Musik Jidur Pedamaran
Musik Jidur Pedamaran atau dikenal pula dengan sebutan Tanjidor Pedamaran merupakan kesenian musik tradisional masyarakat Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Kesenian ini berupa musik orkestra tradisional yang dimainkan secara berkelompok dengan perpaduan alat musik tiup dan perkusi. Musik Jidur menjadi salah satu warisan budaya yang masih lestari di tengah masyarakat Pedamaran dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2023 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui SK Nomor 315/M/2023 dalam domain Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta.[1]
Sejarah dan perkembangan
Musik Jidur diyakini berkembang di wilayah Pedamaran pada awal abad ke-19, berakar dari tradisi musik tanjidor yang dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian diperkenalkan kembali oleh Belanda di Indonesia. Musik ini pertama kali berkembang di Desa Cinta Jaya, Kecamatan Pedamaran, yang pada masa itu dihuni oleh masyarakat yang hidup di atas rakit di Sungai Babatan. Komunitas inilah yang menjadi pelopor pengembangan musik Jidur di wilayah Pedamaran.[2][3]
Awalnya, Jidur berfungsi sebagai musik arak-arakan pengantin atau berarak, namun seiring waktu berkembang menjadi bentuk pertunjukan yang lebih kompleks dan dikenal juga dengan istilah orkesan Jidur. Dalam bentuk ini, Jidur tidak lagi hanya dimainkan untuk arak-arakan, melainkan juga ditampilkan sebagai musik pertunjukan pada berbagai kegiatan budaya masyarakat Pedamaran seperti acara pernikahan, khitanan, dan pawai tradisional.[4]
Instrumen musik
Musik Jidur dimainkan oleh sekitar 12 orang pemain dengan menggunakan berbagai alat musik tiup dan perkusi.[2] Instrumen yang lazim digunakan antara lain: terompet, saxophone alto, saxophone tenor, alto horn, bariton, dan tuba sebagai instrumen melodis; bass drum, snare drum (tambur), dan simbal sebagai instrumen ritmis; keyboard dan gitar bass yang ditambahkan dalam perkembangan modern sejak tahun 2013 untuk memperkaya harmoni dan memperkuat irama.[4]
Perpaduan alat musik ini menghasilkan komposisi yang dinamis dan meriah, menjadikan Jidur sebagai musik yang menggugah semangat kebersamaan masyarakat. Dalam versi tanjidor klasik, digunakan pula klarinet, trombon, tuba tenor, dan triangle, yang semuanya berperan menciptakan harmoni khas musik Jidur.[4]
Fungsi dan makna sosial
Bagi masyarakat Pedamaran, Musik Jidur memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Ia berfungsi sebagai pengiring upacara adat dan perayaan, seperti arak-arakan pengantin, acara khitanan, pesta panen, serta perayaan Hari Kemerdekaan. Musik ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan antarwarga.[5]
Selain itu, Jidur juga sering dipadukan dengan Cang Incang, yaitu seni tutur tradisional masyarakat Pedamaran.[5] Keduanya menciptakan harmoni pertunjukan seni yang menggambarkan nilai-nilai lokal, sejarah, dan identitas budaya masyarakat Pedamaran. Dalam konteks ini, Jidur bukan hanya kesenian, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan daerah.
Pelestarian dan pengakuan
Upaya pelestarian Musik Jidur terus dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bekerja sama dengan seniman lokal. Penetapan Musik Jidur sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2023 menjadi tonggak penting dalam perlindungan dan pengembangan kesenian tradisional ini.[6]
Dalam sidang penetapan WBTB Indonesia tahun 2023 yang digelar di Jakarta, Musik Jidur Pedamaran diakui bersama sejumlah karya budaya lain dari Sumatera Selatan, seperti Cang Incang Pedamaran, Tari Erai-erai, dan Telok Abang Palembang. Pengakuan ini menegaskan posisi Musik Jidur sebagai bagian penting dari kekayaan budaya nasional Indonesia.
Lihat pula
Referensi
- ^ "Musik Jidur Padamaran". referensi.data.kemendikdasmen.
- ^ a b Kab. Ogan Komering Ilir. "Musik Jidur / Tanjidur / Pedamaran". giwang.sumselprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-02.
- ^ okinews.bacakoran.co. "Mengenal Tanjidor Pedamaran, Musik Tradisional yang Kaya Nilai Sejarah". okinews.bacakoran.co. Diakses tanggal 2025-11-02.
- ^ a b c Yelli, Nofroza dan Yuriska Plastika. "ALAT MUSIK DALAM KESENIAN ORKESAN JIDUR KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SUMATERA SELATAN" (PDF). Jurnal Pendidikan Seni dan Seni, FKIP Universitas PGRI Palembang. Vol IV (No. 1). ; ;
- ^ a b Zamhari, Ahmad, Meva Maulani, Revi Mariska, Isaria, Feriska Utami, Yeyen Sunarli (2024). "Cang Incang Dan Jidur Pedamaran Sebagai Warisan Adat Dan Budaya Pedamaran". INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research. Volume 4 (Nomor 6): 9256–9263. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ "Cang Incang dan Jidur Pedamaran Warisan Budaya Tak Benda OKI yang Kini Diakui secara Nasional". giwang.sumselprov.go.id. 17-11-2023. Diakses tanggal 2025-11-02. ;
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


