Sudhammā Nikāya
သုဓမ္မာဂိုဏ်း | |
| Singkatan | Thudhammā |
|---|---|
| Tanggal pendirian | 1800-an |
| Jenis | Ordo Theravāda |
| Kantor pusat | Myanmar |
Jumlah anggota | 467.025 (2016) |

| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Sudhammā Nikāya, Thudhammā Nikāya, atau Thudhammā Gaing (Burma: သုဓမ္မာဂိုဏ်း, IPA: [θudəma̰ gáɪɴ]; juga dieja Ordo Sudhammā) adalah ordo sangha terbesar di Burma.[1]
Ordo ini adalah satu dari sembilan ordo monastik (Pali: gaṇa) yang disahkan secara hukum di negara tersebut, di bawah Undang-Undang Tahun 1990 Mengenai Organisasi Sangha.[2] Thudhamma dianggap sebagai ordo yang lebih pragmatis daripada Shwegyin, dengan aturan yang lebih longgar mengenai regulasi Vinaya dan kurang hierarkis dibandingkan ordo yang disebutkan sebelumnya.[3] Seperti semua ordo utama di Burma, ordo Thudhamma melarang biku untuk terlibat dalam aktivitas politik.[4]
Statistik
Menurut statistik tahun 2016 yang diterbitkan oleh State Sangha Maha Nayaka Committee, 467.025 biku tergabung dalam ordo monastik ini, mewakili 87% dari seluruh biku di negara tersebut.[6] Berkaitan dengan representasi geografis, mayoritas biku Thudhamma tinggal di Region Mandalay (19,76%), diikuti oleh Negara Bagian Shan (16,09%), Region Yangon (15,39%), dan Region Sagaing (9,88%).[6] Pada tahun 2016, ordo ini memiliki 56.492 wihara, mewakili 90% dari wihara di negara tersebut.[7]
Asal-usul
Ordo Thudhamma muncul pada akhir abad ke-18, sebagai akibat dari reformasi Sangha oleh Raja Bodawpaya, mengikuti tradisi panjang raja-raja Burma yang berupaya memurnikan dan menyatukan Sangha.[8] Nama ordo Thudhamma berasal dari Dewan Thudhamma (organisasi keagamaan yang didirikan oleh Bodawpaya), yang pada gilirannya dinamai sesuai nama para Thudhamma Zayat di Mandalay, tempat pertemuan Dewan tersebut.[9]
Jabatan Patriark Tertinggi (သာသနာပိုင် atau Thathanabaing), mirip dengan posisi Saṅgharāja di Thailand dan Kamboja, berawal dari abad ke-13, dimulai oleh biku Shin Arahan di Pagan Kingdom.[10] Thathanabaing bertanggung jawab untuk mengelola hierarki monastik dan pendidikan di wihara-wihara. Pada tahun 1782, Raja Bodawpaya membentuk Dewan Thudhamma di Amarapura, dipimpin oleh Thathanapaing dan empat tetua (ထေရ် atau thera) untuk menyelesaikan skisma yang telah berlangsung selama seabad mengenai cara yang benar dalam mengenakan jubah biku – apakah satu (atin) atau kedua bahu (ayon) harus terbuka.[10][8] Fraksi Cūḷagandhī, yang dipimpin oleh Atulayāsa dan berakar pada tradisi lokal, mendukung praktik satu bahu tetapi disingkirkan dari Sangha.[11] Fraksi Mahāgandhī yang menang, yang kemudian menjadi mayoritas Thudhamma, menganjurkan aturan dua bahu berdasarkan teks Vinaya Pāli dan kitab komentarnya.[11]
Seiring waktu, dewan diperluas menjadi dua belas anggota, untuk mengawasi urusan keagamaan.[8]
Reformasi monastik menyatukan Sangha di bawah kontrol terpusat, menyerap berbagai garis keturunan monastik ke dalam satu ordo yang diatur oleh Dewan Thudhamma.[8] Menjelang akhir dinasti Konbaung, dewan mengawasi urusan keagamaan di kerajaan, termasuk penunjukan kepala wihara, regulasi Vinaya, disiplin biku individu, dan administrasi ujian sangha.[10]
Pada masa pemerintahan Raja Mindon di akhir tahun 1800-an, sebuah gerakan menuju kemandirian muncul di kalangan biku untuk menghindari otoritas Dewan Thudhamma.[10] Perpecahan seperti Shwegyin Nikāya, Mahādvāra Nikāya, dan Hngettwin Nikāya semuanya muncul selama masa pemerintahan Raja Mindon.[10]
Raja sangha
Thanlyin Mingyaung Sayadaw adalah Saṅgharāja dari Thudhamma.
Pengaruh
Indonesia
Salah satu tokoh dari Sudhammā yang terkenal dan memiliki banyak murid adalah Mahasi Sayadaw. Ia awalnya ditahbiskan dalam Shwegyin, kemudian ditahbiskan ulang dalam Sudhammā.[12]
Organisasi nonprofit bernama Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia dibimbing oleh Ashin Kusaladhamma. Ashin Kusaladhamma berkuliah di International Theravāda Buddhist Missionary University (ITBMU) dan ditahbis sebagai biku oleh Chanmyay Sayadaw Ashin Janakābhivaṁsa, seorang biku dalam tradisi Mahasi Sayadaw, pada tahun 2001 di Myanmar.[13] Beliau meraih gelar Sarjana Buddhadhamma dan dianugerahi gelar Sarjana Peraih Medali Emas sebagai lulusan terbaik pada tahun 2004 oleh Pemerintah Myanmar.[14]
Dhammavihāri Buddhist Studies, sebuah pusat pendidikan Buddhis di Jakarta yang mengajarkan kitab suci Tripitaka Pali, kitab-kitab komentar (atṭhakathā), dan kitab-kitab subkomentar (ṭīkā), dibimbing oleh Ashin Kheminda. Ashin Kheminda berkuliah di International Theravāda Buddhist Missionary University (ITBMU), dan mengambil gelar Bachelor dan memperoleh medali emas sebagai lulusan terbaik pada tahun 2008 oleh Pemerintah Myanmar. Ia ditahbis sebagai biku oleh Sayadaw Jatila Mahāthera, seorang biku dalam tradisi Mahasi Sayadaw, pada tahun 2004 di Myanmar.[15][16]
Referensi
- ^ "Thuddama Nikaya". Department of Religion and Ethics, University of Cumbria. Diakses tanggal 2020-05-19.
- ^ Gutter, Peter (2001). "Law and Religion in Burma" (PDF). Legal Issues on Burma Journal (8). Burma Legal Council: 10.
- ^ Matthews, Bruce (1993). "Buddhism under a Military Regime: The Iron Heel in Burma". Asian Survey. 33 (4). University of California Press: 411. doi:10.2307/2645106. JSTOR 2645106.
- ^ Aung-Thwin, Michael (2009). "Of Monarchs, Monks, and Men: Religion and the State in Myanmar" (PDF). Working Paper Series No. 127 (18). Asia Research Institute.
- ^ "The Account of Wazo Samgha of All Sect, M.E 1377 (2016)". The State Samgha Maha Nayaka Committee (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 19 Oktober 2025.
- ^ a b "The Account of Wazo Samgha of All Sect, M.E 1377 (2016)". The State Samgha Maha Nayaka Committee (dalam bahasa American English). 2016. Diakses tanggal 2025-05-06.
- ^ "The Account Monasteries of All-Sect in 1377 (2016)". The State Samgha Maha Nayaka Committee (dalam bahasa American English). 2016. Diakses tanggal 2025-05-06.
- ^ a b c d Rowe, Mark Michael, ed. (2025-12-31), "2 The History of Macrolevel Monasticism in Myanmar", Living with the Vinaya, University of Hawaii Press, hlm. 22–40, doi:10.1515/9780824899400-006, ISBN 978-0-8248-9940-0, diakses tanggal 2025-05-10
- ^ Carbine, Jason A (2011). Sons of the Buddha: Continuities and Ruptures in a Burmese Monastic Tradition. Vol. 50. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-025409-9.
- ^ a b c d e James, Helen (2005). Governance and civil society in Myanmar: education, health, and environment. Psychology Press. hlm. 81. ISBN 978-0-415-35558-2.
- ^ a b Schober, Juliane (2010-11-30), Schober, Juliane (ed.), "Theravada Cultural Hegemony in Precolonial Burma", Modern Buddhist Conjunctures in Myanmar: Cultural Narratives, Colonial Legacies, and Civil Society, University of Hawai'i Press, hlm. 0, doi:10.21313/hawaii/9780824833824.003.0002, ISBN 978-0-8248-3382-4, diakses tanggal 2025-05-11
- ^ Mendelson, E. Michael (1975). Sangha and state in Burma : a study of monastic sectarianism and leadership. Cornell University Press. Ithaca, N.Y. : Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-0875-5.
- ^ Yasati. "Retreat Teacher Biodata: Ashin Kusaladhamma". Yasati: Yayasan Satipatthana Indonesia. Diakses tanggal 2024-02-18Ashin Kusaladhamma.
- ^ Yayasan Satipatthana Indonesia. "Biodata Ashin Kusaladhamma". Facebook. Diakses tanggal 2024-02-18.
- ^ Harpin. Penyebar Dharma - Ashin Kheminda - Mengenal Ajaran Buddha di Hutan Diarsipkan 2012-06-28 di Wayback Machine. Sumber: Majalah Mamit 8, Tahun 2012.
- ^ Dhammavihari Buddhist Studies. "Pelindung Spiritual". Dhammavihari Buddhist Studies. Diakses tanggal 2024-02-18.
Lihat juga
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


