Nyai Lara Baghdad

Nyai Lara Baghdad, Syarifah Baghdad atau Nyimas Rara Jati adalah putri dari Syekh Datuk Kahfi (Sykeh Nurjati) atau Ki Gedeng Jati[1] yaitu ulama dan penyebar Islam yang memiliki kekuasaan dan pesantren terawal di Gunung Jati[2] dengan ibunya yang bernama Syarifah Halimah (putri dari Ali Nurul Alim putra dari Jamaludin al Husain dari Kamboja).[3] Versi lain menjelaskan bahwa Nyai Lara Baghdad merupakan putri dari sahabat Syekh Datuk Kahfi.[1] Nyai Lara Baghdad atau Syarifah Baghdad merupakan istri ke empat dari Sunan Gunung Jati dan beliau turut membantu penyebaran agama Islam bersama suami dan saudara-saudaranya.[4] Selain sebagai istri dari Sunan Gunung Jati, Nyai Lara juga menjadi sekretaris pribadi dalam hal masalah keagamaan, sehingga bergelar Nyi Mas Penatagama Pesambangan yang sangat alim dan berakhlak mulia.[5]

Nyai Lara Baghdad memiliki beberapa saudara, yakni seorang kakak laki-laki bernama Syekh Abdurakhman (yang kelak di Cirebon bergelar Pangeran Panjunan), kakak laki-laki lainnya bernama Syekh Abdurakhim (kelak bergelar Pangeran Kejaksan), dan adik laki-laki bernama Syekh Datul Khafid (sosok yang terkadang tertukar dengan ayahnya Syekh Datuk Kahfi di beberapa manuskrip yang lebih muda).[3] Sementara itu dalam Naskah Mertasinga juga menyebutkan bahwa, baik Pangeran Panjunan, Pangeran Kejaksan dan Syarifah Bagdad atau Nyai Lara Baghdad adalah anak Sultan Bagdad yang mengungsi dan menetap di Cirebon untuk menyebarkan agama Islam. [2]

Setelah Putri Ong Tien wafat, selang beberapa bulan, Sunan Gunung Jati menikah lagi dengan Nyai Lara Baghdad yang terjadi pada tahun 1484 Masehi[1], keduanya memperoleh dua orang keturunan, keduanya berjenis klamin laki-laki, yaitu Pangeran Jayakelana yang lahir pada 1486, dan Pangeran Bratakela atau ada juga yang menyebut Pangeran Gung Anom yang lahir pada 1489 .[2][6] Menurut Babad Cirebon, setelah dewasa, Pangeran Jayakelana menikah dengan Ratu Pembayun (putri Raden Fatah dari Kesultanan Demak).[1][6] Sementara itu, Pangeran Bratakelana atau Pangeran Gung Anom menikah dengan Ratu Nyawa, putri dari Raden Fatah yang lainnya.[1] Namun, seperti yang disebutkan dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, pada 1516 Pangeran Jayakelana wafat dan Ratu Pembayun sebagai janda dari Pangeran Jayakelana kemudian dinikahkan dengan Fatahillah (Faletehan).[6]

Referensi

  1. ^ a b c d e Suteja (2024). CIREBONOLOGI. Sumber: Poiesis Meta. ISBN 978-623-88914-1-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c "7 KETURUNAN SUNAN GUNUNG JATI". 2024-12-29. Diakses tanggal 2026-03-12.
  3. ^ a b pustikom. "Biografi Syekh Nurjati". UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-12.
  4. ^ buana, cakra (2024-06-03). "Sejarah Enam Istri Dan Keturunannya Sunan Gunug Jati". Suara Radar Cakra Buana. Diakses tanggal 2026-03-12.
  5. ^ "Fatimah / Syarifah Baghdad". Rodovid AR.
  6. ^ a b c Hernawan, Wawan; Kusdiana, Ading (2020). BIOGRAFI SUNAN GUNUNG DJATI: Sang Penata Agama di Tanah Sunda. Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. ISBN 978-623-93720-1-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement