Langendriya Yogyakarta

Langendriya di Keraton Ngayogyakarta pada tahun 1885

Langendriya Yogyakarta adalah drama tari gaya Yogyakarta yang berawal dari tradisi macapatan, yaitu memadukan antara membaca atau melantunkan tembang. Bentuk seni pertunjukan ini menggabungkan tarian dengan dialog yang dinyanyikan secara macapat dan mengambil cerita dari epos seperti Damarwulan. Ciri khasnya adalah gerakan tari yang lembut tetapi atraktif, termasuk gerakan jongkok dan berlutut, serta dominasi dialog yang disajikan melalui tembang.[1]

Langendriya lahir dari gagasan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Mangkubumi, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VI yang memerintah pada periode 1855–1877. Tokoh ini dikenal pernah menjabat sebagai Lurah Pangeran sekaligus Ajudan Gubernur Jenderal. Kelahiran drama tari opera Langendriya berakar dari tradisi macapatan yang berkembang di Dalem Mangkubumen, yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Dalem Kadipaten. Kegiatan macapatan merupakan tradisi pembacaan tembang berirama yang biasanya dilaksanakan setiap bulan Pasa atau Ramadhan. Aktivitas ini berfungsi sebagai pengganti latihan tari yang dihentikan sementara selama bulan puasa, sekaligus menjadi wadah pengembangan ekspresi seni yang kemudian melahirkan bentuk dramatari Langendriya.[2]

Karakteristik

Keunikan kesenian Langendriya terletak pada gaya tari yang khas, yakni dibawakan dalam posisi jengkeng, yaitu sikap tubuh merendah dengan lutut ditekuk, paha terbuka, dan lutut tidak menyentuh lantai. Posisi ini bukan sekadar bentuk artistik, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai penghormatan terhadap tradisi Wayang Wong Keraton Yogyakarta, yang umumnya dipentaskan dalam posisi berdiri.

Meskipun memiliki ciri khas tersendiri, Langendriya tetap mempertahankan sejumlah unsur yang diadaptasi dari Wayang Wong Keraton Yogyakarta. Unsur-unsur tersebut antara lain kehadiran pemaos kandha atau pembaca cerita yang berfungsi menyampaikan alur kisah kepada penonton, serta pemukul keprak[3] yang bertugas memberikan aba-aba kepada para penari maupun penabuh gamelan selama pertunjukan berlangsung.

Dialog Pementasan

Dialog dalam Langendriya disajikan melalui tembang macapat, yang dinyanyikan sesuai dengan suasana dan karakter tokoh yang diperankan. Struktur karakter dalam Langendriya juga menunjukkan pengaruh kuat dari Wayang Wong. Sebagai perbandingan, tokoh Damarwulan dalam Langendriya memiliki kemiripan sifat dan peran dengan Arjuna dalam Wayang Wong, sedangkan Ratu Ayu Kencanawungu dapat disepadankan dengan tokoh Dewi Suprabawati.[4]

Pertunjukan

Bangsal Kasatriyan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Langendriya pertama kali dipentaskan di Dalem Mangkubumen dan segera menarik perhatian para bangsawan serta masyarakat umum. Daya tarik pertunjukan tersebut membuat Sri Sultan Hamengku Buwono VII turut memberikan apresiasi terhadap kesenian ini. Pada tahun 1907, Langendriya kemudian dipentaskan di dalam kompleks Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk memeriahkan peringatan 40 hari resepsi pernikahan Putra Mahkota dengan Putri KGPA Mangkubumi. Pementasan yang berlangsung di Bangsal Kasatriyan itu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dalam rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga mengandung nilai nasihat bagi kedua mempelai melalui alur cerita yang dibawakan dalam pertunjukan.[1]

Referensi

  1. ^ a b crew, kraton. "Langendriya, Opera Tari Gaya Yogyakarta". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-12.
  2. ^ "Langendriya". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-12.
  3. ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 51
  4. ^ JEJAK SOSIO-HISTORIS PENCIPTAAN DRAMATARI JAWA (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 2025-11-12

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement