Halaban, Lareh Sago Halaban, Lima Puluh Kota

Halaban
Gunung Sago
Negara Indonesia
ProvinsiSumatera Barat
KabupatenLima Puluh Kota
KecamatanLareh Sago Halaban
Kodepos
26262
Kode Kemendagri13.07.09.2006 Suntingan nilai di Wikidata
Luas66,15 km²
Jumlah penduduk5.649 jiwa
Kepadatan155 jiwa/km²
Situs webnagarihalaban.com
Peta
PetaKoordinat: 0°20′20.400″S 100°46′33.600″E / 0.33900000°S 100.77600000°E / -0.33900000; 100.77600000


Halaban adalah nagari yang berada di kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia.

Sejarah

Menurut cerita turun temurun, nenek moyang anak Nagari Halaban berasal dari Nagari Limo Kaum daerah Pariangan, Padang Panjang sekitar abad ke 7.

Mereka datang dengan sejumlah rombongan. Salah satunya berjalan dari Limo Kaum menuju Koto Lalang yang terletak di pinggir Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara.

Tak lama di Koto Lalang, mereka melanjutkan perjalanan ke arah Kalo-Kalo terus ke Tabek Panjang Kenagarian Lubuak Jantan berikut melintasi Batang Sinamar menuju Tanjung Lansek dan Pamasian.

Setelah beberapa lama menetap di Pamasian, melanjutkan perjalanan menelusuri Batang Sinamar dan selanjutnya menuju Gunung Sago yang kini Taratak Tinggi. Lantaran Taratak Tinggi tidak memungkinkan untuk membuat areal persawahan, rombongan berikutnya kembali perjalanan ke arah Gunung Sago.

Selanjutnya, rombongan terpencar dan ada yang sampai di pinggiran Batang Sinamar di Lubuak Lompek, ada pulo yang terus ke Atas Koto. Selang beberapa lama, mereka berkumpul kembali dan membuat perkampungan di Koto Lambuak Tuo serta membuat dusun-dusun yang antara lain bernama :

  1. Dusun Lareh Nan Panjang
  2. Dusun Lompek
  3. Dusun Kabun

Konon nama Halaban berasal dari kata halal dan laban. Halal artinya baik atau boleh, sedangkan laban artinya susu. Halaban berarti susu yang baik atau halal. Kata tersebut berasal dari pernyataan utusan Syehk Bantan yang bernama Pakiah Badangkiang yang mendapati Nenek Juaro sedang memerah susu sapi dan mengatakan halal laban atau susu yang baik atau halal.[1]

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

Pada saat ibu kota Indonesia di Yogyakarta ditaklukkan oleh Belanda saat Agresi Militer Belanda II dan para pemimpin negara seperti Soekarno, Moh Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim ditangkap dan diasingkan keluar Jawa.

Mendengar ibu kota ditaklukkan Belanda, Sjafruddin Prawiranegara[2] dengan beberapa tokoh lainnya seperti Teuku Mohammad Hasan, Kolonel Hidayat mengadakan rapat di kediaman gubernur Sumatera Tengah di Bukittinggi dan kemudian menuju ke Halaban untuk membentuk PDRI.[3]

Geografis

Batas Wilayah

Arah Batas
Utara Nagari Tanjuang Gadang
Selatan Nagari Tanjuang Bonai, Kab. Tanah Datar
Timur Nagari Ampalu, Nagari Unggan Kab. Sijunjung, dan Kab. Kampar, Riau
Barat Gunung Sago

Demografis

Menurut data BPS tahun 2024, Halaban memiliki penduduk berjumlah 5.649 jiwa[4] dengan tungkat kepadatan 155 jiwa/km².[5]

Perekonomian

Perekonomian utama masyarakat Halaban adalah dengan bertani dengan komuditas utama adalah tanaman padi. Selain padi, masyarakat halaban juga membudidayakan komuditas lain seperti jangung, ubi, gambir, dan nanas.[6] [7]Dibidang pariwisata, perekonomian Halaban berasal dari tempat wisata pemandian alami Air Babar. Pada bidang kebudayaan perekonomian Halaban berasal dari ekonomi kreatif para pengrajin songket Halaban yang sudah menjadi salah satu komuditas ekspor Halaban.[8]

Jorong

  1. Air Babar
  2. Alang Laweh
  3. Atas Laban
  4. Kabun
  5. Kapalo Koto
  6. Lambuak
  7. Lompek
  8. Padang Tangah

Fasilitas

Pendidikan

  • Tk & Paud 1 unit (Swasta)
  • SD Negeri 5 unit
  • SMP Negeri 1 unit
  • MTS Halaban

Kesehatan

  • Puskesmas 1 unit
  • Puskesmas pembantu 1 unit
  • Posyandu 9 unit
  • Poskesri 3 unit

Kantor pemerintahan

  • Kantor wali Nagari 1 unit
  • Kantor wali Jorong ... unit

Perdagangan

Agama

  • Masjid 8 unit
  • Mushalla 17 unit[9]

Peristiwa penting

  1. Tempat deklarasi Pemerintah Darurat Republik Indonesia


Referensi

  1. ^ "Berita". limapuluhkotakab.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-02-03. Diakses tanggal 2021-09-30.
  2. ^ Efendi, Feni (2019). Jejak yang terlupakan: menyusuri jejak Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam menjalankan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dalam masa Agresi Militer kedua Belanda di Sumatera Tengah. Yogyakarta: Penerbit JBS. ISBN 9786239067281. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Welianto, Ari (2020-03-08). Welianto, Ari (ed.). "Sejarah dan Peran PDRI". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-13. Diakses tanggal 2021-12-18.
  4. ^ Kota, Badan Pusat Statistik Kabupaten Lima Puluh. "Jumlah Penduduk Menurut Nagari di Kecamatan Lareh Sago Halaban - Tabel Statistik". limapuluhkotakab.bps.go.id. Diakses tanggal 2026-01-25.
  5. ^ Kota, Badan Pusat Statistik Kabupaten Lima Puluh. "Kepadatan Penduduk Menurut Nagari di Kecamatan Lareh Sago Halaban per km2 - Tabel Statistik". limapuluhkotakab.bps.go.id. Diakses tanggal 2026-01-25.
  6. ^ "Desa Wisata Nagari Halaban". jadesta.kemenpar.go.id. Diakses tanggal 2026-01-26.
  7. ^ "Berita BRMP Sumatera Barat - BSIP Sumbar Dampingi Petani Gambir Halaban". sumbar.brmp.pertanian.go.id. Diakses tanggal 2026-01-26.
  8. ^ Rusli, Irfan R. "Songket Halaban Tembus Pasar Internasional, Perajin Andalkan Kualitas dan Sistem Pesanan - Padek Jawapos". Songket Halaban Tembus Pasar Internasional, Perajin Andalkan Kualitas dan Sistem Pesanan - Padek Jawapos. Diakses tanggal 2026-01-26.
  9. ^ "Nagari Halaban, Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota". Langgam.id. 2020-02-25. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-09-30. Diakses tanggal 2021-09-30.

Pranala luar

  1. Web


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement