Budaya Melayu Riau Indragiri
Melayu adalah salah satu suku bangsa yang berasal dari ras Proto Melayu, Deutro Melayu maupun ras Melayu Mongoloid. Ras adalah pengelompokan atau klasifikasi manusia berdasarkan ciri-ciri fisik dan ciri-ciri karakternya.
Banyak pendapat tentang asal mula nenek moyang orang Melayu. Ada yang mengatakan dari suku Dravida di India, ada yang menyebut dari Mongolia, ada juga berpendapat campuran antara Dravida dan Aria kemudian kawin dengan ras Mongolia.[1]
Hopper menyebut, antara 2500 - 1500 SM orang Austronesia atau Melayu Polinesia menjelajah dari Yunnan di Tiongkok Selatan, menuju Birma - Siam - Indocina sampai Malaya. Kemudian masuk ke Nusantara, Papua Nugini dan wilayah Pasifik sampai Hawaii, Pulau Paskah, hingga Selandia Baru.[2]
Proto Melayu atau Melayu Tua adalah nenek moyang orang Melayu gelombang pertama yang mendarat di Nusantara, sekitar 3000 - 2500 SM. Disinyalir keturunan mereka saat ini adalah Suku Talang Mamak, Suku Sakai, Suku Bonai, dan Suku Orang Laut. Sedangkan Deutro Melayu atau Melayu Muda datang sekitar 300 - 250 tahun SM, inilah nenek moyang orang Melayu modern sekarang ini. Melayu Mongoloid adalah keturunan dari perkawinan silang antara Proto Melayu, Deutro Melayu, serta pendatang berikutnya.
Melayu

Ada beberapa pendapat berkenaan asal kata Melayu, antara lain; mala (berarti mula atau pertama sekali) dan yu (artinya negeri), yaitu negeri atau tanah yang semula jadi dihuni oleh manusia. Melayu diartikan juga sebagai daratan yang tinggi atau berbukit, berasal dari kata melayur (Tamil). Dari bahasa Jawa, melayu diartikan sebagai suku yang suka bepergian / merantau, berlari atau berjalan cepat. Melayu juga nama sungai yang terdapat di Johor (Malaysia) dan Berngkahulu (Bengkulu). Sehingga Melayu adalah suatu negeri yang mula-mula didiami, mendapat banyak hujan, berada di perbukitan, serta memiliki bamyak sungai dan penduduknya suka berjalan jauh.[1]
Menurut UU. Hamidy, istilah Melayu baru dikenal sekitar tahun 644. Dalam sebuah jurnal beraksara Cina tertulis Mo-lo-yeu, yang merupakan sebuah kerajaan yang mengirim utusan ke Cina sembari membawa barang hasil bumi.
Menurut UU. Hamidy, Melayu dalam arti luas adalah suatu bangsa di kawasan Polinesia, Austronesia dan Melanesia, yang memiliki kebudayaan yang sama antara lain suka makan sirih, makanan atau minuman yang diasamkan, bertani dan melaut. Sedangkan dalam arti sempit, adalah penduduk yang pernah menjadi anak negeri kerjaaan Melayu di Jambi (sekitar abad IV - V), kerjaan Melayu Sriwijaya (abad VII - XI), kerjaan Melayu Melaka (abad XIV - XVI), Deli Langkat, Riau Lingga, Johor Pahang, Siak Sri Indrapura, Indragiri, Brunei Darussalam.[1]
Bahasa dan Kawasan Melayu
Wilhelm von Humboldt (Jerman) menyebut bahasa Melayu Polinesia dan Austronesia terhadap bahasa yang dipakai masyarakat di Nusantara dan Kepulauan Polinesia, yaitu kawasan yang terdapat di antara Pulau Paas (Cristmas) di Timur, Pulau Madagaskar di Barat, Pulau Formosa (Taiwan) di Utara, dan New Zealand di Selatan.[1]
Kesamaan bunyi dan beberapa kosakata yang terdapat dalam bahasa suku-suku di Asia, dikaji oleh H.N van der Tuuk dan W. Schmidt serta H. Kern. Bahasa itu disebutnya Bahasa Melayu Polinesia. Ada 30 kata yang nyaris sama, yaitu nama tumbuhan, hewan, serangga dan peralatan sehari-hari.[1]
Perkembangan bahasa Melayu tidak lepas dari peran Kerjaaan Sriwijaya dan Kerajaan Melaka. Ketika itu bahasa Melayu menjadi bahas resmi termasuk untuk perdagangan antar bangsa, seni dan agama. Inilah penyebab prasasti-prasasti dan kitab suci Hindu dan Buddha beraksara Melayu yang diperkaya Sanskerta. Serta lahirnya sastra lisan Melayu, termasuk mantera. Sedangkan untuk ilmu pengetahuan, bahasa Melayu diperkaya oleh bahasa Arab, sehingga melahirnya aksara Arab-Melayu.[1]
Kawasan Melayu meliputi Pulau Sumatera sebagian besar belahan Timur, Semenanjung Melaka, Kalimantan belahan Utara dan Barat, serta daerah Kepulauan Selat Melaka dan Kepulauan Riau.
Referensi
- ^ a b c d e f Hamidy, UU. (1996). Orang Melayu di Riau. Pekanbaru: UIR Press. hlm. 15. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Hopper, Richard H. (2015). Ribuan Tahun Sumatera Tengah Sejarah Manusia, Rempah, Timah dan Emas Hitam. Depok: Komunitas Bambu. hlm. 6. ISBN 979-3731-88-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


