Rawe-rawe rantas, malang-malang putung
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung adalah ungkapan heroik dalam sejarah dan tradisi perjuangan di pulau Jawa yang kerap dikaitkan pada masa kerajaan Majapahit, terutama ketika pasukan di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada menghadapi berbagai rintangan besar. Secara harfiah, rawe-rawe berarti segala sesuatu yang menghalangi, sedangkan malang-malang merujuk pada hambatan yang menghadang dari berbagai arah. Rantas berarti dibersihkan atau disingkirkan, dan putung bermakna diputus hingga tuntas. Dengan demikian, ungkapan ini menggambarkan tekad baja untuk menyingkirkan setiap halangan, apa pun bentuknya. Prinsip dan semboyan ini sering dipakai oleh para pahlawan kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan para penjajah saat itu.[1]
Dalam filosofi Jawa, ungkapan ini tidak sekadar simbol keberanian fisik, melainkan representasi niat teguh, ketegasan, dan komitmen tanpa kompromi terhadap tujuan mulia. Semangatnya mirip dengan prinsip satya, manggalaning karya, dan etos keprajuritan Jawa yang menjunjung disiplin serta keberanian moral. Filosofi ini mengajarkan bahwa suatu cita-cita besar memerlukan keberanian mengambil risiko, ketegasan dalam tindakan, dan konsistensi dalam menjaga tujuan utama nya.[2]
Pada masa kini, ungkapan ini sering diaplikasikan sebagai motivasi dalam menghadapi tantangan hidup, bekerja, atau memimpin. Meskipun berisi semangat keras, filosofi ini tetap mengutamakan niat lurus: menyingkirkan hambatan dengan cara yang benar, tepat, dan penuh tanggung jawab. Secara umum prinsip ini memberikan semangat dengan semboyan: segala sesuatu yang merintangi maksud dan tujuan harus dapat disingkirkan.[3]
Semboyan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Ungkapan “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung” juga menjadi simbol mentalitas perjuangan yang selaras dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Meskipun berasal dari tradisi dan sejarah Jawa, terutama di masa Majapahit, nilai perjuangannya dihidupi kembali oleh para pahlawan nasional. Maknanya—menyingkirkan segala rintangan dan memutus hambatan sekuat apa pun—mencerminkan tekad bangsa dalam menghadapi penjajahan yang telah berlangsung ratusan tahun. Para pejuang mempertaruhkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa, demi tujuan yang lebih besar: kemerdekaan Indonesia, dengan prinsip maju terus, pantang mundur.[4]
Dalam konteks pergerakan nasional, ungkapan ini menjadi gambaran keteguhan hati, keberanian moral, dan solidaritas perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Sikap tanpa gentar para pemuda, tokoh pergerakan, dan masyarakat luas sejalan dengan spirit ungkapan tersebut: bahwa merdeka harus diperjuangkan tanpa menyerah. Filosofi ini kemudian menginspirasi sikap pantang mundur saat mempertahankan kemerdekaan pada periode revolusi fisik 1945–1949. Semboyan, "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!" ini pernah dipakai sebagai semboyan oleh Cipto Mangunkusumo dan Suwardi (Ki Hajar Dewantara) dalam perjuangan mereka menghadapi pemerintah kolonial Belanda waktu itu.[5]
Referensi
- ^ "RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG: TRADISI HEROIK ORANG JAWA". uinsby.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "FILSAFAT SEBAGAI SARANA PENGANTAR KE ARAH FILSAFAT ILMU: Rawe-rawe..." binus.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Rawe-rawe Rantas Malang-malang Tuntas". kompasiana.com. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "Membuka Gerbang - FILSAFAT "rawe-rawe rantas malang-malang putung", "maju terus, pantang mundur"" (PDF). digilib.uinkhas.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
- ^ "DR. CIPTO MANGUNKUSUMO" (PDF). repositori.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
Lihat juga
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


