Prosedur klaim kecil Eropa

Uni Eropa
Bendera Uni Eropa

Artikel ini adalah bagian dari seri:
Politik dan pemerintahan
Uni Eropa

Prosedur klaim kecil Eropa (bahasa Inggris: European Small Claims Procedure, disingkat ESCP) adalah sebuah mekanisme yudisial yang disederhanakan dan dipercepat, yang dirancang untuk menangani sengketa perdata dan komersial lintas batas dengan nilai klaim rendah di dalam Uni Eropa (UE).[1] Prosedur ini, yang ditetapkan melalui Regulasi (EC) No 861/2007 dan berlaku sejak 1 Januari 2009, diberikan sebagai alternatif dari prosedur hukum nasional di semua negara anggota UE, kecuali Denmark.[2]

Tujuan utama dari prosedur ini adalah untuk meningkatkan akses terhadap keadilan dengan menyederhanakan dan mempercepat proses litigasi serta mengurangi biaya yang terkait dengan penyelesaian sengketa lintas batas.[3] ESCP dapat digunakan untuk klaim dengan nilai tidak lebih dari €5.000 (tidak termasuk bunga dan biaya lainnya).[4] Prosedur ini sebagian besar dilakukan secara tertulis melalui penggunaan formulir standar, dan representasi oleh pengacara tidak diwajibkan.[5] Putusan yang dihasilkan dari ESCP secara otomatis diakui dan dapat ditegakkan di negara anggota UE lainnya tanpa memerlukan prosedur tambahan untuk pengakuan atau deklarasi keberlakuan (dikenal sebagai penghapusan exequatur).[6]

Latar Belakang dan Sejarah Legislatif

Hambatan di Pasar Tunggal

Sebelum adanya ESCP, penyelesaian sengketa lintas batas di Uni Eropa, terutama untuk klaim bernilai kecil, merupakan proses yang sering dinilai tidak efisien dan mahal. Konsumen yang membeli barang dari negara anggota lain atau Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang melakukan transaksi dengan mitra bisnis di luar negeri menghadapi hambatan yang signifikan jika terjadi sengketa. Biaya untuk memulai proses hukum di negara lain, kompleksitas prosedur yang berbeda-beda di setiap negara, serta lamanya waktu yang dibutuhkan sering kali tidak sebanding dengan nilai klaim yang dipersengketakan.[7]

Sebuah survei menunjukkan bahwa 45% perusahaan yang mengalami sengketa lintas batas memilih untuk tidak membawanya ke pengadilan karena biaya prosedur dianggap tidak proporsional dengan nilai klaim.[8] Situasi ini menciptakan hambatan nyata bagi berfungsinya Pasar Tunggal (Single Market) UE. Ketidakpastian dan tingginya biaya penyelesaian sengketa mengurangi kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis untuk terlibat dalam perdagangan lintas batas, terutama dalam konteks e-commerce yang berkembang pesat.[7] Hambatan prosedural ini secara efektif mendistorsi persaingan dan menghalangi warga negara serta bisnis untuk sepenuhnya memanfaatkan keuntungan dari Pasar Tunggal UE.[9]

Lahirnya Regulasi (EC) 861/2007

Gedung Mahkamah Eropa (CJEU) di Luksemburg.

Menyadari bahwa hambatan prosedural ini menurunkan efisiensi Pasar Tunggal, lembaga-lembaga Uni Eropa mulai merancang solusi. Upaya ini merupakan bagian dari tujuan UE yang lebih luas untuk memelihara dan mengembangkan ruang kebebasan, keamanan, dan keadilan, di mana kerja sama yudisial dalam masalah perdata menjadi salah satu pilarnya.[9]

Pada tanggal 11 Juli 2007, Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa mengadopsi Regulasi (EC) No 861/2007, yang secara resmi membentuk prosedur klaim kecil Eropa.[2] Regulasi ini mulai berlaku secara penuh pada 1 Januari 2009.[10] Pemilihan instrumen hukum berupa regulasi adalah sebuah keputusan strategis. Tidak seperti direktif yang harus diadaptasi ke dalam hukum nasional, regulasi berlaku seragam dan langsung di seluruh UE. Pilihan ini memastikan bahwa ESCP menjadi prosedur yang benar-benar tunggal dan harmonis, menghindari fragmentasi yang mungkin timbul dari implementasi nasional yang berbeda-beda.[11]

Dengan menyediakan jalur penyelesaian sengketa yang dapat diakses, terjangkau, dan dapat diprediksi, ESCP bertujuan untuk mengurangi risiko yang dirasakan dalam transaksi lintas batas. Hal ini, pada gilirannya, dimaksudkan untuk membangun kepercayaan dan mendorong lebih banyak perdagangan, memperdalam integrasi ekonomi, dan memastikan bahwa manfaat Pasar Tunggal dapat dirasakan secara lebih luas oleh warga negara dan UKM di seluruh Eropa.[9]

Kerangka Hukum dan Ruang Lingkup

Penerapan prosedur klaim kecil Eropa diatur oleh ketentuan yang jelas mengenai jenis kasus, nilai moneter, dan yurisdiksi yang dapat ditanganinya. Prosedur ini dirancang khusus untuk menangani perkara perdata dan komersial dengan nilai klaim tidak melebihi €5.000, di luar bunga atau biaya lainnya. Agar dapat menggunakan prosedur ini, sebuah kasus harus bersifat lintas batas, yang berarti setidaknya salah satu pihak berdomisili di negara anggota Uni Eropa yang berbeda dari negara tempat pengadilan berada.[12]

Meskipun demikian, regulasi ini juga secara eksplisit mengecualikan beberapa jenis perkara dari ruang lingkupnya, bahkan jika memenuhi kriteria nilai dan lintas batas. Perkara yang berkaitan dengan urusan negara—seperti fiskal, bea cukai, atau administratif—serta kewajiban negara (acta jure imperii) tidak termasuk dalam cakupannya. Begitu pula dengan hukum keluarga dan perorangan, yang mencakup status hukum, hak properti dari perkawinan, kewajiban nafkah, dan urusan wasiat. Bidang hukum lain seperti kepailitan, jaminan sosial, arbitrase, dan hukum ketenagakerjaan juga dikecualikan, bersama dengan sengketa terkait penyewaan properti tidak bergerak (kecuali klaim moneter) dan pelanggaran privasi atau pencemaran nama baik.[12]

Prosedur Langkah-demi-Langkah

Prosedur pengajuan klaim kecil Uni Eropa[7]

ESCP dirancang sebagai prosedur berbasis formulir untuk memastikan kesederhanaan dan konsistensi di seluruh UE. Prosesnya dapat diuraikan dalam beberapa tahapan utama.[12]

1. Memulai Prosedur

Penggugat (pihak yang mengajukan klaim) memulai prosedur dengan mengisi Formulir A (Formulir Klaim) standar. Formulir ini mengharuskan penggugat untuk memberikan rincian tentang para pihak, dasar klaim, jumlah yang dituntut, dan deskripsi bukti pendukung. Formulir yang telah diisi beserta dokumen pendukung kemudian diajukan ke pengadilan yang berwenang.[12]

2. Pemeriksaan oleh Pengadilan

Pengadilan akan memeriksa kelengkapan Formulir A. Jika formulir tidak diisi dengan benar, tidak jelas, atau kurang lengkap, pengadilan akan menggunakan Formulir B untuk meminta penggugat melengkapi atau memperbaiki informasi dalam jangka waktu yang ditentukan. Jika klaim tersebut jelas-jelas tidak berdasar atau tidak dapat diterima, atau jika penggugat gagal memperbaiki formulir, pengadilan dapat menolak permohonan tersebut.[12]

3. Pemberitahuan kepada Tergugat

Setelah menerima Formulir A yang lengkap, pengadilan akan mengirimkan salinannya, beserta Formulir C (Formulir Jawaban) standar, kepada tergugat (pihak yang dituntut) dalam waktu 14 hari.[12]

4. Jawaban dari Tergugat

Tergugat memiliki waktu 30 hari sejak menerima Formulir C untuk memberikan jawaban. Jawaban dapat disampaikan dengan mengisi Formulir C atau melalui cara lain yang sesuai. Tergugat juga dapat menggunakan salinan Formulir A untuk mengajukan gugatan balik (counterclaim) terhadap penggugat.[12]

5. Prosedur Tertulis

Prosedur ini pada dasarnya adalah prosedur tertulis.[12] Sidang lisan hanya diadakan jika pengadilan menganggapnya perlu untuk keadilan persidangan, atau atas permintaan salah satu pihak yang disetujui pengadilan. Jika sidang lisan diperlukan, pengadilan didorong untuk menggunakan teknologi komunikasi jarak jauh seperti konferensi video untuk mengurangi biaya dan waktu perjalanan.[13] Pengadilan diwajibkan untuk menggunakan metode pengumpulan bukti yang paling sederhana dan tidak memberatkan.[12] Salah satu fitur penting adalah bahwa perwakilan oleh pengacara tidak diwajibkan, yang secara signifikan mengurangi biaya bagi para pihak.[5]

6. Putusan

Pengadilan harus memberikan putusan dalam waktu 30 hari setelah menerima semua informasi yang diperlukan atau setelah mengadakan sidang lisan. Jika tergugat tidak memberikan jawaban dalam batas waktu 30 hari, pengadilan akan memberikan putusan sela yang mengabulkan klaim penggugat.[12]

Tabel Penjelasan Jenis Formulir

Formulir Nama Resmi Tujuan dan Penggunaan Referensi
Formulir A Formulir Klaim (Claim Form) Digunakan oleh penggugat untuk memulai prosedur. Berisi detail para pihak, dasar dan jumlah klaim, serta deskripsi bukti pendukung. [12]
Formulir B Permintaan untuk Melengkapi/Memperbaiki Digunakan oleh pengadilan untuk meminta penggugat melengkapi atau memperbaiki Formulir A yang tidak lengkap atau tidak jelas.
Formulir C Formulir Jawaban (Answer Form) Dikirim ke tergugat bersama dengan Formulir A. Digunakan oleh tergugat untuk memberikan jawaban atas klaim, mengajukan pembelaan, atau mengajukan gugatan balik.
Formulir D Sertifikat Mengenai Putusan Diterbitkan oleh pengadilan atas permintaan salah satu pihak setelah putusan diberikan. Sertifikat ini adalah kunci untuk pengakuan dan penegakan (recognition and enforcement) putusan secara otomatis di Negara Anggota UE lainnya.

Pengakuan dan Penegakan Putusan

Interior ruang sidang utama Mahkamah Eropa.

Penghapusan Exequatur

Prinsip inti dari mekanisme ESCP adalah penghapusan exequatur. Istilah ini merujuk pada prosedur hukum tradisional di mana pengadilan di satu negara harus mengeluarkan "deklarasi keberlakuan" sebelum putusan dari pengadilan negara lain dapat dieksekusi di wilayahnya. ESCP menghilangkan persyaratan ini sepenuhnya. Sesuai Pasal 20 Regulasi (EC) No 861/2007, putusan yang diberikan dalam ESCP di satu negara anggota "harus diakui dan ditegakkan di negara anggota lain tanpa deklarasi keberlakuan dan tanpa kemungkinan untuk menentang pengakuannya".[12]

Peran Kunci Formulir D

Mekanisme untuk penegakan otomatis ini difasilitasi oleh Formulir D (Sertifikat Mengenai Putusan). Setelah putusan akhir diberikan, pihak yang menang dapat meminta pengadilan untuk menerbitkan Formulir D tanpa biaya tambahan.[12] Untuk menegakkan putusan di negara anggota lain, pihak tersebut hanya perlu menyerahkan dua dokumen kepada otoritas penegak hukum yang berwenang (misalnya, juru sita) di negara tersebut, yaitu salinan putusan pengadilan yang asli serta salinan Formulir D beserta terjemahannya ke dalam bahasa resmi negara tempat penegakan akan dilakukan. Otoritas penegak hukum di negara tujuan kemudian harus melaksanakan putusan tersebut seolah-olah itu adalah putusan yang dikeluarkan oleh pengadilan di negara mereka sendiri.[6]

Dasar Penolakan yang Sangat Terbatas

Pengadilan di negara tempat penegakan dilakukan tidak dapat meninjau kembali substansi atau isi dari putusan tersebut. Penegakan hanya dapat ditolak dalam keadaan yang sangat luar biasa dan terbatas, terutama jika putusan ESCP tersebut tidak dapat didamaikan dengan putusan sebelumnya yang melibatkan para pihak yang sama dan pokok perkara yang sama di negara tersebut.[12]

Reformasi dan Modernisasi

Kekurangan Regulasi Awal

Sebuah laporan Komisi Eropa pada tahun 2013 mengidentifikasi beberapa kelemahan dalam implementasi awal ESCP. Salah satu kekurangan utamanya adalah ambang batas nilai klaim yang ditetapkan sebesar €2.000.[14] Batas ini dianggap terlalu rendah dan mengecualikan banyak klaim potensial dari konsumen dan, khususnya, UKM, yang sering kali memiliki sengketa dengan nilai sedikit di atas batas tersebut. Hal ini secara signifikan membatasi cakupan dan kegunaan praktis dari prosedur tersebut. Selain itu, prosedur ini masih dianggap memiliki beberapa kerumitan dan biaya tersembunyi, seperti biaya terjemahan dan kurangnya pemanfaatan teknologi modern.[7]

Regulasi (EU) 2015/2421

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Parlemen Eropa dan Dewan UE mengadopsi Regulasi (EU) 2015/2421 pada 16 Desember 2015, yang mulai berlaku pada 14 Juli 2017.[15] Amandemen ini memperkenalkan beberapa perubahan penting. Pertama, meningkatkan ambang batas klaim dari €2.000 menjadi €5.000.[14] Meskipun proposal awal sempat mempertimbangkan kenaikan hingga €10.000, batas €5.000 diadopsi sebagai kompromi untuk memperluas akses tanpa mengubah secara drastis sifat "klaim kecil" dari prosedur ini.[14]

Kedua, amendemen ini secara eksplisit mendorong dan dalam beberapa kasus mewajibkan penggunaan teknologi komunikasi jarak jauh. Pengadilan kini diharapkan untuk memfasilitasi sidang lisan dan pengambilan bukti melalui konferensi video atau telekonferensi, terutama ketika para pihak berada di negara yang berbeda. Tujuannya adalah untuk lebih menekan biaya perjalanan dan mempercepat proses.[13]

Regulasi baru juga mengklarifikasi aturan mengenai biaya pengadilan, memastikan biaya tersebut tidak boleh tidak proporsional dan harus memungkinkan metode pembayaran jarak jauh (misalnya, transfer bank atau kartu kredit). Selain itu, aturan mengenai peninjauan kembali putusan diperjelas untuk meningkatkan kepastian hukum bagi para pihak.[14]

Keuntungan dan Potensi

Secara teoretis, keuntungan ESCP dinilai sangat besar. Prosedur ini terbukti dapat mengurangi biaya litigasi lintas batas hingga 40% dan memangkas durasi penyelesaian sengketa secara drastis, dari rata-rata 2 tahun 5 bulan menjadi hanya 5 bulan.[16] Kesederhanaan prosedur—yang sebagian besar tertulis, tidak memerlukan pengacara, dan menggunakan formulir standar—serta mekanisme penegakan otomatis, menjadikannya alat yang sangat kuat di atas kertas untuk memberdayakan konsumen dan UKM.[17]

Tantangan dalam Praktik

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi ESCP adalah paradoks antara desainnya yang unggul dan tingkat penggunaannya yang sangat rendah di lapangan.[7] Terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab fenomena ini. Pertama, terdapat kekurangan pengetahuan yang mendalam tentang keberadaan dan cara kerja ESCP di kalangan masyarakat umum, UKM, praktisi hukum, dan bahkan hakim di tingkat nasional.[4]

Selain itu, meskipun biaya pengadilannya rendah, kewajiban untuk menerjemahkan formulir klaim dan dokumen pendukung ke dalam bahasa resmi pengadilan dapat menimbulkan biaya yang signifikan dan tak terduga, yang bertentangan dengan tujuan prosedur berbiaya rendah. Kemudian, walaupun kerangka hukum untuk penegakan otomatis sudah ada, pada praktiknya pihak yang menang masih bisa menghadapi kesulitan dalam menavigasi prosedur penegakan yang berbeda-beda di negara tergugat. Mereka mungkin kesulitan menemukan otoritas yang tepat atau memahami langkah-langkah praktis yang diperlukan.[18]

