Era Wulan Watu Tana

Era Wulan Watu Tana merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berpusat di Desa Rokilolo, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Era Wulan Watu Tana tercatat sebagai kepercayaan yang terdaftar di Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan nomor 1.200/ F.3/N.1.1/1982.[1][2][3] Istilah Era Wulan Watu Tana secara harfiah dimaknai sebagai “Tuhan Penguasa Langit dan Bumi.” Kepercayaan ini dianut secara turun-temurun oleh sebagian masyarakat di Pulau Palue, sebuah pulau vulkanik di wilayah Kabupaten Sikka.[4]

Menurut data yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, jumlah anggota Era Wulan Watu Tana tercatat sebanyak 25 orang pada saat pendataan dilakukan. Data tersebut menunjukkan bahwa komunitas ini termasuk kelompok penghayat dengan jumlah penganut relatif kecil, namun tetap mempertahankan sistem kepercayaan dan ritual tradisionalnya secara berkesinambungan.[5]

Sejarah

Asal-usul pembentukan Era Wulan Watu Tana tidak diketahui secara pasti. Ajaran Era Wulan Watu Tana pertama kali dirintis oleh Tono Langga dan Oba Ware. Keduanya dikenal sebagai tokoh adat sekaligus pemimpin ritual (Mosalaki) dari kelompok Cawalo dan Koa di Desa Rokirole, Kecamatan Maumere, Pulau Palue. Dalam struktur sosial masyarakat setempat, Mosalaki memiliki peran sentral sebagai pemimpin upacara adat serta penjaga tradisi leluhur.[5]

Struktur kepengurusan organisasi Era Wulan Watu Tana pada masa pendataan terdiri atas Pinisepuh yang dijabat oleh Toni Langga (dikenal juga dengan Mboe Toni), Ketua Thomas Talu, Sekretaris Benediktus Semba, dan Bendahara Thomas Teka. Penyebaran organisasi ini terfokus di wilayah Kabupaten Sikka, khususnya di Desa Rokirole, Pulau Palue.[6]

Sistem kepercayaan

Dalam praktik spiritualnya, Era Wulan Watu Tana menekankan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai penguasa alam semesta. Konsep ketuhanan dalam kepercayaan ini merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tradisional Flores yang memandang kesatuan antara langit (wulan), bumi/tanah (watu tana), dan kehidupan manusia.[4]

Tempat pelaksanaan ritual disebut Tubu atau Mase. Di lokasi ini terdapat perlengkapan upacara seperti mesbah batu untuk meletakkan sesajen, tiang batu atau menhir sebagai simbol sakral, thobo (alat pemotong hewan kurban), serta phiga, yaitu piring tua yang digunakan sebagai wadah persembahan. Ritual dalam Era Wulan Watu Tana terbagi dalam tiga kategori utama. Pertama, upacara yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia, meliputi upacara kelahiran (pemberian nama, masuk suku, pelubangan telinga), perkawinan, dan kematian. Kedua, upacara yang berkaitan dengan alam atau makrokosmos, seperti upacara meminta hujan, meminta panas, mengusir bala, dan memohon keselamatan. Ketiga, upacara yang berhubungan langsung dengan Tuhan, antara lain upacara syukuran dan upacara korban.[5]

Referensi

  1. ^ Ilyas, Abd Mutholib; Imam, Abd Ghofur (1988). Aliran kepercayaan & kebatinan di Indonesia. Amin.
  2. ^ Catatan singkat tentang organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998.
  3. ^ Zazuli, Mohammad (2018-01-01). Sejarah Agama Manusia. Media Pressindo. hlm. 370. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b Hasil inventarisasi 3 aspek, Propinsi ... Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1984.
  5. ^ a b c Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2006. ISBN 978-979-16071-1-7.
  6. ^ Pedoman teknis pemberdayaan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film. 2005.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement