Pematang Jaya, Rengat Barat, Indragiri Hulu
Pematang Jaya merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia.
Desa Pematang Jaya saat ini dipimpin Kepala Desa Aprizon, SE. Dia disebut-sebut warga sebagai pemimpin bertanggung jawab dan ramah terhadap penduduk. Salah satu programnya memajukan akses jalan raya. Menurut dia, hal itu untuk memudahkan akses transportasi warga.
Desa Pematang Jaya berdiri tahun 1991. Nama desa ini berasal dari kata pematang berarti perkampungan dan jaya artinya maju. Untuk mewujudkan desa ini mandiri dan maju, salah satu caranya adalah memanfaatkan potensi alam dan sumber daya manusia secara optimal.
Penduduk Pematang Jaya didominasi oleh suku Jawa, sehingga berbagai tradisi dan kebiasaan Jawa diwariskan turun-temurun di sini. Upacara adat Tedak Siten, Tingkeban, Tumpengan serta nilai-nilai seperti nrimo ing pandum (menerima pemberian Tuhan dengan ikhlas) dan sopan santun berkembang di desa ini. Kesenian tradisional seperti wayang kulit dan gamelan juga dapat dinikmati di Pematang Jaya.
Komunikasi masyarakat Pematang Jaya umumnya komunikasi langsung, melalui arisan dan pengajian, duduk duduk depan rumah, gotong royong, pengumuman di masjid atau musholla. Jenis bahasa komunikasi, ada yang menggunakan bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, serta bahasa campuran, yaitu mencampurkan bahasa Indonesia dalam bahasa suku masing masing. Hal ini dilakukan agar bahasa suku maupun adat istiadat tetap lestari. Wrganya saling menyapa dan saling menggunakan tutur bahasa yang sopan. Meskipun komunikasi langsung dominan disini, ada juga warga menggunakan media moderen seperti handphone, terutama untuk komunikasi dengan kerabat jauh.
Di desa ini penggunaan batik dan kebaya untuk pakaian sehari hari oleh orang kebanyakan adalah lumrah. Pertunjukan kesenian yang sering gelar adalah jaran kepang yang dipadukan dengan singa barong (topeng raksasa berbentuk kepala harimau dengan hiasan merak). Di desa ini juga terdapat berbagai macam permainan tradisional seperti, gasing kayu, layang-layang, dan juga bedil dari bambu atau spiritus yang dimainkan anak anak muda sebagai hiburan terutama di bulan puasa.
Di desa ini terdapat pandai besi tradisional yang sudah lama berdiri. Tukangi besi ini membuat berbagai jenis alat alat untuk para petani. Dia menerima permintaan pelanggan untuk membuat barang yang diinginkan. Alat dan bahan yang digunakan masih tradisional, arang, penghembus bara, palu, landasan besi, dan besi per suspensi serta bongkahan baja bekas sebagai bahan yang diolah.
Sebagai wadah petani mereka membentuk kelompok tani. Kumpulan petani, pekebun,dan peternak. Tujuannya prasarana meningkatkan dan mengembangkan usaha atau pengetahuan pertanian. Disini mereka belajar penggunaan teknologi tepat guna, dan cara pengolahan lahan yang lebih efisien. Mereka sering melakukan melakukan pepaghian pada berbagai tahapan budidaya usaha taninya.
Jalan merupakan sarana vital di desa ini. Sehingga perbaikan dan pemeliharaan jalan menjadi kegiatan yang sering dilakukan dengan banyak peserta. Hal itu karena jalanan licin saat hujan, dengan bersama-sama warga menjadikan jalanan desa bisa dilewati saat hujan karena telah disemen, terutama pada tanjakan dan tikungan. [1]
Pematang Jaya terkenal sebagai salah satu produsen bibit sawit. Usaha tani ini bahkan dilakukan ibu rumah tangga dengan memanfaatkan halaman rumahnya sebagai tempat pembibitan. Hal ini merupakan salah satu pemanfaatan keterampilan warga dalam menghasilkan bibit sawit yang berkualitas, serta ditopang posisi Pematang Jaya sentral bagi desa-desa sekitarnya.[2]
Perubahan pola tani terjadi juga di desa ini. Sejak tahun 80an masyarakat mengusahakan tanaman karet, tapi sejak 200an berganti dengan tanaman sawit. Hal ini dipicu oleh sarana dan prasarana produksi pertanian sawit lebih mudah diperoleh, selain banyak warga yang beralih ke sawit.[3]
Mobilitas penduduk tidak dapat dielakkan di desa ini. Beberapa warga merantau ke kota atau daerah lain untuk mendapatkan pekerjaan selain bertani. Ke daerah lain untuk mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan yang mereka inginkan juga ada, meskipun banyak anak mudanya ulang-alik (komutasi) dalam hal pendidikan dan pekerjaan.[4]
Pembauran Budaya
Desa Pematang Jaya didominasi oleh suku Jawa sehingga banyak sekali adat istiadat berupa tradisi dan kebiasaan berlangsung disini. Misalnya upacara adat seperti Tedak Siten, Tingkeban, Tumpengan serta nilai-nilai seperti nrimo ing pandum (menerima pemberian Tuhan dengan ikhlas) dan sopan santun. Kesenian tradisional seperti wayang kulit dan gamelan juga ada disini.
Sebenarnya, kebudayaan Jawa di Pematang Jaya telah terpengaruh oleh kebudayaan Melayu yang merupakan kebudayaan utama di Indragiri Hulu. Pembauran budaya itu saling memperkaya kebudayaan Jawa maupun Melayu. Misalnya, pada upacara adat pernikahan, sebelum pernikahan dilakukan Pasang Tarub, yaitu pemasangan atap sementara dan dekorasi janur melengkung sebagai penanda dimulainya acara.
Sungkem Awal, calon pengantin meminta restu dan izin kepada orang tua untuk melaksanakan pernikahan, dalam budaya Melayu disebut pesombahan.
Siraman, yaitu prosesi pembersihan diri calon mempelai dengan air bunga sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin. Dalam budaya Melayu dikenal dengan betangas.
Adol Dawet: Orang tua pengantin menjual dawet kepada tamu, dilambangkan dari alat pembayarannya yang berasal dari bumi. Midodareni, yaitu malam sebelum akad nikah, di mana calon pengantin wanita tidak boleh keluar rumah, melambangkan bidadari yang menunggui calon mempelai wanita. Dalam budaya Melayu disebut bepingit dan malam beinai.
Setelah Pernikahan (Temu Manten), Balang Gantal, melempar sirih yang diikat benang putih sebagai simbol kasih sayang dan pengikat hubungan. Wijikan, pengantin wanita menyirami kaki pengantin pria, menunjukkan kerendahan hati dan takzim. Ngidak Endog, pengantin pria menginjak telur, yang dilambangkan untuk memberikan keturunan dan keberlangsungan generasi. Sinduran, kain sindur berwarna merah dan putih digunakan untuk menutupi kedua mempelai, simbol gairah dan keberanian dalam pernikahan. Bobot Timbang:, kedua mempelai didudukkan dikursi, lalu orang tua akan menanyakan "berat mana" antara keduanya. Jawaban bahwa "beratnya sama" menandakan kasih sayang yang setara dari kedua pihak. Kacar-Kucur, pengantin pria menuangkan beras kuning, uang, dan biji-bijian ke pangkuan pengantin wanita sebagai simbol rezeki yang akan diberikan. Tradisi yang hampir serupa dalam Melayu yang disebut Tepuk Tepung Tawar.
Juga dilaksanakan prosesi Dulangan, saling menyuapi makanan sebagai simbol pemandu kasih dan upaya melayani pasangan. Sungkem Terakhir, pasangan penganten kembali memohon restu dan maaf kepada orang tua, serta Bubak Kawah dan Tumplek Punjen, yaitu ritual khusus untuk anak pertama (bubak kawah) dan anak terakhir (tumplek punjen) sebagai bentuk rasa syukur orang tua.
Pranala luar
- (Indonesia) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-145 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau tahun 2021
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
- (Indonesia) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
Referensi
- ^ Naekteas, Yohanes Didimus (2025-05-31). "ANALISIS PEMBANGUNAN JALAN USAHA TANI (STUDI KASUS TERHADAP PEMBANGUNAN JALAN USAHA TANI DI DESA FAFINESU A, KECAMATAN INSANA FAFINESU, KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA)". Journal I La Galigo : Public Administration Journal. 9 (1): 31–36. doi:10.35914/.3224. ISSN 2684-9933.
- ^ Yuana, Ambayu (2021-04-01). "Kerentanan Petani Lahan Sempit Pasca Perubahan Agroforestry (Studi Kasus pada Perubahan Usaha Tani Tebu Menjadi Usaha Tani Sengon)". Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis. 5 (2): 298–305. doi:10.21776/ub.jepa.2021.005.02.02. ISSN 2614-4670.
- ^ Ramadhan, Aditya (2024-11-08). "PERUBAHAN BENTUK DAN FUNGSI ALUN-ALUN BANDUNG". DESA - DESIGN AND ARCHITECTURE JOURNAL. 4 (2): 58–68. doi:10.34010/desa.v4i2.14387. ISSN 2747-2469.
- ^ Ulfah Zakiyah; Ghifari, Muhammad (2025-01-17). "PEREMPUAN YANG MENINGGALKAN ANAK UNTUK BEKERJA DALAM PERSPEKTIF HADIS". AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies. 5 (2): 111–122. doi:10.51875/alisnad.v5i2.511. ISSN 2775-3247.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


