hierarki tradisional dalam dunia seni, menghadirkan representasi perempuan yang lebih setara, serta memperluas pemahaman tentang makna dan fungsi seni. Gerakan ini juga memberi ruang bagi pihak-pihak yang menentang narasi dominan dalam dunia seni yang sering dianggap berpusat pada perspektif laki-laki.[2]

Gerakan ini berkembang seiring dengan perkembangan Feminisme dan kerap melibatkan bentuk pengorganisasian mandiri, seperti kelompok peningkatan kesadaran (consciousness-raising groups). Gerakan ini mulai muncul pada dekade 1960-an dan berkembang pada 1970-an sebagai bagian dari Gelombang feminisme kedua. Dalam sejumlah kajian, gerakan ini disebut sebagai salah satu gerakan internasional yang berpengaruh pada periode pascaperang.[3]

Gerakan seni multidisipliner

Seni feminis (gerakan seni feminis) kerap memadukan unsur dari berbagai aliran, seperti seni konseptual, seni tubuh (body art), dan seni video, ke dalam karya-karya yang menyampaikan pengalaman perempuan serta isu kesetaraan gender.[4]

Seni pertunjukan (performance art)

Mary Schepisi, Beauty Interrupted, 2011

Sejak dekade 1970-an hingga abad ke-21, seni pertunjukan memiliki keterkaitan erat dengan gerakan seni feminis. Unsur pertunjukan dipandang sebagai medium yang efektif bagi seniman perempuan untuk menyampaikan pesan yang bersifat fisik dan langsung.[4] Interaksi antara seniman dan penonton dalam seni pertunjukan juga memberi dampak emosional yang kuat.[5][6] Dalam praktik ini, tubuh seniman sering menjadi bagian integral dari karya, sehingga batas antara pencipta dan karya menjadi kabur. Tema yang diangkat antara lain patriarki, norma gender, dan penindasan terhadap perempuan.[7][8]

Regina José Galindo adalah seniman pertunjukan asal Guatemala yang menggunakan tubuhnya sebagai medium dalam praktik seni (body art).[9] Karyanya menampilkan representasi tubuh perempuan, termasuk tubuh yang dikaitkan dengan pengalaman marginalisasi dan kekerasan dalam ranah privat maupun publik. Melalui karya-karyanya, Galindo membahas tema seksualitas perempuan, standar kecantikan, ras, serta kekerasan domestik dan politik.[10][11]

Karen Finley, seniman pertunjukan yang dikenal melalui karya-karya yang menampilkan tubuh tanpa busana dan narasi tentang kekerasan seksual, pelecehan seksual terhadap anak, AIDS, kekerasan domestik, dan rasisme.[12][13] Dalam pertunjukannya, tubuh diposisikan sebagai medium untuk membahas pengalaman korban serta isu penindasan.[14] Karyanya menuai perdebatan, sebagian kritik menyebut pertunjukannya bersifat pornografis,[15][16] Finley menyatakan bahwa tubuh perempuan dapat merepresentasikan pengalaman kolektif perempuan yang mengalami penindasan.[17]

Kemunculan seni grafis digital yang diciptakan oleh Rupert García merepresentasikan seni feminis sekaligus sarana komunikasi politik yang mendukung advokasi feminis kulit hitam dan politik yang dilakukan oleh Angela Davis.

Pada tahun 1975, Carolee Schneemann menampilkan karya berjudul Interior Scroll, sebuah pertunjukan di mana ia membaca teks dari gulungan kertas yang sebelumnya disembunyikan di dalam tubuhnya. Karya ini kerap digunakan sebagai bahan kajian dalam seni pertunjukan dan seni feminis sebagai contoh penggunaan tubuh sebagai medium dalam praktik seni kontemporer.[18][19]

Instalasi The Dinner Party (1974–1979) karya Judy Chicago menampilkan meja berbentuk segitiga dengan 39 penataan tempat duduk yang didedikasikan bagi tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah. Setiap desain pada piring di meja tersebut dirancang secara simbolis untuk merayakan pencapaian perempuan dan menyoroti minimnya pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam sejarah seni.[20][21]

Marina Abramović menampilkan Rhythm 0 pada 1974, sebuah pertunjukan durasional di mana penonton diizinkan menggunakan 72 objek terhadap dirinya sesuai pilihan mereka. Pertunjukan ini membahas relasi kuasa, kerentanan, dan objektifikasi tubuh.[22][23]

Orlan menjalankan proyek The Reincarnation of Saint Orlan sejak 1990, sebuah pertunjukan berkelanjutan di mana wajahnya mengalami serangkaian prosedur bedah plastik untuk menyesuaikan dengan standar estetika dalam sejarah seni Barat. Karya ini mengeksplorasi isu identitas serta hubungan antara seni dan teknologi, dengan menyoroti standar kecantikan dan komodifikasi tubuh perempuan.[24]

Guerrilla Girls, sebuah kolektif anonim seniman feminis, menggunakan seni pertunjukan sejak 1980-an untuk menyoroti ketimpangan gender dan ras dalam industri seni.[25] Dalam karya The Advantages of Being a Woman Artist, mereka menampilkan daftar satir mengenai keuntungan yang dimiliki seniman laki-laki dibandingkan seniman perempuan, sambil mengenakan topeng gorila sebagai identitas kolektif.[26]

Seni tubuh (body art)

Seni tubuh dapat berupa tato, tindik, branding, scarification, dermal anchor, serta seni tiga dimensi atau modifikasi tubuh seperti manik-manik. Seni tubuh juga dapat menjadi bentuk seni pertunjukan (performance art) dan sering bersinggungan dengan seni feminis. Sebagai contoh film Nil Yalter, The Headless Woman (Belly Dance) menyoroti perut seorang perempuan yang ditulisi teks. Perempuan tersebut terus menulis teks pada perutnya, yang merupakan bentuk seni tubuh (body art). Saat ia memulai tarian perutnya, yang terlihat hanyalah daging lembut perutnya yang bergerak berombak beserta teks yang berdenyut.[27]

Contoh lain adalah Cut Piece oleh Yoko Ono. Pada 1964, Ono menampilkan Cut Piece, di mana ia mengundang penonton untuk memotong bagian pakaian yang ia kenakan dengan gunting saat duduk di atas panggung mengenakan gaun terbaiknya. Pertunjukan ini menyinggung isu kerentanan, agensi, dan objektifikasi perempuan.[28]

Barbara Kruger dalam karyanya Your Body is a Battleground (1989) menggabungkan citra hitam-putih wajah perempuan dengan teks tegas "Your Body is a Battleground." Dalam esainya, Kruger membahas topik seperti komodifikasi tubuh, hak reproduksi, dan kontrol atas tubuh perempuan.[29]

Suzanne Lacy, In Mourning and In Rage (1977) melibatkan sekelompok perempuan yang berbaring di rumput sebuah pemakaman di Los Angeles membentuk simbol perdamaian raksasa. Pertunjukan ini merupakan protes terhadap kekerasan terhadap perempuan, khususnya pembunuhan yang dilakukan oleh Hillside Strangler pada masa itu.[30]

Seni video (video art)

Mulai akhir 1960-an, seni video muncul di dunia seni sebagai bentuk seni unik yang menggunakan teknologi video sebagai media visual dan suara.[31] Berbeda dengan seni klasik dan tradisional seperti seni lukis dan seni patung, seni video tidak hanya didominasi oleh laki-laki. Dengan teknologi baru, seniman perempuan dapat menceritakan pengalaman mereka sendiri, menghasilkan karya yang menjadi arsip sejarah feminis, sementara video memberi gerakan seni feminis kesempatan memperluas jangkauan audiens melalui media massa. Beberapa seniman perempuan yang mengekspresikan feminisme melalui seni video antara lain Pipilotti Rist, Shirin Neshat, Martha Rosler, Chantal Akerman, Marleen Gorris, Joan Jonas, dan Sadie Benning.

Karya Martha Rosler berjudul Semiotics of the Kitchen (1975) merupakan video pertunjukan yang menampilkan parodi acara memasak televisi. Daripada menonjolkan keterampilannya, Rosler mengekspresikan kemarahan dan frustrasi melalui gerakan dramatis dengan peralatan dapur. Karya ini mengkritik norma gender tradisional dan gagasan bahwa perempuan seharusnya tunduk serta terbatas perannya di ranah domestik.[32]

Karya Dara Birnbaum, Technology/Transformation: Wonder Woman (1978–1979), menganalisis acara televisi populer Wonder Woman dengan menyorot dan memutar ulang adegan di mana tokoh utama menunjukkan persona heroiknya. Melalui penyuntingan video, Birnbaum mengeksplorasi bagaimana perempuan digambarkan di media dan menantang batasan serta standar yang dikenakan pada karakter perempuan.[33]

Seniman dan kelompok berpengaruh

Seniman: Abad ke-19

Seniman: Abad ke-20 dan ke-21

Kelompok seniman

Referensi

  1. ^ Gipson, Ferren (2022). Women's work: from feminine arts to feminist art. London: Frances Lincoln. ISBN 978-0-7112-6465-6.
  2. ^ Kennedy, Victoria (July 19, 2017). "What is Feminist Art?". canvas.saatchiart.com. Diakses tanggal March 28, 2019.
  3. ^ Jeremy Strick, director of the Museum of Contemporary Art in Los Angeles in the Washington Post, 2007.
  4. ^ a b "Feminist Art Movement Overview". The Art Story. Diakses tanggal 2023-05-15.
  5. ^ Filizzola Bermúdez, Juan David; Morillo Peña, María José (2025-11-01). "Performance and catharsis: Interactions between performing arts and mental health". The Arts in Psychotherapy. 96: 102392. doi:10.1016/j.aip.2025.102392. ISSN 0197-4556.
  6. ^ Agres, Kat R.; Chen, Yifan (2025-05-02). "The impact of performing arts on mental health, social connection, and creativity in university students: a Randomised Controlled Trial". BMC Public Health (dalam bahasa Inggris). 25 (1): 1628. doi:10.1186/s12889-025-22552-3. ISSN 1471-2458. PMC 12046858. PMID 40316963. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ^ Bonner, Hannah (2019). "Performing Archives in the Present: Exploring Feminist Performance Art, The Politics of (In)Visibility, and the Archive in #MeToo and #TimesUp". South Central Review. 36 (2): 33–51. ISSN 0743-6831.
  8. ^ Krupa, Henrieta. (2025). Art As Activism: Contemporary Feminist Artistic Representations of Economic Inequality
  9. ^ "Regina José Galindo | MoMA". The Museum of Modern Art (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  10. ^ Lavery, Jane; Bowskill, Sarah (2012). "The representation of the female body in the multimedia works of Regina José Galindo". Bulletin of Latin American Research. 31 (1): 51–64. doi:10.1111/j.1470-9856.2011.00606.x. ISSN 0261-3050. PMID 22216473.
  11. ^ Lainfiesta, Ximena (2019). "Citizenship through Regina José Galindo's Performance: Testimonies of Violence against Women in Guatemala" (dalam bahasa Inggris). doi:10.13140/RG.2.2.31449.26728.
  12. ^ "Karen Finley: "Straight from the gut"". About JSTOR (dalam bahasa American English). 2013-02-25. Diakses tanggal 2026-02-28.
  13. ^ Potier, Beth (2002-02-14). "Karen Finley provokes, reveals in lecture". Harvard Gazette (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.
  14. ^ Striff, Erin (1997). "Bodies of Evidence: Feminist Performance Art". Critical Survey. 9 (1): 1–18. ISSN 0011-1570.
  15. ^ Schuler, Catherine (1990). "Spectator Response and Comprehension: The Problem of Karen Finley's "Constant State of Desire"". TDR (1988-). 34 (1): 131–145. doi:10.2307/1146012. ISSN 1054-2043.
  16. ^ Halperin, Julia (2023-12-06). "Conservatives Called Her Artwork 'Obscene.' She's Back for More". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2026-02-28.
  17. ^ Curtis, Cathy (1994-12-01). "Karen Finley Manages to Keep Body and Soul Together : Art: Her blend of rage, compassion and down-home detail surfaces as she tells a UCI audience about her controversial performance pieces". Los Angeles Times (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.
  18. ^ "Carolee Schneemann | Interior Scroll, 1975". Art Basel (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  19. ^ "Interior Scroll | performance piece by Schneemann | Britannica". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  20. ^ "The Dinner Party by Judy Chicago". Brooklyn Museum (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.
  21. ^ "Selected work « Judy Chicago" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.
  22. ^ "Rhythm 0 - Marina Abramović". IMMA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  23. ^ Constantine, R.. (2023). The object is the thing: objecthood and the female-identifying body in performance.
  24. ^ O'Bryan, Jill (1997). "Saint Orlan Faces Reincarnation". Art Journal. 56 (4): 50–56. doi:10.2307/777720. ISSN 0004-3249.
  25. ^ Lesso, Rosie (2020-08-06). "The Guerrilla Girls: Using Art to Stage a Revolution". TheCollector (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  26. ^ "The Advantages of Being a Woman Artist by Guerrilla Girls". www.nga.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  27. ^ Güner, Fisun (2016-10-02). "Feminist art of the 1970s: knives, nudity and terrified Men". Fisun Güner (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2026-02-28.
  28. ^ "Yoko Ono. Cut Piece. 1964 | MoMA". The Museum of Modern Art (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  29. ^ "Your body is a battleground". Art Basel (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  30. ^ "In Mourning and In Rage (1977)". SUZANNE LACY (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.
  31. ^ Daniels, Dieter (2007-02-15). "Television—Art or Anti-art?". mediaartnet.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  32. ^ "Martha Rosler. Semiotics of the Kitchen. 1975 | MoMA". The Museum of Modern Art (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-28.
  33. ^ "Technology/Transformation: Wonder Woman 1978/9". Brooklyn Museum (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-28.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement