Salamah bin al-Akwa'
Salamah bin al-Akwa' (Bahasa Arab : سَلَمَة بن الأكْوَع) adalah sahabat Nabi Muhammad dari kabilah Aslam. Ia meriwayatkan beberapa hadis. Dulu ia bekerja sebagai pembantu Thalhah bin Ubaidillah sampai kemudian ia hijrah.[1] Pamannya Amir bin al-Akwa juga sahabat Muhammad yang terbunuh di Pertempuran Khaibar.[2]
Kehidupan
Setelah Pertempuran Khandaq dan Pengepungan Bani Quraizhah, terjadi peristiwa Dzu Qarad, dimana Uyainah bin Hishn dari Bani Ghathafan dan Abdurrahman al-Fazari menyerang dan mencuri unta-unta Muhammad di al-Gabah. Salamah yang berada di lokasi lalu menghujani Uyainah dengan panah melalui taktik maju mundur hingga melukai beberapa dari mereka. Lalu datanglah bantuan pasukan berkuda muslimin hingga terjadi pertarungan kecil yang mengakibatkan terbunuhnya Akhram al-Asadi dari Madinah, lalu pasukan berkuda Uyainah melarikan diri, dikejar seorang diri oleh Salamah dengan berlari kencang.[2]
Lalu ia disusul kedatangan Muhammad sehingga berhasil memukul musuh dan terbunuh beberapa orang. Salamah lalu berkata,"Wahai Rasulullah, jika engkau mengirimku bersama seratus orang, aku pasti mampu menyelamatkan sisa-sisa unta hamil yang belum berhasil diselamatkan dan aku penggal para musuh itu."[2] Muhammad tertawa dan beristirahat sementara pasukan Bani Ghathafan telah melarikan diri. Muhammad lalu kembali ke Madinah dengan membonceng Salamah di belakangnya lalu menyebutnya,"Sebaik-baik personil pasukan pejalan kaki kita adalah Salamah."
Saat Perjanjian Hudaibiyah dimana Utsman bin Affan yang diutus ke Mekah diisukan terbunuh, Muhammad mengambil baiat para sahabat untuk siap perang hingga mati, dan Salamah diberikan tameng oleh Muhammad berbaiat hingga 3 kali untuk siap mati.[1][3]
Pada bulan Ramadhan 6 H, Salamah ikut dalam ekspedisi pimpinan Abu Bakar dalam menaklukan bani Fajarah dan berhasil menawan beberapa orang musuh termasuk Ummu Qirfah yang berencana membunuh Muhammad.[3]
Kematian
Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Salamah memilih mengasingkan diri ke Rabdzah, kampung kecil sekitar 10 km sebelah timur dari kota Madinah, ia tidak ikut terlibat dalam konflik Ali-Muawiyah. 'Abdurrahman bin Razin, ia berkata, "Aku datang menemui Salamah bin al-Akwa' di Rabdzah. Lalu ia mengeluarkan untuk kami bagian tangan yang besar seakan-akan ia kaki unta. Lalu ia berkata, 'Aku berbai'at dengan tanganku ini kepada Rasulullah.'Maka kami meraih tangannya, kemudian menciumnya."[2]
Ia menikah disana dan melahirkan beberapa anak. Ia wafat pada 74 H / 693 M.[1]
Referensi
- ^ a b c Al-Mishri, Mahmud (2010). Sahabat-sahabat Rasulullah Jilid 4. Jakarta : Pustaka Ibnu Katsir. ISBN 9789797194386
- ^ a b c d Hisyam, Ibnu (205). Sirah Nabawiyah. Jakarta : Penerbit Qisthi Press. ISBN 978-979-1303-91-0
- ^ a b Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman (1997-01-01). Sirah Nabawiyah. Pustaka Al Kautsar. ISBN 978-979-592-664-1.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


