Wayang Wong Gagrag Yogyakarta

Pentas Wayang Wong

Wayang Wong Gagrag Yogyakarta adalah seni pertunjukan drama tari yang berakar dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat, menggabungkan tarian, drama, musik gamelan, kostum, dan cerita dari wiracarita seperti Mahabharata dan Ramayana. Ciri khasnya adalah keanggunan gerak tarian yang dipadukan dengan dialog-dialog khas, penggunaan bahasa bagongan dan krama inggil, serta pementasan yang cenderung bersahaja tetapi tetap memukau, yang diciptakan pertama kali oleh Sultan Hamengku Buwono I.[1]

Latar belakang

Wayang wong diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I dengan tujuan utama bersifat estetis, yakni sebagai sarana untuk menampilkan pertunjukan drama tari yang merepresentasikan kisah-kisah kepahlawanan para kesatria dalam epos Mahabharata. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII, pementasan wayang wong dilaksanakan di area sebelah timur Bangsal Kencana, yang dikenal dengan sebutan Tratag Bangsal Kencana atau Tratag Wetan.[2]

Pada tahap awal perkembangannya, busana yang dikenakan oleh para pemain wayang wong masih tergolong sederhana. Kesederhanaan kostum tersebut menuntut kemampuan penjiwaan yang tinggi dari para penari, sebab tanpa atribut atau identitas pakaian yang menonjol, mereka harus mampu membedakan karakter satu dengan lainnya melalui ekspresi dan gerak tubuh.[1]

Hiasan kepala penari laki-laki pada masa itu dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu dester tepen yang digunakan oleh pemeran prajurit dan ksatria, songkok untuk peran raja, serta udeng gilig yang dipadukan dengan topeng bagi pemeran raksasa. Sementara itu, hiasan kepala penari perempuan terdiri atas jamang, sumping ron, dan gelung bokor, yaitu sanggul yang bentuknya menyerupai tempayan.[1]

Pembaruan

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII, terjadi proses pembaruan dan perubahan dalam tata busana Wayang Wong. Rancangan busana tersebut dibuat oleh K.R.T. Jayadipura dengan menjadikan tata busana Wayang Kulit sebagai dasar acuan. Pendekatan ini bertujuan untuk mempermudah penonton dalam membedakan peran antar tokoh dalam pementasan. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, Wayang Wong mencapai bentuk penyajiannya yang lebih sempurna dan teratur. Sri Sultan Hamengku Buwana VIII bahkan dikenal memiliki peran penting dalam perkembangan seni pertunjukan ini, karena beliau kerap berpartisipasi langsung sebagai pengarah atau “dalang” dalam pementasan. Selain mengawasi jalannya pertunjukan, beliau juga berperan dalam penyusunan naskah lakon yang akan dipentaskan.[3]

Referensi

  1. ^ a b c "Wayang Wong Gaya Yogyakarta". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-12.
  2. ^ crew, kraton. "Wayang Wong, Drama Tari Kenegaraan Keraton Yogyakarta". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-12.
  3. ^ Redaksi (2021-03-28). "Kagama Berbudaya 3: Pengenalan Wayang Gagrak Ngayogyakarta". KAGAMA. Diakses tanggal 2025-11-12.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement