Museum Kebangkitan Nasional

Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional pada tahun 2013
Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta
Museum Kebangkitan Nasional
Location within Jakarta
PetaKoordinat: 6°10′43.41320″S 106°50′16.68476″E / 6.1787258889°S 106.8379679889°E / -6.1787258889; 106.8379679889
Didirikan8 Mei 1999
LokasiJl. Abdul Rachman Saleh 26 Jakarta 10410, Indonesia
Koordinat6°10′43″S 106°50′17″E / 6.178718°S 106.838034°E / -6.178718; 106.838034
JenisMuseum sejarah
Ukuran koleksi2.042 item
Wisatawanrata-rata 15.000 per tahun
DirekturDrs. Edy Suwardi, M.Hum[1]
PemilikKementerian Kebudayaan
Akses transportasi umum Kwitang
Situs webhttp://www.museumkebangkitannasional.go.id
Cagar budaya Indonesia
Museum Kebangkitan Nasional
PeringkatNasional
KategoriBangunan
No. RegnasCB.7
Lokasi
keberadaan
Senen, Jakarta Pusat,[2] DKI Jakarta
Tanggal SK1983 & 2013
PemilikIndonesia
PengelolaKementerian Kebudayaan RI (Indonesian Heritage Agency)
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Museum Kebangkitan Nasional adalah sebuah gedung yang dibangun sebagai monumen tempat lahir dan berkembangnya kesadaran nasional dan juga ditemukannya organisasi pergerakan modern pertama kali dengan nama Boedi Oetomo.[3] Sebelum menjadi museum, bangunan ini dahulunya adalah sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda dengan nama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).[4][5] Dalam perjalanannya, gedung tersebut selalu beralih fungsi.[4] Saat ini, Museum Kebangkitan Nasional berada dalam naungan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Lokasi museum ini tidak jauh dari Pasar Senen, tepatnya di Jalan Abdurrahman Saleh No.26, di samping RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.[6][7]

Sejarah

Tampak depan Museum Kebangkitan Nasional pada Juni 2025.

STOVIA sebelumnya adalah sebuah sekolah dokter yang masih berkembang dengan nama Sekolah Dokter Jawa (Dokter-Djawa School) yang didirikan pada tahun 1851 di Rumah Sakit Militer Weltevreeden atau yang sekarang menjadi RSPAD Gatot Soebroto.[8] Seluruh staf dosen kampus tersebut berasal dari dokter rumah sakit yang sama.[8] Kemudian aktivitas belajar mengajar dan sekolah tersebut dipindahkan di samping rumah sakit militer atas prakarsa H.F. Rool sang direktur hingga berhasil rampung pada tanggal 1 Maret 1902.[4] Karena perkembangan yang pesat, STOVIA pindah dari daerah Kwini Senen ke Salemba yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.[3] Kampus yang terletak di Kwini sejak tahun 1926 dialihfungsikan menjadi tempat pendidikan MULO, setingkat SMP dan AMS, setingkat SMA.[6]

Lalu, ketika Jepang tiba pada tahun 1942-1954, gedung pertama difungsikan sebagai tahanan pasukan Belanda yang melawan Jepang.[6][8] Berlanjut ke masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945 – 1973 gedung tersebut dihuni oleh keluarga tentara Belanda dan orang Ambon.[4]

Karena nilai sejarahnya yang tinggi, berkaitan dengan kelahiran Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, pada tahun 1948 ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional.[3] Selain itu, gedung ini juga merupakan saksi lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan, yaitu Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo (Jong Java), Jong Minahasa, dan Jong Ambon.[8] Serta di gedung ini juga lah beberapa tokoh pergerakan seperti Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan R. Soetomo pernah menimba ilmu.[6] Oleh karena itu, selanjutnya pada tahun 1973 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memugar gedung itu, dan pada 20 Mei 1974 bersama dengan presiden Suharto, diresmikanlah menjadi Gedung Kebangkitan Nasional.[3]

Belum selesai sampai di situ, komplek gedung berbentuk segi empat tersebut dijadikan empat buah museum yaitu Museum Budi Utomo, Museum Wanita, Museum Pers dan Museum Kesehatan sampai akhirnya pada 7 Februari 1984 menjadi Museum Kebangkitan Nasional.[4] Sedangkan keluarga dari Ambon yang tinggal di tempat itu dipindahkan ke perumahan Cengkareng Jakarta.[4][6] Museum ini juga ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya. Sehingga konsekuensinya gedung ini harus tetap dilestarikan, dipelihara, dan tidak boleh dirombak.[3]

Koleksi

Denah asli sekolah

Masuk ke dalam gedung dapat disaksikan ruang kelas dan laboratorium, asrama, tempat olahraga, kantin, dapur, dan aula. Terdapat juga ruangan perpustakaan yang dikelola oleh Komunitas Buku Berkaki yang mengoleksi ribuan buku anak-anak.[9] Selain itu, ruang aula juga digunakan untuk sekolah tarian tradisional secara gratis yang dikelola oleh Yayasan Belantara Budaya Indonesia.[10]

Selanjutnya, pengunjung disuguhkan dengan seluruh koleksi museum dengan total 2.042 buah berupa bangunan, mebel, jam dinding, gantungan lonceng, perlengkapan kesehatan, pakaian, senjata, foto, lukisan, patung, diorama, peta/maket/sketsa, dan miniatur.[4] Seluruh koleksi tersebut dipamerkan di beberapa ruangan antara lain di ruang awal pergerakan, ruang kesadaran nasional, dan ruan pergerakan, dan ruang memorial Boedi Oetomo.[8] Terbaru, pada tahun 2012 dan 2013 revitalisasi museum secara bertahap dilakukan oleh pemerintah pusat dari segi tata koleksi, pemasangan air conditioner, dan perbaikan pada papan keterangan.[11]

Akses masuk

Tarif masuk museum adalah sebesar Rp3.000 (untuk anak), Rp5.000 (dewasa) dan Rp25 ribu (warga negara asing anak dan dewasa).[12]

Referensi

  1. ^ "Pengantar - Museum Kebangkitan Nasional" (dalam bahasa Indonesian). Museum Kebangkitan Nasional. 2013. Diarsipkan dari asli tanggal January 9, 2016. Diakses tanggal February 15, 2013. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ^ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. SENEN". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 29 Mei 2025.
  3. ^ a b c d e (Inggris) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Museum Kebangkitan Nasional". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-02. Diakses tanggal 2014-05-02.
  4. ^ a b c d e f g (Inggris) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Sejarah Gedung Museum Kebangkitan Nasional". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-02. Diakses tanggal 2014-05-02.
  5. ^ Wanadriani Santosa, Lia (2024-06-05). "Ini tiga museum di Jakarta untuk bangkitkan nasionalisme". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.
  6. ^ a b c d e (Inggris) PusakaIndonesia.com. "Museum Kebangkitan Nasional (STOVIA)". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-02. Diakses tanggal 2014-05-02.
  7. ^ Fadilah, Raihan (2025-03-11). "15 rekomendasi museum di Jakarta untuk study tour". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.
  8. ^ a b c d e (Inggris) KOMPAS Online. "Menelusuri Jejak Boedi Oetomo di Museum Kebangkitan Nasional".
  9. ^ Arhamni, Aulia Nur. "Berapa Harga Tiket Masuk Museum Kebangkitan Jakarta, Intip Koleksi di Dalamnya". disway.id. Diakses tanggal 2025-06-01.
  10. ^ "03-02-2022 – Perpustakaan Unhan RI". Diakses tanggal 2025-06-01.
  11. ^ (Inggris) TEMPO Online. "Tampilan Baru Koleksi Museum Kebangkitan Nasional". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-31. Diakses tanggal 2014-05-02.
  12. ^ antaranews.com (2024-08-01). "Masuk Museum Batik Indonesia gratis". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement