Dead to Rights (film)

Dead to Rights
Poster penayangan di bioskop Tiongkok
Nama lain
Hanzi Tradisional南京照相館
Hanzi Sederhana南京照相馆
Arti harfiahNanjing Photo Studio
Hanyu PinyinNánjīng zhàoxiàng guǎn
SutradaraShen Ao
ProduserFu Ruoqing
Ditulis oleh
  • Xu Luyang
  • Zhang Ke
  • Shen Ao
Pemeran
Penata musikPeng Fei
SinematograferCao Yu
PenyuntingZhang Yifan
Perusahaan
produksi
DistributorChina Film Group
Tanggal rilis
  • 25 Juli 2025 (2025-07-25)
Durasi137 menit[1]
NegaraTiongkok
Bahasa
Pendapatan
kotor
US$381 juta [2]

Dead to Rights (Hanzi: 南京照相馆; harfiah: 'Studio foto Nanjing') adalah sebuah film drama sejarah Tiongkok tahun 2025 yang disutradarai oleh Shen Ao, berdasarkan skenario yang ditulisnya bersama dengan Xu Luyang dan Zhang Ke.[3] Film ini dibintangi oleh Liu Haoran, Wang Chuanjun, Gao Ye, Wang Xiao, Zhou You, Yang Enyou, dan Daichi Harashima, dengan cerita berlatar belakang Pembantaian Nanjing, yang mengisahkan tentang sekelompok warga sipil yang berlindung di sebuah studio foto di tengah-tengah pembantaian masal, dan dengan berani mempertaruhkan nyawa mereka untuk menguak kekejaman yang dilakukan oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

Dead to Rights dirilis pada 25 Juli 2025,[4] dan berhasil meraup pendapatan sebesar US$381 juta di box office, menjadikannya film Tiongkok dengan pendapatan tertinggi ketiga pada tahun 2025. Film ini juga terpilih sebagai perwakilan Tiongkok untuk kategori Film Internasional Terbaik di Academy Award ke-98, tetapi tidak masuk nominasi.[5][6]

Plot

Selama pendudukan Nanjing dalam Perang Tiongkok–Jepang Kedua, tentara Jepang melakukan berbagai kekejaman secara luas, termasuk pembantaian, pemerkosaan, dan penjarahan. Mereka memaksa Wang Guanghai, seorang penerjemah kolaborator, untuk membantu mereka mengendalikan kota dengan imbalan izin keluar dari Nanjing bagi keluarganya. Meskipun telah menikah, ia menjalin hubungan dengan aktris opera Lin Yuxiu, yang tampil untuk menghibur para tentara militer Jepang demi bertahan hidup. Wang berusaha mendapatkan satu izin tambahan untuk Lin.

Fotografer militer Jepang Hideo Itō ditugaskan mendokumentasikan pendudukan tersebut untuk keperluan propaganda. Ketika Mayor Kuroshima memerintahkannya mengeksekusi seorang tukang pos bernama Ah Chang untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang prajurit sejati, Itō menanyai Ah Chang apakah ia seorang pengembang foto. Chang berbohong dengan mengaku sebagai pengembang foto demi menyelamatkan diri, yang kemudian membawa Itō ke sebuah studio foto terdekat. Itō memberi Chang waktu satu hari untuk mengembangkan gulungan filmnya, dengan Wang bertindak sebagai penerjemah.

Chang menemukan pemilik studio, Jin Chengzong, beserta keluarganya bersembunyi di sebuah ruangan bawah tanah. Jin mengajari Chang cara mengembangkan foto agar tidak menimbulkan kecurigaan. Chang awalnya mencoba melarikan diri menuju pintu batas kota, tetapi kembali setelah menyaksikan para tentara membunuh warga yang mencoba melarikan diri. Keesokan harinya, setelah Jin dan Chang mengembangkan foto-foto itu, Itō menguji Chang untuk mengembangkan negatif di hadapannya. Ia membuka pintu kamar gelap di tengah proses, merusak foto-foto yang tengah dikembangkannya. Itō kemudian mengatakan bahwa foto-foto orang Tiongkok ‘tidak penting’.

Ketika Chang mulai mendapatkan kepercayaan Itō, Wang mengklaim Lin sebagai istri Chang demi mendapatkan satu izin tambahan. Itō setuju, dan Wang membawa Lin ke studio untuk tinggal bersama Chang, memperkuat penyamaran tersebut. Lin secara diam-diam menyelundupkan Song Cunyi, seorang polisi yang menjadi pasukan nasionalis dalam barang-barang yang dibawanya. Song adalah orang yang menyelamatkan Lin dari tentara Jepang yang hampir saja akan menelanjanginya dalam sebuah pertunjukan. Chang, Lin, keluarga Jin dan Song memutuskan untuk saling bekerja sama, dengan Chang dan Jin yang bertugas mengembangkan negatif dengan imbalan makanan dan ruangan bersembunyi yang aman. Film-film yang dikembangkan memperlihatkan propaganda rekayasa tentang kerja sama Jepang–Tiongkok, tetapi juga menampilkan gambar-gambar kekejaman brutal yang dilakukan tentara Jepang. Song mengetahui dari salah satu foto bahwa saudaranya telah dieksekusi. Negatif-negatif yang berisi kekejaman itu diam-diam disembunyikan oleh Chan. Komandan Itō, Kolonel Inoue, memerintahkan Itō untuk terus mengumpulkannya sebagai alat untuk meneror rakyat Tiongkok jika perang berlarut-larut.

Setelah Inoue mempertanyakan mengapa gambar-gambar kekejaman diizinkan untuk dikembangkan oleh seorang Tiongkok, seorang Letnan asal Jepang bernama Ikeda dikirim beserta peralatan pengembang film untuk menggantikan Chang mengembangkan negatif milik Itō. Song yang dibakar api dendam mengorbankan dirinya dengan membunuh Ikeda. Itō kemudian mempelajari cara mengembangkan foto sendiri dan diberi tugas untuk membunuh Chang. Tidak tega membunuh Chang secara langsung, Itō sengaja memberinya 2 kartu izin lewat untuk Chang dan Lin. Kelompok tersebut sepakat untuk menggunakan 2 kartu izin tersebut untuk istri Jin, Zhao Yifang, dan putri kecil mereka, Wanyi. Malam sebelum keberangkatan, mereka menghabiskan waktu dengan berfoto bersama. Namun di gerbang perbatasan kota, Zhao dan putrinya telah ditunggu oleh para tentara Jepang dan diseret masuk ke dalam sebuah rumah. Di rumah tersebut, keduanya diperkosa dan kemudian dibunuh.

Wang memohon kepada Lin untuk segera meninggalkan studio. Tidak lama kemudian Itō dan Kuroshima yang tahu bahwa yang dibunuh di perbatasan bukanlah Chang dan Lin, langsung segera menuju ke studio foto. Ito mempersilakan Kuroshima untuk memperkosa Lin, sementara dia sudah bersiap-siap mengeksekusi Chang. Itō menembak Wang yang mencoba mencegah Kuroshima yang hendak memperkosa Lin. Jin diam-diam naik ke atas membunuh Kuroshima dengan kapak dan menyiramkan asam ke wajah Itō. Chang kemudian menerjang Ito mengenai dinding pembatas sehingga membuat Ito tak sadarkan diri. Pada tubuh Wang, Lin secara tidak sengaja menemukan 2 kartu izin milik keluarga Wang, yang telah terbunuh dalam pembantaian sebelumnya. Mereka sepakat untuk memberikan izin tersebut kepada Jin dan Lin, yang menyembunyikan bayi laki-laki Jin di dalam sebuah tas. Sebelum berangkat, Jin mengecek Ito yang tak sadarkan diri, dan tiba-tiba Ito menyerangnya. Chang membakar negatif milik Itō sebagai pengalih perhatian, memungkinkan yang lain melarikan diri. Itō berhasil menyelamatkan sebagian dari negatif-negatif tersebut dan membunuh Chang ketika para tentara mengepung bangunan dan api melalap studio tersebut.

Di gerbang kota, Jin dan Lin berhasil melewati penjaga, namun putra Jin mulai menangis. Jin mengorbankan dirinya untuk mengalihkan perhatian para penjaga dengan kameranya sementara Lin dan putranya mencapai Zona Aman Nanjing. Jin tewas, tetapi Lin dan bayinya selamat dengan negatif asli berisi kekejaman tentara Jepang hasil foto Itō yang diselundupkan di dalam pakaian-pakaian mereka, sementara gulungan film yang diselamatkan Itō ternyata adalah foto-foto warga Nanjing yang sebelumnya ia sebut ‘tidak penting’. Sebuah montase memperlihatkan berbagai nasib tragis para warga Nanjing yang dibunuh secara kejam dalam foto, termasuk Song dan Chang. Terungkap bahwa Chang melawan Itō sampai napas terakhirnya, mengatakan dalam bahasa Jepang, "Kita bukan teman. Sama sekali bukan." Foto-foto kekejaman tersebut kemudian tersebar ke seluruh dunia, memicu kemarahan internasional. Merasa malu, Itō melakukan seppuku, dan kematiannya akan dilaporkan secara heroik oleh Inoue.

Setelah perang berakhir pada tahun 1947, para pelaku pembantaian, termasuk Inoue, diadili di Nanjing atas kejahatan perang, dengan gambar-gambar yang diselundupkan itu digunakan sebagai bukti tak terbantahkan. Eksekusi para penjahat perang tersebut disaksikan oleh warga Tiongkok dan arwah para korban pembantaian, termasuk Jin, Zhao, Wanyi, Song dan Chang. Lin, yang membesarkan putra Jin, memotret eksekusi publik para penjahat perang tersebut.

Pembantaian warga sipil yang ditunjukkan dalam film.

Pemeran

  • Liu Haoran sebagai Su Liuchang ("Ah Chang"), seorang tukang pos yang berlindung di studio fotografi selama Pembantaian Nanjing.
  • Wang Chuanjun sebagai Wang Guanghai, seorang penerjemah kolaborator yang berusaha mendapatkan izin keluar dari Nanjing untuk dirinya, keluarganya, dan kekasih gelapnya, Lin Yuxiu.
  • Daichi Harashima [zh] (原島 大地) sebagai Hideo Itō (伊藤秀夫), seorang fotografer dan tentara Tentara Kekaisaran Jepang yang dikirim untuk mendapatkan gambar untuk propaganda.
  • Gao Ye [zh] sebagai Lin Yuxiu, seorang penyanyi dan aktris yang menjalin hubungan dengan Wang Guanghai.
  • Wang Xiao [zh] sebagai Jin Chengzong, pemilik studio fotografi tempat Ah Chang dan Lin berlindung.
  • Zhou You [zh] sebagai Song Cunyi, seorang petugas polisi Nanjing yang dipaksa masuk dinas militer.
  • Yang Enyou [zh] sebagai Jin Wanyi, putri muda Chengzong dengan Zhao Yifang.
  • Wang Zhen'er [zh] sebagai Zhao Yifang, istri Chengzong.

Latar belakang

Studio fotografi yang digambarkan dalam film ini didasarkan pada Studio Foto Huadong (华东照相馆), yang secara historis berlokasi di dekat kawasan Guyilang di Nanjing saat ini. Luo Jin, seorang murid magang di studio tersebut, menemukan negatif film yang berisi gambar kekejaman yang dilakukan oleh tentara Jepang ketika mengembangkan film yang dikirim oleh para perwira Jepang pada awal tahun 1938.[7] Dengan mempertaruhkan nyawanya, Luo mencetak negatif-negatif tersebut dan menyusunnya menjadi sebuah album. Karena kesulitan hidup, Luo kemudian bergabung dengan tim pelatihan komunikasi yang berafiliasi dengan brigade pengawal pemerintah kolaborasionis Wang Jingwei yang ditempatkan di Kuil Pilu [zh], tempat ia menyembunyikan album tersebut di sebuah toilet. Pada tahun 1941, album itu ditemukan dan diam-diam disimpan oleh Wu Liankai, yang saat itu sedang menjalani pelatihan di kuil yang sama.[8]

Pada tahun 1946, setelah Jepang menyerah, Wu Liankai, yang pada saat itu telah mengganti namanya menjadi Wu Xuan, mengetahui bahwa Senat Sementara Nanjing sedang mengumpulkan bukti untuk Pengadilan Kejahatan Perang Nanjing guna menuntut para penjahat perang. Ia menyerahkan album foto yang sebelumnya disembunyikan, yang kemudian menjadi bukti penting dalam vonis terhadap Jenderal Hisao Tani, salah satu pelaku utama Pembantaian Nanjing. Album tersebut saat ini disimpan di Arsip Sejarah Nasional Kedua Tiongkok.[9]

Produksi

Dokumenter tentang film ini, China News Agency (dalam Mandarin).

Pada tahun 2023, sutradara Shen Ao, yang terinspirasi oleh sebuah diskusi dengan Zhang Ke (penulis skenario film The Volunteers: To the War) dan setelah meninjau kembali produksi tahun 1987 milik Nanjing Film Studio berjudul Massacre in Nanjing, memutuskan bahwa penting untuk ‘menceritakan kembali kisah ini pada zaman kita’. Shen kemudian menghubungi Nanjing Film Studio, pemegang hak atas Massacre in Nanjing, dan memperoleh hak adaptasinya dan memulai riset mendalam mengenai peristiwa sejarah "penyelundupan bukti fotografi yang keluar dari Nanjing" sebagai fondasi bagi film barunya.[10][11][12] Ketika film sebelumnya, No More Bets (2023), masih segar dalam ingatan publik, Shen segera mengumpulkan tim kreatifnya untuk memulai produksi Dead to Rights.[10]

Rilis

Dead to Rights diproduksi bersama oleh China Film Group dan beberapa studio lainnya. Awalnya dijadwalkan rilis pada 2 Agustus 2025, tanggal tersebut kemudian dimajukan menjadi 25 Juli, dengan penayangan perdana nasional dilakukan pada 19–20 Juli. Pada 20 Juli, pendapatan dari pratayang dan penjualan tiket di muka melebihi ¥30 juta. Setelah rilis resminya, pendapatan box office film ini dalam satu hari melampaui ¥100 juta pada 26 Juli.[13] Pada pukul 8 malam tanggal 28 Juli, empat hari setelah rilis resminya, total pendapatan box office film tersebut telah melampaui ¥500 juta.[10][12]

Film ini dirilis di Amerika Serikat dan Kanada pada tanggal 15 Agustus.[14]

Referensi

  1. ^ "Dead to Rights (18)". British Board of Film Classification (dalam bahasa Inggris). 23 August 2025. Diakses tanggal 23 August 2025.
  2. ^ "Dead to Rights (南京照相馆) (2025)". The Numbers. Nash Information Services, LLC. Diakses tanggal September 29, 2025.
  3. ^ "南京照相馆". Maoyan. Diakses tanggal July 31, 2025.
  4. ^ "觀影說劇/「南京照相館」最新畫面曝光描寫戰爭裡的掙扎". World Journal. July 6, 2025. Diakses tanggal July 31, 2025.
  5. ^ "《南京照相馆》代表中国内地角逐奥斯卡". The Paper (dalam bahasa Tionghoa). 2025-09-26. Diakses tanggal 2025-09-26.
  6. ^ "Oscar International Feature Shortlist: Iraq First Time With ‘The President's Cake’", Deadline Hollywood, by Nancy Tartaglione, December 16, 2025.
  7. ^ "三个关键词,读懂《南京照相馆》里更多隐藏故事". 交汇点新闻. July 22, 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 5, 2025. Diakses tanggal July 31, 2025.
  8. ^ "【人民的力量】十六:两名青年誓死守护南京大屠杀铁证,电影《南京照相馆》正是他们的故事!". Yangtse Evening Post. July 23, 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 5, 2025. Diakses tanggal July 31, 2025.
  9. ^ "他偶然间发现的秘密,让拒不认罪的南京大屠杀主犯俯首认罪". 江苏新闻广播. December 7, 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 5, 2025. Diakses tanggal July 31, 2025.
  10. ^ a b c "专访《南京照相馆》导演申奥:不必血腥当噱头,吾辈自强是对历史最好的回应". Shangguan News. July 28, 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 5, 2025. Diakses tanggal August 1, 2025.
  11. ^ "《南京照相馆》导演申奥:自强不息是对历史最好的回应". Global Times. July 28, 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 5, 2025. Diakses tanggal August 1, 2025.
  12. ^ a b "《南京照相馆》热映 以冷静叙事定格历史真相". 舜网-济南时报. July 29, 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 5, 2025. Diakses tanggal August 1, 2025.
  13. ^ "《南京照相馆》单日票房过亿!热度口碑一路走高,超 700万人走进影院观影". 江苏新闻. July 27, 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 5, 2025. Diakses tanggal July 31, 2025.
  14. ^ "Shen Ao's Acclaimed Wartime Drama 'Dead to Rights' Set for North American Release" (Press release). Echelon Studios. 28 July 2025.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement