Siwa dalam Buddhisme
| Siwa | |
|---|---|
| Sanskerta | Maheśvara |
| Pāli | Īsāna Mahissara |
| Tionghoa | 大自在天
(Pinyin: Dàzìzàitiān) |
| Jepang | 大自在天
(Romaji: Daijizaiten) |
Maheśvara (Sanskerta: महेश्वर; Pali: Mahissara; Tionghoa tradisional/Jepang: 大自在天; Pinyin: Dàzìzàitiān, Rōmaji: Daijizaiten; Indonesianisasi: Maheswara) adalah makhluk surgawi (dewa) yang menonjol dalam alam kehidupan buddhis. Berhubungan erat dengan dewa Siwa dalam agama Hindu, peran, status, dan atributnya sangat bervariasi di berbagai tradisi Buddhisme.
Dalam tradisi Theravāda, dia umumnya dikenal dengan julukan kunonya, yakni Īsāna (Pali; Thai: พระอิศวร) atau Mahissara (Pali). Dia dipandang sebagai makhluk surgawi yang kuat yang masih terikat dalam siklus kelahiran kembali (saṃsāra), dengan teks-teks awal secara eksplisit menolak statusnya sebagai pencipta tertinggi alam semesta.
Dalam tradisi Mahāyāna dan Vajrayāna, Maheśvara dikonseptualisasikan dalam berbagai cara sebagai dewa duniawi yang kuat, emanasi (manifestasi) dari Avalokiteśvara, atau bahkan dipuja sebagai Bodhisatwa dalam teks-teks esoterik tertentu.
Etimologi

Nama Sanskerta Maheśvara terdiri dari kata "Mahā" dan "Īśvara". Huruf "ā" dari mahā dan "ī" dari īśvara bergabung untuk membentuk sebuah sandhi, yang menjadi "e", membentuk kata "Maheśvara". Mahā berarti "Agung" dan Īśvara berarti "penguasa". Oleh karena itu, nama Maheśvara berarti "penguasa agung".
Buddhisme Theravāda
Dalam tradisi Theravāda, Siwa tidak dipandang sebagai dewa tertinggi atau pencipta alam semesta, melainkan sebagai makhluk surgawi (dewa) yang masih terikat dalam siklus kelahiran kembali (saṃsāra). Buddhisme Theravāda secara eksplisit menolak konsep Issaranimmānavāda, yaitu pandangan filosofis bahwa dunia diciptakan oleh Dewa atau Tuhan pencipta tertinggi atau Īśvara.[1][2] (Lihat Ketuhanan dalam Buddhisme#Theravāda.)
Kemunculan dalam kepustakaan Pali
Tripitaka Pali
Dalam Tripitaka Pali, Siwa tidak disebut dengan nama Mahādeva atau Maheśvara seperti dalam tradisi Mahāyāna, melainkan Īsāna (Pali dari Sanskerta: Īśāna), julukan kunonya.
Dalam Dhajagga Sutta (SN 11.3), Sang Buddha menyebut Īsāna sebagai salah satu dewa komandan di surga Tāvatiṃsa. Īsāna digambarkan memimpin pasukan surgawi—bersama dengan Sakka (dewa Indra dalam Buddhisme), Pajāpati, dan Varuṇa—dalam pertempuran kosmik melawan para asura.[3] Posisi Īsāna dalam hierarki kosmologis ini menunjukkan bahwa dia adalah bawahan Sakka, penguasa para dewa Tāvatiṃsa.
Kepustakaan lainnya
Selain Īsāna, kepustakaan Pali juga menggunakan istilah Mahissara untuk merujuk pada Maheśvara (Siwa). Kata ini dibentuk melalui aturan sandhi bahasa Pali, menggabungkan kata mahā (agung) dan issara (tuan atau penguasa).[4] Namun, penyebutan Mahissara atau Issara dalam teks-teks Pali hampir selalu dikaitkan dengan konteks teologis mengenai bantahan Sang Buddha terhadap Issaranimmānavāda (pandangan yang keliru bahwa penderitaan, kebahagiaan, dan tatanan dunia diatur oleh kehendak Dewa atau Tuhan tertinggi).[5]
Ikonografi dan praktik budaya
Meskipun teks-teks klasik memposisikannya sebagai dewa biasa, umat Buddha Theravāda di berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan terus mengadopsi pemujaan Siwa melalui sinkretisme budaya dan kerajaan.
Di Thailand, Siwa dikenal sebagai Phra Isuan (Thai: พระอิศวร). Penggambarannya sangat dipengaruhi oleh Brahmanisme istana yang diwarisi dari era Khmer dan Sukhothai. Dalam ikonografi wat buddhis Thailand, patung-patung Phra Isuan sering ditempatkan berdampingan dengan dewa-dewa Hindu lainnya sebagai pelindung Dhamma (Dhammapāla). Dia tidak dipuja sebagai jalan menuju pembebasan mutlak, melainkan digambarkan sebagai figur surgawi yang memberi penghormatan dan tunduk pada ajaran Sang Buddha.[6]
Di Sri Lanka, tidak seperti Wisnu, yang diangkat statusnya sebagai dewa pelindung utama pulau tersebut, pemujaan langsung terhadap Siwa kurang menonjol di kalangan umat Buddha Sinhala. Namun, penghormatan terhadap kekuatan Siwa sangat diserap melalui putranya, Skanda, yang disinkretiskan menjadi dewa Kataragama (Murugan). Kuil Kataragama dianggap sangat suci baik oleh umat Buddha maupun Hindu di Sri Lanka, dan dia dipuja sebagai salah satu dari empat dewa penjaga (hatara varam deviyo) yang melindungi agama Buddha di Sri Lanka.[7]
Buddhisme Mahāyāna
Bagian ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
Maheśvara kontemporer

Maheśvara saat ini diyakini menganut agama Buddha, dan dilahirkan kembali sebagai sesosok dewa, karena jasanya menyumbangkan secangkir madu kepada Buddha Kassapa di salah satu kehidupan sebelumnya. Menurut Kāraṇḍavyūha Sūtra, Maheśvara lahir dari alis Awalokiteswara.[8] Menurut tradisi buddhis Mahāyāna, dia menolong orang-orang baik, terutama mereka yang mengikuti sila-sila buddhis dan menjalani pola makan vegetarian, serta menghukum orang-orang jahat atas perbuatan buruk mereka. Dia membantu para pemeditasi yang melakukan Meditasi Kundalini.[9][10] Dia adalah Bodhisatwa dari Bhumi Kesepuluh.[butuh rujukan] Dia juga merupakan salah satu dari dua puluh empat dewa pelindung dalam Buddhisme Tionghoa, dan merupakan satu dari enam belas dharmapāla dalam Buddhisme Tibet.[butuh rujukan]
Maheśvara dan Vajrapāṇi

Sebuah cerita populer mengisahkan bagaimana Vajrapāni membunuh seorang Maheśvara karena perbuatan jahatnya. Kisah tersebut muncul dalam beberapa kitab suci Mahāyāna. Teks yang paling menonjol adalah Sarvatathāgatatattvasaṅgraha dan Vajrāpanyābhiṣeka Mahātantra. Kisah ini dimulai dengan transformasi Bodhisatwa Samantabhadra menjadi Vajrapāṇi oleh Vairocana, Sang Buddha kosmik, menerima sebuah vajra dan nama "Vajrapāṇi". Vairocana kemudian meminta Vajrapāṇi untuk menghasilkan keluarga vajra-nya guna mendirikan sebuah mandala. Vajrapāṇi menolak karena Maheśvara "sedang menyesatkan makhluk-makhluk dengan doktrin agama yang menipu dan terlibat dalam segala macam tindak kriminal kekerasan". Maheśvara dan rombongannya diseret ke Gunung Meru, dan semuanya tunduk, kecuali Maheśvara yang terlalu sombong sebagai penguasa Tiga Dunia. Vajrapāṇi dan Maheśvara terlibat dalam pertarungan magis, yang dimenangkan oleh Vajrapāṇi. Pengikut Maheśvara menjadi bagian dari mandala Vairocana, kecuali Maheśvara, yang terbunuh, dan nyawanya dipindahkan ke alam lain. Di alam tersebut, dia menjadi seorang Buddha bernama Bhasmeśvaranirghoṣa, "Penguasa Abu Tanpa Suara".[11]
Mantra
- Tionghoa:
- 那嘛 薩曼達 布達喃 嗡 伊hi耶hi 嘛嘿思瓦啦雅 斯哇哈
- Nàma sàmàndá bùdánán wēng yīhiyéhi mahēisīwǎlayǎ sīwahā (romanisasi)
- Namaḥ samanta buddhānām oṃ ehyehi maheśvaraya svāhā (Sanskerta)
- Jepang:
- オン・マケイシバラヤ・ソワカ
- On makeishibaraya sowaka (romanisasi)
- Oṃ maheśvaraya svāhā (Sanskerta)
Baik mantra Tionghoa maupun Jepang adalah transkripsi fonetik dari ayat-ayat yang aslinya disusun dalam bahasa Sanskerta.
Lihat pula
- Mahakala - Dewa yang terkait dengan Siwa yang dipuja dalam Buddhisme Tibet dan agama Hindu
- Sakka (Buddhisme) - Dewa Indra dalam Buddhisme
- Wisnu dalam Buddhisme
- Brahma dalam Buddhisme
- Ketuhanan dalam Buddhisme
- Tenjin (kami)
- Guanyin
Referensi
- ^ Nyanaponika Thera (1994). "Buddhism and the God-idea". Access to Insight (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-28.
Dari studi tentang diskursus-diskursus Sang Buddha yang dilestarikan dalam kanon Pali, dapat dilihat bahwa gagasan tentang dewa personal, tuhan pencipta yang dianggap abadi dan mahakuasa, tidak sejalan dengan ajaran Buddha.
- ^ Bhikkhu Sujato (2018). "Titthāyatana Sutta (AN 3.61)". SuttaCentral (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-28.
Ada beberapa pertapa dan brahmana yang memiliki doktrin dan pandangan ini: 'Segala sesuatu yang dialami individu ini ... adalah karena ciptaan dewa tertinggi (issaranimmānahetu).'
- ^ "Dhajagga Sutta: The Top of the Standard". Access to Insight (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-28.
- ^ "Mahissara, 5 definitions". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-28.
Kamus Pali-Inggris: mahissara : (m.) penguasa agung; Dewa Isvara.
- ^ Narada Mahathera (1998). The Buddha and His Teachings. Buddhist Missionary Society. ISBN 978-9679920444.
- ^ Pattana Kitiarsa (2005). "Beyond Syncretism: Hybridization of Popular Religion in Contemporary Thailand". Journal of Southeast Asian Studies. 36 (3): 461–487.
- ^ Obeyesekere, Gananath (1984). The Cult of the Goddess Pattini. University of Chicago Press. ISBN 978-0226616025.
- ^ Studholme, Alexander (2002). The Origins of Om Manipadme Hum: A Study of the Karandavyuha Sutra. State University of New York Press. hal. 39-40.
- ^ "Who are Gods & Goddesses". Why Do I Meditate? (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-02-28.
- ^ "Sri Lanka Web Portal on Astrology and Spiritual Development". lankawisdom.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-02-28.
- ^ Davidson (2012), hlm. 151.
Daftar pustaka
- Davidson, Ronald M. (2012). Indian Esoteric Buddhism: A Social History of the Tantric Movement. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-50102-6.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