Banyak negara anggota UE tidak mengumpulkan data statistik secara terpisah untuk kasus-kasus ESCP. Hal ini menyulitkan para pembuat kebijakan untuk secara akurat mengevaluasi kinerja prosedur, mengidentifikasi titik masalah, dan merancang perbaikan yang efektif.[18]

Kritik Akademis

Para ahli hukum telah mengidentifikasi beberapa area di mana ESCP dapat diperbaiki lebih lanjut. Salah satu kritik utama adalah bahwa sifat prosedur yang sangat disederhanakan dan sebagian besar tertulis dapat menimbulkan risiko terhadap keadilan prosedural, terutama bagi pihak yang tidak diwakili oleh pengacara.[1] Beberapa akademisi berpendapat bahwa untuk mengimbangi risiko ini, hakim harus mengambil peran yang lebih aktif dan investigatif untuk memastikan semua fakta relevan terungkap, sebuah pendekatan yang mungkin tidak selalu konsisten dengan sifat pasif sistem peradilan di beberapa negara anggota.[19]

Kemudian, formulir standar ESCP juga dikritik karena terlalu rumit. Beberapa studi menunjukkan bahwa Formulir A (Formulir Klaim) mengandung pertanyaan-pertanyaan yang dapat dianggap sulit untuk dipahami dan dijawab oleh rata-rata konsumen tanpa bantuan hukum, yang berpotensi menjadi penghalang di awal proses.[20] Para ahli juga menyoroti kurangnya aturan yang seragam untuk beberapa aspek penting dari proses peradilan. Misalnya, tidak adanya batas waktu keseluruhan yang mengikat untuk pemberian putusan dan ketiadaan aturan banding (appeal) yang seragam di seluruh UE, yang mengurangi prediktabilitas dan dapat menciptakan ketidakpastian bagi para pihak.[21]

Terdapat pula kekhawatiran spesifik mengenai perlunya perlindungan yang lebih kuat bagi konsumen ketika mereka berada di posisi sebagai tergugat, untuk memastikan keseimbangan proses peradilan dan mencegah penyalahgunaan prosedur oleh pihak yang lebih kuat secara ekonomi.[21]

Proposal Reformasi Utama: Perluasan ke Kasus Domestik

Uni Eropa

Proposal reformasi yang paling signifikan dan berpotensi transformatif adalah gagasan untuk memperluas ruang lingkup ESCP agar tidak hanya mencakup kasus lintas batas, tetapi juga kasus-kasus domestik (sengketa antara pihak-pihak dari negara anggota yang sama).[22] Logika di balik proposal ini adalah untuk mengatasi masalah utama yang menghambat ESCP, yaitu kurangnya kesadaran dan familiaritas.

Jika pengacara dan hakim menggunakan prosedur yang disederhanakan ini secara rutin untuk kasus-kasus kecil di dalam negeri, mereka berpotensi untuk semakin familiar dengan mekanisme dan formulirnya. Familiaritas ini secara alami akan membuat mereka lebih cenderung untuk menggunakannya dalam kasus lintas batas ketika kesempatan itu muncul. Dengan kata lain, menjadikan ESCP sebagai alat sehari-hari di tingkat domestik akan menjadi program pelatihan paling efektif untuk penggunaannya di tingkat Eropa. Para pendukung argumen ini menyatakan bahwa ini akan menjadi solusi "dari bawah ke atas" untuk masalah kesenjangan implementasi.[22]

Pranala luar

Lihat Juga

Referensi

  1. ^ a b Giacalone, Marco; Seyedeh Sajedeh, Seyedeh Sajedeh (2022). "Small Claims and the Pursuit of (Digital) Justice: A Tiered Online Dispute Resolution Perspective" (PDF). Journal of European Consumer and Market Law (EuCML). 1: 181–213. doi:10.37417/rivitsproc/859.
  2. ^ a b European Union (EU). "European small claims procedure — rules governing cross-border legal disputes". European Union (EU) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 7 September 2025.
  3. ^ European Commission (Juli 2019). "Practice guide for the application of the European Small Claims Procedure" (PDF). Academy of European Law (ERA) / e-Justice Portal (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 September 2025.
  4. ^ a b Salehi, Seyedeh Sajedeh; Giacalone, Marco (2021). "The Implementation of the European Small Claims Procedure in Belgium" (PDF). Journal of European Consumer and Market Law (EuCML) (dalam bahasa Inggris). 2021 (2): 80–84. Diakses tanggal 2025-09-10.
  5. ^ a b European Consumer Centre (ECC) Ireland (8 Juli 2025). "European Small Claims Procedure". European Consumer Centre (ECC) Ireland (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 10 September 2025.
  6. ^ a b Union Internationale des Huissiers de Justice (UIHJ). "Toolkit on the European Small Claims Procedure". Union Internationale des Huissiers de Justice (UIHJ) (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 8 September 2025.
  7. ^ a b c d e Mańko, Rafał (November 2014). The European Small Claims Procedure (PDF) (In-depth Analysis) (dalam bahasa Inggris). European Parliamentary Research Service. EPRS_IDA(2014)542137_REV1_EN. Diakses tanggal 10 September 2025.
  8. ^ "Frequently Asked Questions: the European Small Claims Procedure 2.0". European Commission - European Commission. Diakses tanggal 2025-09-10.
  9. ^ a b c The National Archives (on behalf of the UK Government) (31 Januari 2020). "Regulation (EC) No 861/2007 of the European Parliament and of the Council" (dalam bahasa Inggris). The National Archives (on behalf of the UK Government). Diakses tanggal 10 September 2025.
  10. ^ Practical Law Dispute Resolution (31 Januari 2022). "European Small Claims Procedure" (dalam bahasa Inggris). Thomson Reuters. Diakses tanggal 10 September 2025.
  11. ^ Stoileva, Zorica (Januari 2023). "European Small Claim Procedure". ResearchGate. Diakses tanggal 8 September 2025.
  12. ^ a b c d e f g h i j k l m n European Union (31 Juli 2007). "Regulation (EC) No 861/2007 of The European Parliament and of the Council". European Union. Diakses tanggal 10 September 2025.
  13. ^ a b European Disability Forum (EDF) (02 Juli 2024). "European Small Claims Procedure". European Disability Forum (EDF) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 September 2025.
  14. ^ a b c d European Union (24 Desember 2015). "Regulation (EU) 2015/2421 of The European Parliament and of the Council". European Union (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 September 2025.
  15. ^ Huber, Stefan (2021). von Hein, Jan; Kruger, Thalia (ed.). The Reform of the European Small Claims Procedure: Foreign Body or Puzzle Piece within the System of European Civil Procedure?. Intersentia. hlm. 87–102. ISBN 978-1-83970-130-6.
  16. ^ European Commission (19 November 2013). "Frequently Asked Questions: the European Small Claims Procedure 2.0". European Commission. Diakses tanggal 10 September 2025.
  17. ^ Kramer, Xandra. "Introduction into the European Small Claims Procedure" (PDF). Academy of European Law (ERA). Diakses tanggal 10 September 2025.
  18. ^ a b European Commission, Directorate-General for Justice (September 2012). "European Small Claims Procedure Report" (PDF). The European Consumer Centres Network (ECC-Net). Diakses tanggal 11 September 2025.
  19. ^ Turroni, Davide (2025-05-06). "Judicial Powers of Initiative Under the European Small Claims Procedure". Revista Ítalo-española de Derecho procesal (dalam bahasa Inggris) (1): 75–82. doi:10.37417/rivitsproc/2915. ISSN 2605-5244.
  20. ^ Kramer, Xandra E. (Maret 2011). "Small claim, simple recovery? The European small claims procedure and its implementation in the member states" (PDF). Utrecht Law Review. 12: 119–133. doi:10.1007/s12027-011-0190-3.
  21. ^ a b Mańko, Rafał (Juli 2015). "Reform of the European Small Claims Procedure" (PDF). European Parliamentary Research Service (EPRS) (dalam bahasa Inggris). European Parliament. Diakses tanggal 12 September 2025.
  22. ^ a b Kyriakides, Nicolas; Ppasiou, Mary (April 2025). "The European Small Claims Procedure and the future of EU-wide procedural instruments". Revista Ítalo-española de Derecho procesal: 1–11. doi:10.37417/rivitsproc/2908.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement