Rara Tepasan
Rara Tepasan atau Nyi Tepasari adalah satu-satunya istri Sunan Gunung Jati yang berdarah Jawa. Ia dikisahkan sebagai istri yang paling cerdas dari istri-istri Sunan Gunung Jati lainnya. Nyi Tepasari yang belakangan dikenal sebagai seorang yang berperan besar terhadap tata kelola dan penerapan adat-istiadat di Keraton Kesultanan Cirebon.[1] Nyi Tepasari adalah putri Ki Gedeng Tepasan, seorang pembesar dari Kerajaan Majapahit yang pro dengan Raden Patah.[2][3]
Setelah menikah dengan Nyai Rara Baghdad, menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung Djati menikah lagi dengan Nyi Tepasari. Pernikahan mereka dilangsungkan pada pada 1490 M.[2] Hal ini karena alasan, meninggalnya Nyimas Pakungwati dalam peristiwa memolo di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dan karena dari pernikahannya dengan Nyimas Pakungwati dan dengan Nyi Ong Tien belum dikaruniai anak.[4]
Di Kesultanan Demak, Sunan Gunung Jati belajar ilmu pemerintahan dari Raden Patah yang memungkinkan Cirebon bisa menjadi kerajaan yang mandiri. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga berguru pada Sunan Ampel. Selain belajar ilmu pemerintahan, di sana Sunan Gunung Jati menikah lagi dengan Nyi Tepasari.[3] Dari pernikahan dengan Nyi Tepasari, Sunan Gunung Jati dikaruniai dua orang anak, yaitu Nyi Mas Ratu Ayu Waguran atau Ratu Wulung Ayu (kemudian menikah dengan Pangeran Sabrang Lor atau Sultan Demak ke-2) yang lahir pada tahun 1493 M, dan Pangeran Muhammad Arifin (yang kelak menggantikan ayahnya dengan gelar Pangeran Pasarean) yang lahir pada tahun 1495 M.[3][4]
Dalam Naskah Mertasinga, kisah pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Tepasari berawal saat Nyi Tepasari berada di Majapahit, ia melihat cahaya putih yang memancar dari arah barat laut (Sunda/Cirebon), sehingga ia ingin sekali melihat dan menemui cahaya itu. Nyi Tepasari pun bersumpah jika sumber cahaya tersebut merupakan seorang perempuan akan dijadikan saudaranya, jika laki-laki akan dijadikan suaminya. Kehendaknya ini kemudian disampaikan kepada ayahnya Ki Gede Tepasan. Ki Gede Tepasan kemudian mengabulkan dan mengantarkan anaknya ke sumber cahaya tersebut. Nyi Tepasari dikirim ke Cirebon dengan diiringi seratus pengawal dan membawa harta kekayaan yang banyak, semua pengawal tersebut tidak kembali ke Tepasan dan tinggal di Cirebon menemani sang puteri. Setelah didekati ternyata sumber cahaya tersebut adalah Sunan Gunung Jati yang pada waktu itu menjadi penguasa Cirebon. Akhirnya Nyi Tepasari diserahkan oleh ayahnya kepada Sunan Gung Jati untuk dijadikan istri.[1]
Dalam Naskah Kuningan, setelah Sunan Gunung Jati memperistri Nyi Tepasari, ia sangat berpengaruh dalam mengatur tata kelola keraton Cirebon. Nyi Tepasari sedikit demi sedikit menerapkan budaya Jawa dalam tata kelola Keraton Cirebon yang pada kemudianya menggantikan adat istiadat Sunda yang telah lama diterapkan didalam lingkungan Istana. Pada mulanya tata kelola Keraton Cirebon menggunakan adat istiadat Sunda, hal ini dikarenakan pendiri Kesultanan Cirebon (Pangeran Cakrabuana) adalah putra dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda, oleh karena itu tata kelola pemerintahan termasuk didalamnya mencontoh tata kelola yang berlaku di Kerajaan Sunda. Pemberlakuan penetepan adat istiadat Jawa yang dilakukan oleh Rara Tepasan di lingkungan Keraton Cirebon dikabarkan mendapatkan persetujuan langsung dari Sunan Gunung Jati. Sehingga tidak ada satupun orang yang berani mempermasalahkannya.[1]
Belum ditemukan tahun wafatnya Nyi Tepasari, namun tempat persemayaman terakhirnya berada di Giri Nur Cipta Rengga (Kompleks pemakaman Gunung Sembung), bagian teratas Wukir Saptarengga.[2]
Referensi
- ^ a b c "Rara Tepasan, Istri Sunan Gunung Jati Dari Majapahit". 2018-01-11. Diakses tanggal 2026-03-19.
- ^ a b c Hernawan, Wawan; Kusdiana, Ading (2020). BIOGRAFI SUNAN GUNUNG DJATI: Sang Penata Agama di Tanah Sunda. Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. ISBN 978-623-93720-1-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c Suteja (2024). CIREBONOLOGI. Sumber: Poiesis Meta. ISBN 978-623-88914-1-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Bochari, M. Sanggupri; Kuswiah, Wiwi (2001). SEJARAH KERAJAAN TRADISIONAL CIREBON. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


