Bahasa Batak Pardembanan
| Bahasa Batak Pardembanan
Hata/Cakap Pardembanan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Salah satu halaman dalam buku Mission to The East Coast of Sumatra (1826) yang menunjukkan perbandingan kosakata bahasa Pardembanan, Karau-Karau (Karo), dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris. | |||||
| Dituturkan di | Indonesia | ||||
| Wilayah | Sumatera Utara (Asahan) | ||||
| Etnis | Batak Pardembanan | ||||
Penutur | |||||
| |||||
| Latin, Batak, Jawi | |||||
| Kode bahasa | |||||
| ISO 639-3 | – | ||||
| Glottolog | pard1246[1] | ||||
Bahasa Batak Pardembanan adalah bahasa Batak (cabang Simalungun atau Toba) yang digunakan oleh orang Batak Pardembanan (campuran orang Batak dan Melayu). Bahasa ini berakar dari bahasa Batak Simalungun, memiliki kemiripan dengan bahasa Batak Nadolok, tetapi juga mendapat pengaruh dari bahasa Batak Toba dan bahasa Melayu, dalam hal ini bahasa Melayu Asahan.[2]
Sejarah
Menurut Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, penyebab adanya kemiripan antara bahasa Batak Pardembanan, Nadolok, dan Simalungun tidak lepas dari peran Kerajaan Nagur, Silou, dan Batangiou yang wilayah kekuasaannya mencapai Asahan dan Labuhanbatu. Meskipun saat ini, orang Batak Pardembanan dan Batak Nadolok berasal dari marga-marga di Tanah Toba. Istilah "Pardembanan" sendiri berasal dari banyaknya demban 'sirih' di daerah sekitar Buntu Pane dan Bandar Pasir Mandoge. Selain itu, masyarakat setempat juga menyukai mardemban 'makan sirih'.[3] Pada awalnya, kolonial Belanda kebingungan dalam mengelompokkan mereka, karena penduduknya merupakan campuran antara orang Batak Toba dan Melayu.[2] Sementara itu, orang pertama yang menyebutkan nama Pardembanan (ditulis Perdimbanan) adalah John Anderson pada tahun 1823 dalam bukunya yang berjudul Mission to The East Coast of Sumatra (1826).[4]
Bahasa ini pada awalnya digunakan oleh marga-marga yang memisahkan diri dari Simalungun setelah berdirinya Kesultanan Asahan, seperti marga Tambak, Simargolang, Nadolok, Nahombang, and Dasopang. Seiring berjalannya waktu, marga-marga ini mengaku sebagai orang Melayu dan menggunakan adat istiadat Melayu.[5] Akhirnya, penggunaan bahasa turunan Simalungun ini bergeser pada masyarakat Batak Toba yang mengganti bahasa ibu mereka, yang banyak merantau ke Asahan dan Labuhanbatu. Walaupun pada mulanya marga Batak Pardembanan awalnya terdiri dari Damanik Simargolang, Dasopang, Purba Tambak, Purba Nadolok (Sidadolog), dan Sinaga Nahombang (Sidahombang) yang merupakan bagian dari masyarakat Batak Simalungun. Namun, seiring berjalannya waktu, di Asahan sebagian besar penduduknya berbicara dalam bahasa Melayu. Saat ini, masyarakat yang menggunakan bahasa Batak Pardembanan adalah orang Batak Toba, tetapi tidak seotentik seperti dulu, karena bahasa tersebut saat ini sangat dipengaruhi oleh bahasa Batak Toba yang mereka bawa.[2]
Distribusi geografis
Wilayah penutur bahasa Batak Pardembanan terletak di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Berbatasan dengan wilayah yang berbahasa Melayu Asahan di hilir, sedangkan wilayah Batak Pardembanan terletak di bagian hulu dan tengah Sungai Asahan.[6] Di tempat itu, mereka menyebut diri mereka halak Pardembanan yang berarti 'orang-orang sirih', yang juga dapat diartikan sebagai 'orang-orang yang tinggal di tempat sirih hidup'.[7] Terdapat wilayah yang toponiminya dikenal dari bahasa Batak Pardembanan di Asahan dan Labuhanbatu, antara lain Buntu Pane, Bandar Pasir Mandoge, Bandar Pulau, Ambalutu, Prapat Janji, Sionggang, Rahuning, Perhutaan Silau, Gunung Mariah, Padang Pulau, Buntu Maraja, Gonting Malaha, Marjanji Asih, Pinanggiripan, Pulau Pule, Sijabut, Huta Padang, Silau Jawa, Padang Mahondang, Rawang, Bahung Sibatubatu, Sei Silau, Sei Silau Tua, Silau Maraja, Urung Pane, Ujung Pane, Silau Laut, Silou Buntu, Silou Lama, Pulau Maria, Dolok Maraja, Tinggi Raja, Piasa Ulu, Ujung Sipinggan, Pematang Asahan, Haboko, Merangir (dari nama Maranggir), Aek Kanopan (dari nama Bah Hanopan), dan Rantau Prapat.[2]
Kosakata
Kosakata dalam bahasa Batak Pardembanan diketahui sebagai bahasa Batak (cabang Simalungun). Terdapat banyak kemiripan, juga dengan bahasa-bahasa lain seperti Batak Nadolok, Batak Toba, dan Melayu.[8] Terdapat beberapa kata yang mengalami pergeseran makna, tetapi bentuknya tidak berubah. Pergeseran makna ini wajar, karena bahasa tersebut dituturkan jauh dari tempat asalnya.[2]
Angka
Kosakata angka dalam bahasa Batak Pardembanan hampir sama dengan kosakata angka dalam bahasa Batak Simalungun.[2]
- sadah 'satu'
- duo 'dua'
- tolu 'tiga'
- opat 'empat'
- limah 'lima'
- onam 'enam'
- peto 'tujuh'
- ualo 'delapan'
- siah 'sembilan'
- sapulu 'sepuluh'
- sapulu sadah 'sebelas'
- duo pulu 'dua puluh'
Lainnya
Dalam kosakata lain, bahasa Batak Pardembanan juga memiliki kemiripan dengan bahasa-bahasa Batak lainnya, terutama bahasa Batak Simalungun dan bahasa Batak Toba.
- gotong-gotong 'sapu tangan'
- hio botar 'kain putih'
- girgir 'merah'
- birong' 'hitam'
- aik 'air'
- nadong 'tidak'
- demban 'sirih'
Beberapa kata menunjukkan kemiripan dengan bahasa lain, seperti birong 'hitam' yang dalam bahasa Batak Karo menjadi biring 'hitam' dan aik 'air' yang dalam bahasa Melayu menjadi air 'air'. Selain itu, banyak pula kosakata yang sama dalam bahasa Batak Pardembanan dan bahasa Batak Nadolok dengan kosakata yang sama dalam bahasa Batak Simalungun atau bahkan dari bahasa Batak Toba. Diantaranya adalah jolak 'bosan', homai 'juga', topar 'tampar', hoji 'suka, hobi', marosu 'suka', tarokkon 'rasa, tahan', tarsinggok 'tersedak', sudu 'sendok', dohor 'dekat', doha 'tua' (dari kata dokah), bere 'memberi', hio 'kain', bosur 'penuh', angkula 'badan', bahat 'banyak', bois 'selesai', legan 'lain', das 'tiba', juma 'lahan', longgur 'guruh', dan lainnya.[2]
Karakteristik
Di sisi lain, meskipun memiliki substratum Batak Simalungun, diyakini bahwa bahasa Batak Pardembanan juga merupakan cabang bahasa Batak Toba, namun terdapat perbedaan dalam penggunaan lokal bahasa Batak dan bahasa Melayu yang ditunjukkan. Hal ini dapat dilihat dari glosarium yang memuat kata-kata yang cukup untuk menggambarkan sifat umum penyimpangan dari bahasa Batak Toba, di satu sisi, dan dari bahasa Melayu standar, seperti yang dicontohkan dalam kamus oleh Henk Badings, di sisi lain. Perbedaan antara bahasa Batak Pardembanan sebagai "sub-Toba" dan bahasa Batak Toba asli terletak pada penyederhanaan struktur tata bahasa (tidak ditunjukkan oleh glosarium) dan perubahan fonetik yang cukup konsisten, seperti munculnya huruf ⟨a⟩ pada posisi tertentu, bukan huruf ⟨o⟩, huruf ⟨k⟩ menggantikan huruf ⟨h⟩, penggantian konsonan secara menyeluruh pada posisi-posisi tertentu yang dalam bahasa Batak Toba tidak boleh dipertahankan dalam ucapan tetapi dipertahankan dalam ejaan, dengan adopsi kata-kata dari Batak Simalungun dan Melayu.[8]
Lihat juga
Referensi
- ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Pardembanan". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
- ^ a b c d e f g Simarmata, Sasli P. (14 Oktober 2019). "Bahasa Batak Pardembanan di Asahan dan Batak Nadolok di Labura Mirip Simalungun". medanbisnisdaily.com. Medan Bisnis Daily. Diakses tanggal 6 September 2025.
- ^ Ritonga, Sakti (2023). "Batak Pardembanan: Social Construction and the Choice of Malay-Islamic Identity". Sinta: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama dan Perubahan Sosial (dalam bahasa Inggris). 17 (2). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga: 141–158. ISSN 1978-4457.
- ^ Anderson, John (1826). Mission to The East Coast of Sumatra (dalam bahasa Inggris). M.DCCC.XXIII. Edinburgh: William Blackwood. hlm. 1–42.
- ^ Nugraha, M. Adika; Rambe, Yasir M. (2022). "Persilangan Identitas Budaya di Tanah Melayu Asahan (Analisis Eksistensi Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Asahan)". BINA GOGIK: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 9 (2). Medan: Universitas Islam Sumatera Utara. doi:10.61290/pgsd.v9i2.99 (tidak aktif 6 September 2025). ISSN 2579-4647. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per September 2025 (link)
- ^ Dewirsyah, A. Rifai (2018). "Analisis Bahasa Rakyat Masyarakat Pesisir". E-Jurnal UNIMED. Medan: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara: 49–63.
- ^ McKinnon, Edmund E.; Azhari, Ichwan (2022). A Ferocious Pangulubalang Image from Meranti Omas, Na IX-X Subdistrict, Labuhan Utara Regency, North Sumatra (PDF) (Thesis) (dalam bahasa Inggris). Article 4946. Medan: Universitas Negeri Medan. hlm. 1–9. doi:10.20935/AL4946 – via Academia Leters.
- ^ a b Bartlett, Harley H. (1952). "A Batak and Malay Chant on Rice Cultivation, with Introductory Notes on Bilingualism and Acculturation in Indonesia". Proceedings of the American Philosophical Society (dalam bahasa Inggris). 96 (6). Pennsylvania: University of Pennsylvania Press: 629–652.
Pranala luar
- (Indonesia) Batak Pardembanan di Scribd (9 halaman)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


