Legenda Gunung Daik
Gunung Daik merupakan gunung tertinggi di provinsi Kepulauan Riau dengan ketinggian mencapai 1.165 meter dpl dan memiliki tiga cabang puncak. Bentuk puncak yang terbelah tiga menyerupai gigi naga, sehingga dikenal sebagai Gunung Gigi Naga. Gunung Daik ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2021 oleh pemerintah dan diakui sejarah serta bagian dari budaya melayu.[1] Masing-masing cabang puncak Gunung Daik memiliki nama sebagai berikut, cabang sebelah kanan dengan bentuk paling besar bernama Gunung Lingga, cabang tengah dengan ciri-ciri tegak menjulang dan runcing bernama Pejantan, sedangkan cabang sebelah kiri dengan bentuk paling pendek dinamai Cindai Menangis.[2]
Lokasi
Gunung Daik terletak pada Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Jalur pendakian Gunung Daik dapat dilalui dengan melewati tebing yang curam dan berbatu. Pada puncak Gunung Daik, terpancar keindahan alam berupa hamparan lautan yang luas dengan pulau-pulau di sekitarnya.[1]
Budaya dan Makna Simbolik
Gunung Daik mempunyai daya tarik dari wisatawan melayu, seperti Malaysia, Singapura, hingga dari Brunei Darussalam, dengan nilai budaya yang tinggi sebagai sastra melayu serta menjadi simbol lambang Kabupaten Lingga. Gunung Daik terdiri dari tiga cabang yang memiliki makna simbolik, berupa lambang kekuasaan Melayu yang terpecah belah karena penjajahan dan perebutan kekuasaan. Terdapat pula sebuah ungkapan, "Patah satu, tinggal dua," yang bermakna meskipun ada suatu hal yang hancur atau hilang, akan tetapi masih ada harapan yang tersisa.[1]
Cerita
Menurut kepercayaan masyarakat, cabang Cindai Menangis dari Gunung Daik sebelah kiri dikisahkan menjadi cabang terpendek karena mengalami patah puncaknya dan jatuh menjadi Pulau Pandan. Pulau Pandan adalah pulau tidak berpenghuni yang terletak di sebelah Pulau Lingga. Patahnya Gunung Daik dikenal sebagai cerita rakyat yang turun-temurun menjadi sebuah legenda Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Cerita patahnya Gunung Daik berawal dari adanya pertarungan antara Datuk Kaya Kuning dengan Mak Yah, seorang wanita penguasa Lingga. Pertarungan yang dilakukan adalah adu kekuatan dengan tantangan mematahkan salah satu puncak Gunung Daik. Sebelum pertarungan dimulai, Datuk Kaya Kuning dan Mak Yah membuat perjanjian yang berisi pernyataan bahwa, jika Mak Yah kalah maka kekuasaan Mak Yah akan jatuh kepada Datuk Kaya Kuning. Percobaan pertama dilakukan oleh Mak Yah, tetapi usaha kerasnya tidak dapat mematahkan Gunung Daik dan menyerah. Kemudian Datuk Kaya Kuning mencoba dan dengan kesaktiannya berhasil mematahkan salah satu puncak Gunung Daik. Patahan puncak cabang Gunung Daik jatuh dan menjadi pulau bernama Pulau Pandan. Setelah kekalahan yang diakui oleh Mak Yah, kekuasaan Lingga jatuh ke tangan Datuk Kaya Kuning yang menjadi raja laut Lingga.[2]
Referensi
- ^ a b c admin (2025-05-20). "Sejarah Gunung Daik Bercabang Tiga". Media Pesisir. Diakses tanggal 2025-11-17.
- ^ a b admin (2021-04-05). "CERITA PATAHNYA GUNUNG DAIK". Diakses tanggal 2025-11-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


