Argumen transendental
Argumen transendental adalah suatu jenis argumen deduktif yang merujuk pada syarat-syarat yang harus ada agar pengalaman dan pengetahuan menjadi mungkin.[1][2] Argumen transendental dapat memiliki standar pembenaran tambahan yang lebih menuntut dibandingkan dengan argumen deduktif tradisional.[3] Filsuf Immanuel Kant adalah tokoh yang memberikan nama sekaligus ketenaran pada argumen transendental.
Argumen-argumen
Biasanya, sebuah argumen transendental berangkat dari suatu proposisi tertentu, lalu menunjukkan bahwa kebenaran atau kesalahannya akan bertentangan dengan syarat-syarat yang diperlukan agar proposisi itu dapat diketahui, dipikirkan, atau diperdebatkan.
Argumen transendental yang disebut progresif dimulai dari suatu pernyataan tentang pengalaman manusia terhadap dunia yang tampaknya tidak dapat diragukan dan diterima secara universal. Dari titik itu, argumen ini digunakan untuk membuat klaim pengetahuan yang bersifat substantif mengenai dunia, misalnya bahwa dunia memiliki hubungan sebab-akibat serta berada dalam ruang dan waktu. Argumen ini berangkat dari hal-hal yang masih tersisa setelah proses keraguan yang dilakukan oleh kaum skeptis.
Argumen transendental progresif mengambil bentuk modus ponens dengan operator modal:
- Jika mungkin P, maka secara niscaya Q.
- Pada kenyataannya P.
- Maka secara niscaya Q.
Sebaliknya, argumen transendental regresif juga berangkat dari titik yang sama dengan kaum skeptis, misalnya kenyataan bahwa kita memiliki pengalaman tentang dunia yang bersifat kausal serta berada dalam ruang dan waktu. Dari sana ditunjukkan bahwa gagasan-gagasan tertentu sudah tersirat dalam cara kita memahami pengalaman semacam itu. Argumen transendental regresif lebih bersifat konservatif karena tidak bermaksud membuat klaim ontologis yang substantif mengenai dunia.
Argumen transendental regresif mengambil bentuk modus tollens dengan operator modal:
- Jika mungkin P, maka secara niscaya Q.
- Pada kenyataannya tidak Q.
- Maka secara niscaya tidak P.
Argumen transendental sering digunakan untuk membantah skeptisisme.[1] Contohnya:
- Jika kita memiliki pengetahuan, maka skeptisisme universal salah.
- Kita memiliki pengetahuan. (Jika tidak, kita tidak mungkin dapat berargumen bahwa skeptisisme universal itu benar)
- Maka skeptisisme universal salah.
Kant menggunakan sebuah contoh dalam sanggahannya terhadap idealisme. Kaum idealis percaya bahwa objek tidak memiliki keberadaan yang independen dari pikiran. Secara singkat, Kant menunjukkan bahwa:
- karena kaum idealis mengakui bahwa kita memiliki kehidupan mental batin, dan
- kehidupan batin berupa kesadaran diri berkaitan dengan konsep tentang objek yang bukan bagian dari batin dan
- yang saling berinteraksi secara kausal,
maka kita harus memiliki pengalaman yang sah tentang objek-objek eksternal yang saling berinteraksi secara kausal.
Namun, ia tidak membuktikan bahwa objek eksternal benar-benar ada, melainkan hanya menunjukkan bahwa konsep tentang objek eksternal itu sah, yang bertentangan dengan idealisme.[4][5]
Robert Lockie mengajukan argumen transendental untuk kebebasan kehendak libertarian:[6]
- Jika kita ingin mengetahui kebenaran, kita memiliki kehendak bebas.
- Kita ingin mengetahui kebenaran tentang kehendak bebas.
- Maka kita memiliki kehendak bebas.
Namun tidak semua penggunaan argumen transendental dimaksudkan untuk menentang skeptisisme. Filsuf Belanda Herman Dooyeweerd menggunakan kritik transendental untuk menetapkan syarat-syarat yang membuat sikap berpikir teoretis atau ilmiah menjadi mungkin, bukan sekadar proses berpikir seperti yang dibahas oleh Kant.[7] Secara khusus, ia menunjukkan bahwa pemikiran teoretis tidak bersifat independen atau netral terhadap komitmen dan relasi sebelumnya, melainkan berakar pada komitmen, sikap, serta praanggapan yang bersifat religius.
C.S. Lewis juga menggunakan argumen transendental untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan membantah naturalisme.
Kant
Immanuel Kant adalah tokoh yang memberi nama sekaligus ketenaran pada argumen transendental. Namun masih menjadi perdebatan apakah argumen transendental yang ia ajukan seharusnya diklasifikasikan sebagai progresif atau regresif.[8]
Dalam Kritik atas Nalar Murni (1781), Kant mengembangkan salah satu argumen transendental paling terkenal dalam filsafat pada bagian yang dikenal sebagai Deduksi atas Konsep Murni Pemahaman.[9] Dalam Transcendental Aesthetic, Kant menggunakan argumen transendental untuk menunjukkan bahwa pengalaman indrawi tidak akan mungkin terjadi jika kita tidak memberlakukan bentuk ruang dan waktu pada pengalaman tersebut, sehingga ruang dan waktu menjadi syarat kemungkinan pengalaman.
Kritik terhadap argumen transendental
Salah satu penggunaan utama argumen transendental adalah merujuk pada sesuatu yang tidak dapat disangkal secara konsisten untuk menanggapi argumen kaum skeptis yang menyatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui sesuatu tentang hakikat dunia. Namun seseorang tidak harus menjadi skeptis terhadap persoalan tersebut untuk tetap menganggap argumen transendental tidak meyakinkan. Ada beberapa cara untuk menyangkal bahwa suatu argumen transendental memberikan kita pengetahuan tentang dunia. Tanggapan berikut mungkin berlaku untuk beberapa versi argumen tersebut tetapi tidak untuk yang lainnya.
- Pertama, para kritikus berpendapat bahwa pihak yang mengemukakan argumen tidak dapat yakin bahwa ia benar-benar mengalami pengalaman tertentu. Gagasan bahwa seseorang tidak dapat yakin tentang sifat pengalaman pribadinya sendiri pada awalnya mungkin tampak aneh. Namun dapat dikatakan bahwa tindakan memikirkan pengalaman kita, terlebih lagi menggambarkannya dengan kata-kata, sudah melibatkan proses penafsiran yang melampaui apa yang disebut sebagai pengalaman murni.[10]
- Kedua, kaum skeptis menolak penggunaan argumen transendental untuk menarik kesimpulan tentang hakikat dunia. Mereka berpendapat bahwa sekalipun seseorang mengetahui sifat dari pengalamannya sendiri, orang tersebut tetap tidak dapat memastikan bahwa penalaran dari pengalaman itu menuju kesimpulan tentang dunia benar-benar akurat.[10]
- Terakhir, para kritikus memperdebatkan apakah menunjukkan bahwa kita harus memikirkan dunia dengan cara tertentu, berdasarkan ciri-ciri tertentu dari pengalaman, sama saja dengan menunjukkan bahwa dunia benar-benar sesuai dengan cara kita memahaminya. Bisa jadi argumen transendental hanya menunjukkan keharusan dalam perangkat kognitif kita, bukan kenyataan dunia di luar diri kita. Keberatan ini dapat menimbulkan keraguan apakah argumen transendental pernah lebih dari sekadar argumen yang bersifat regresif.[11]
Lihat pula
Referensi
- ^ a b Transcendental-arguments and Scepticism; Answering the Question of Justification (Clarendon Press: Oxford, 2000), pp 3-6.
- ^ Strawson, P., Skepticism and Naturalism: Some Varieties, (New York: Columbia University Press, 1985) Premise-10.
- ^ "Transcendental arguments… have to formulate boundary conditions we can all recognize. Once they are formulated properly, we can see at once that they are valid. The thing is self-evident. But it may be very hard to get to this point, and there may still be dispute… For although a correct formulation will be self-evidently valid, the question may arise whether we have formulated things correctly. This is all the more so since we are moving into an area [experience] that the ordinary practice of life has left unarticulated, an area we look through rather than at." Charles Taylor, "The Validity of Transcendental Arguments", Philosophical Arguments (Harvard, 1997), 32.
- ^ The Internet Encyclopedia of Philosophy, Transcendental Arguments, Adrian Bardon, section 8, third paragraph.
- ^ Stapleford, Scott, Kant's Transcendental Arguments: Disciplining Pure Reason, Continuum Publishing 2008 (ISBN 978-0-8264-9928-8 - hb)
- ^ Lockie, Robert (2018). Free Will and Epistemology: a Defence of the Transcendental Argument for Freedom (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury. ISBN 978-1-350-02905-7.
- ^ Dooyeweerd, H. 1984 [1955] A New Critique of Theoretical Thought, Paideia Press, Jordan Station, Ontario CA. See also http://www.dooy.info/tc.html
- ^ For a progressive reading of Kant's arguments, see Strawson, P. F. (1966), The Bounds of Sense: An Essay on Kant's Critique of Pure Reason. For a regressive reading, see Karl Ameriks (1978), "Kant's Transcendental Deduction as a Regressive Argument", Kant-Studien, Volume 69, Pages 273–287
- ^ Kant, Immanuel. 1998. Critique of Pure Reason. Translated and edited by Paul Guyer and Allen W. Wood. Cambridge: Cambridge University Press.
- ^ a b Baggini, Julian and Peter S. Fosl. 2003. '2.10 Transcendental arguments'. In The Philosopher's Toolkit: A compendium of philosophical concepts and methods. Oxford: Blackwell Publishing
- ^ A. C. Grayling, "Transcendental Arguments" in The Blackwell Companion to Epistemology, Jonathan Dancy and Ernest Sosa, eds (Oxford: Blackwell, 1992) .
Bibliografi
- Brueckner, Anthony. " Transcendental Arguments I". Nous 17 (4): 551-575. and "Transcendental Arguments II". Nous 18 (2): 197-225.
- Stapleford, Scott Kant's Transcendental Arguments: Disciplining Pure Reason - Continuum Publishing 2008 (ISBN 978-0-8264-9928-8 - hb)
- Stern, Robert, ed.Transcendental Arguments: Problems and Prospect. Oxford: Clarendon.
- Stroud, Barry. "Transcendental Arguments". Journal of Philosophy 65 (1968) 241-56.
- Taylor, Charles. "The Validity of Transcendental Arguments". Reprinted in Philosophical Arguments. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1955.
Pranala luar
- (Inggris) Argumen transendental di PhilPapers
- (Inggris) Entri Transcendental Arguments di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- Argumen transendental catatan di Internet Encyclopedia of Philosophy
- (Inggris) Argumen transendental di Indiana Philosophy Ontology Project
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


