Sahabat Prima Abadi

PT Sahabat Prima Abadi
Bus pariwisata Sahabat Prima Abadi dengan karoseri Jetbus5 produksi Adi Putro.
Didirikan1972
Kantor pusatJalan Otista Blok Jambe, Tegalsari, Plered, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Wilayah layananJawa
Jenis layanan
Trayek2
Tujuan akhir
Jenis bahan bakarDiesel
Direktur UtamaHadi Wiyana
Situs websahabatbis.co.id

PT Sahabat Prima Abadi adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Didirikan oleh keluarga Hadi Wiyana pada tahun 1972, Sahabat melayani bus antarkota antarprovinsi dengan trayek Kota CirebonDKI Jakarta; bus pariwisata yang melayani Jawa, bus antar-jemput (Sahabat Shuttle), bus karyawan, dan sewa kendaraan. Kantor pusat dan garasi utama perusahaan otobus ini terletak di Jalan Otista Blok Jambe, Tegalsari, Plered, Cirebon.

Sejarah

Cikal bakal PO Sahabat berawal dari sebuah perusahaan otobus bernama Pedoman, yang didirikan sebagai entitas tunggal oleh keluarga Hadi Wiyana di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tidak terdapat catatan pasti mengenai tahun berdirinya Pedoman, tetapi perusahaan ini menjadi salah satu pelopor layanan angkutan antarkota dari wilayah Pantura Jawa Barat. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan usaha, Pedoman kemudian mengalami perubahan identitas dan berganti nama menjadi PO Kesatuan pada sekitar awal dekade 1970-an, menandai fase baru dalam pengelolaan dan arah bisnis perusahaan keluarga tersebut.[1]

Pada kurun waktu 1972 hingga 1973, PO Kesatuan menghadapi konflik internal yang cukup serius, terutama terkait perbedaan pandangan mengenai arah bisnis serta dinamika hubungan keluarga di dalam manajemennya. Perpecahan ini berujung pada pembubaran Kesatuan sebagai satu entitas tunggal dan melahirkan dua perusahaan otobus yang berdiri secara terpisah, memiliki manajemen berbeda, tetapi tetap bersaing di trayek yang sama.[2][3] Dua perusahaan hasil pecahan tersebut adalah PO Bhinneka Sangkuriang, yang dikelola oleh keluarga Aldo Fantinus Wiyana,[4] serta PO Sahabat, yang tetap berada di bawah pengelolaan keluarga Hadi Wiyana.[2][3]

Sejak awal berdirinya sebagai perusahaan mandiri, Sahabat secara konsisten melayani trayek utama CirebonJakarta, yang merupakan salah satu jalur transportasi tersibuk di wilayah Pantura Jawa Barat. Dengan fokus pada trayek ini, Sahabat perlahan membangun citra sebagai bus andalan masyarakat pesisir utara, khususnya bagi penumpang yang bergantung pada moda transportasi darat antarkota. Namun, dominasi di jalur tersebut tidak diraih dengan mudah karena Sahabat harus berhadapan dengan persaingan yang sangat ketat dari perusahaan otobus lain yang telah lebih dulu mapan.[5]

Tantangan terbesar Sahabat datang dari pesaing-pesaing kuat, termasuk "saudara kandungnya" sendiri, Bhinneka Sangkuriang, yang beroperasi di trayek serupa.[1] Selain itu, Sahabat juga harus bersaing dengan PO lain seperti Setianegara—yang kemudian unit-unitnya menjadi Setia Negara di bawah Hiba Group[6]—serta Luragung Jaya dari Kuningan dan Madona. Persaingan ini tidak hanya terjadi dalam hal jumlah armada dan jadwal keberangkatan, tetapi juga dalam perebutan kepercayaan penumpang di jalur Pantura yang terkenal padat dan penuh risiko.[7][8]

Memasuki era 1990-an, perjalanan Sahabat diwarnai berbagai permasalahan, khususnya terkait kondisi armada dan perilaku kru di lapangan. Pada tahun 1995, Sahabat diketahui masih mengoperasikan sejumlah bus tua yang dinilai tidak laik jalan dan kerap menjadi sasaran penertiban oleh Dinas Perhubungan bersama operator lain seperti Setianegara dan Hiba Utama. Operasi gabungan yang dilakukan pada November 1995 bahkan berujung pada penyegelan sejumlah kendaraan, karena kondisi teknis bus yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan membahayakan keselamatan penumpang.[9]

Pada tahun yang sama, tepatnya 14 April 1995, Sahabat kembali tersorot setelah tujuh bus milik Sahabat, Bhinneka, dan Garuda Mas dikenai sanksi berupa larangan beroperasi di trayek serta pembatasan ekspansi. Sanksi tersebut dijatuhkan karena pelanggaran ketentuan angkutan Lebaran, termasuk praktik kenaikan tarif yang dianggap tidak wajar.[10] Selain pelanggaran administratif, isu keselamatan juga mencuat akibat sebuah kecelakaan yang melibatkan bus Sahabat bernomor polisi E 7908 AA dengan bus PO Kosub F 7617 FB, yang terjadi karena kedua kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dan saling mendahului, menyebabkan tiga orang meninggal dunia.[11]

Meski menghadapi berbagai insiden dan kritik tajam, Sahabat tidak sepenuhnya menutup mata terhadap permasalahan tersebut. Sebuah kajian yang dilakukan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa baik Sahabat maupun Bhinneka Sangkuriang bersedia belajar dari pengalaman buruk terkait keselamatan dan kenyamanan penumpang yang terjadi sejak era 1990-an hingga 2010-an. Sahabat kemudian menyatakan komitmen untuk bertanggung jawab penuh apabila terjadi kecelakaan lalu lintas, termasuk membiayai pengobatan korban, serta menjalankan kewajiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang angkutan jalan.[12]

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan bahwa Sahabat telah mengambil langkah-langkah perbaikan, seperti menindak pengemudi yang melanggar aturan perusahaan, bertanggung jawab atas kerugian penumpang akibat kecelakaan atau bus mogok di perjalanan, serta membantu penumpang yang kehilangan atau tertukar barang bawaan. Namun demikian, studi tersebut merekomendasikan agar Sahabat memiliki pengawas yang lebih terampil untuk memantau kinerja pengemudi, mengingat masih sering ditemui pelanggaran regulasi internal. Selain itu, Sahabat disarankan melakukan pengecekan armada secara ketat sebelum beroperasi dan secara bertahap mengganti bus yang hampir dikategorikan tidak laik jalan.[12]

Atas dedikasinya dalam melayani angkutan jalan selama lebih dari tiga dekade, pada 20 Desember 2013, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menganugerahkan Lifetime Achievement bidang Angkutan Jalan kepada Hadi Wiyana.[13] Selanjutnya, sejak 2015, perusahaan ini resmi berbadan hukum perseroan terbatas dengan nama PT Sahabat Prima Abadi. Sejak perubahan status tersebut, Sahabat melakukan ekspansi layanan dengan menghadirkan bus pariwisata, layanan antar-jemput Sahabat Shuttle, bus karyawan, serta jasa sewa mobil, menandai transformasi perusahaan dari operator bus tradisional menjadi penyedia layanan transportasi yang lebih beragam dan modern.[14]

Armada

Sahabat tergolong tidak pilih-pilih sasis maupun karoseri bus. Berdasarkan data operasional terbaru, bus-bus modern Sahabat mengandalkan sasis Hino RK8 R260 dan Isuzu NQR (bus sedang). Sementara untuk karoseri busnya menggunakan Jetbus berbagai generasi produksi Adi Putro, Zeus dan Rexus produksi Piala Mas, dan Laksana Legacy berbagai generasi produksi Laksana.[15][16]

Trayek

Bus antarkota

Sejak awal didirikan, Sahabat menjadikan bus antarkota antarprovinsi sebagai lini bisnis utamanya. Sahabat memiliki trayek utama Kota CirebonDKI Jakarta. Saat ini, kejayaan bus yang dirujuk sebagai "Bus Panturaan" sudah menurun akibat kehadiran Jalan Tol Trans-Jawa dan banyaknya kendaraan pribadi serta bus antar-jemput yang makin diminati. Dalam kondisi jalur utara Jawa yang semakin sepi, Sahabat tetap mengoperasikan armadanya untuk melayani masyarakat yang masih bergantung pada transportasi umum di trayek ini, terutama pekerja, pelajar, dan warga lokal yang membutuhkan mobilitas harian. Perusahaan ini masih menjalankan rute Cirebon menuju Jakarta via lintas utara, dengan layanan ke beberapa titik akhir di DKI Jakarta beserta Banten[a] seperti Pelabuhan Merak, Kota Cilegon (dengan tarif Rp120.000), Kampung Rambutan, dan Pulo Gebang (keduanya tarif sekitar Rp80.000), sambil mempertahankan fleksibilitas tarif yang terkadang masih bisa ditawar oleh penumpang terutama untuk jarak dekat.[5]

Per 2024, Sahabat hanya mengoperasikan sekitar 10 unit bus yang jalan setiap hari, tetap berusaha melayani rute AKAP-nya dengan jam operasi menyesuaikan permintaan penumpang — biasanya dari pagi sekitar jam 05.00 hingga siang — tanpa jadwal tetap seperti armada bus modern lainnya. Kepala Bagian Operasional, Sunarto, menjelaskan bahwa Sahabat memilih tetap beroperasi di rute Pantura karena ingin memberikan pilihan transportasi terjangkau bagi masyarakat setempat, apalagi di kawasan dari Patrol, Indramayu hingga Cikopo, Bungursari, Purwakarta, penumpang masih ada setiap hari. Walaupun jumlah penumpang jauh berkurang dibanding masa jayanya—dulu bisa penuh hingga 80 orang per trip—Sahabat optimistis tetap eksis meskipun menghadapi persaingan dari jalan tol dan bus antar-jemput ilegal yang makin marak.[5]

Keterangan
  1. ^ Tidak termasuk KabupatenKota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan karena masuk dalam ranah angkutan antarkota untuk DKI Jakarta.

Bisnis nontrayek

Bus antar-jemput

Bus antar-jemput dari Sahabat menggunakan jenama Sahabat Shuttle, melayani rute BandungCirebon. Armadanya menggunakan armada standar bus antar-jemput seperti Toyota HiAce dan Isuzu Elf. Di Cirebon, Sahabat Shuttle dilayani di tiga pool penjemputan: Harjamukti, Plered, dan Kedawung; sementara di Bandung, Sahabat Shuttle dilayani di empat pool penjemputan: Cihampelas, Pasteur, Babakan Ciparay, dan Buahbatu.[17]

Bus pariwisata

Bus pariwisata Sahabat Prima Abadi dengan karoseri Legacy SR-3 Neo Ultimate R produksi Laksana

Selain melayani bus antarkota, Sahabat juga dikenal sebagai salah satu perusahaan yang menyediakan layanan bus pariwisata, khususnya untuk angkutan rombongan seperti karyawisata. Sunarto menyebut bahwa jasa angkutan pariwisata dari Sahabat sering digunakan oleh puluhan sekolah setiap tahunnya untuk kegiatan karyawisata, terutama pada momen kenaikan kelas atau kelulusan. Peserta didik biasanya menyewa bus dari Sahabat untuk perjalanan jarak jauh ke destinasi populer seperti Yogyakarta dan Pangandaran, sehingga segmen karyawisata menjadi sumber pendapatan penting bagi layanan bus mereka — bahkan lebih dominan dibandingkan pemesanan untuk gathering kantor maupun kelompok kerja lainnya.[18]

Larangan study tour yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdampak langsung terhadap layanan bus pariwisata Sahabat karena menyebabkan pembatalan pemesanan oleh sejumlah sekolah yang sudah melakukan booking keberangkatan. Sunarto menjelaskan bahwa pembatalan ini telah menurunkan pendapatan perusahaan karena sebagian besar klien bus pariwisata mereka datang dari kegiatan karyawisata. Sebagai dampaknya, Sahabat merasa kebijakan tersebut memberatkan pelaku usaha di sektor angkutan pariwisata dan berharap agar kebijakan itu dapat direvisi atau dipertimbangkan kembali oleh otoritas yang berwenang. [18]

Insiden

Pada 18 Oktober 2023, sebuah kebakaran hebat melanda garasi Sahabat di Cirebon. Ketika api tiba-tiba membesar di area penyimpanan bus sekitar pukul 11.30 WIB, memaksa lima unit bus hangus dilalap api sebelum petugas pemadam kebakaran berhasil menguasai situasi dan melakukan pendinginan di lokasi kejadian. Dugaan sementara kebakaran dipicu oleh korsleting listrik dari salah satu bus yang sedang diperbaiki, sehingga api menyambar ke bus-bus di sekitarnya. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut, meskipun kerugian material cukup signifikan bagi Sahabat dan sempat menggegerkan warga di sekitar area garasi karena asap hitam yang membubung tinggi.[19]

Referensi

  1. ^ a b rakyatcirebon.id. "Sejarah Singkat PO Bus di Jawa Barat, Muncul Nama 'Sahabat' karena Sempat Ada Perpecahan". rakyatcirebon.id. Diakses tanggal 2025-12-21.
  2. ^ a b Okezone (2023-03-21). "Sejarah PO Bhinneka: Sukses Berkat Prioritaskan Keselamatan Penumpang : Okezone Ototekno". https://ototekno.okezone.com/. Diakses tanggal 2025-12-21.
  3. ^ a b "DUKUNGAN NYATA PEMERINTAH UNTUK PELAYANAN ANGKUTAN UMUM Kementerian Perhubungan Republik Indonesia". dephub.go.id. Diakses tanggal 2025-12-21.
  4. ^ radarcirebon.com. "PT Bhinneka Sangkuriang Ajak Karyawan Nobar Film Lagi-lagi Ateng". radarcirebon.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
  5. ^ a b c Mahardika, Devteo. "Sirnanya Masa Jaya Bus Pantura". detikjabar. Diakses tanggal 2025-12-21.
  6. ^ radarcirebon.com. "Bus Setia Negara, Raja Jalanan Pantura yang Memiliki Banyak Sebutan". radarcirebon.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
  7. ^ Okezone (2023-03-17). "Sejarah PO Luragung Jaya: Raja Jalanan Pantura yang Sukses di Trayek Kuningan-Jakarta : Okezone Ototekno". https://ototekno.okezone.com/. Diakses tanggal 2025-12-21.
  8. ^ Pradana, Whisnu. "Kisah Manis Masa Jaya Bus Madona Dalam Memori Pengemudi". detikjabar. Diakses tanggal 2025-12-21.
  9. ^ "Sepuluh Angkot Liar Dikandangkan". Berita Yudha. 1995-11-14.
  10. ^ "Kab. Cirebon Tambah 14 Rute Angdes". Berita Yudha. 1995-04-20.
  11. ^ "Tiga Tewas di Jalan Tol". Berita Yudha. 1996-01-22.
  12. ^ a b Muhammad, Suradi & Njatrijani 2016, hlm. 11.
  13. ^ "DUKUNGAN NYATA PEMERINTAH UNTUK PELAYANAN ANGKUTAN UMUM Kementerian Perhubungan Republik Indonesia". dephub.go.id. Diakses tanggal 2025-12-21.
  14. ^ Ryan (2019-09-14). "Lowongan kerja PT. Sahabat Prima Abadi". Loker Cirebon (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-21.
  15. ^ "Info Lengkap Foto dan Harga Sewa Bus Pariwisata Sahabat". www.saturental.com (dalam bahasa American English). 2025-06-09. Diakses tanggal 2025-12-21.
  16. ^ "Lebih Mewah, PO Sahabat Luncurkan Armada Baru Berstiker Bus Pariwisata". Tribunnews.com. 2025-12-21. Diakses tanggal 2025-12-21.
  17. ^ radarcirebon.com. "Pilihan Shuttle Cirebon Bandung, Cek Jadwal dan Tarifnya". radarcirebon.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
  18. ^ a b Hassani, Yuga. "Kebijakan Larangan Study Tour Bikin PO Bus Gigit Jari". detikjabar. Diakses tanggal 2025-12-21.
  19. ^ Syahroni, Wisma Putra, Ony. "Garasi PO Bus di Cirebon Kebakaran, Lima Unit Bus Ludes Dilalap Api". detikjabar. Diakses tanggal 2025-12-21. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Daftar pustaka

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement