Wireng Gatutkaca Dadung Awuk
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Wireng Gatutkaca Dadung Awuk adalah tarian tradisional istana dari Pura Mangkunegaran yang menunjukkan pementasan dua tokoh Mahabharata — Gatutkaca dan Dadung Awuk — dalam bentuk wireng (beksan laki-laki) dengan gerakan simbolik dan teatrikal. Tarian ini berperan sebagai ritual penyambutan tamu kenegaraan dan pertunjukan budaya.[1]
Sejarah
Tarian ini pertama kali berkembang di lingkungan Keraton Mangkunegaran sejak era KGPAA Mangkunegara IV (abad ke‑19), diolah sebagai bagian dari wireng keraton yang khas, menampilkan karakter kuat dan gagah dari tokoh Gatutkaca dan Dadung Awuk.[2] Pada tahun 1990, koreografer Rono Suripto merekonstruksi kembali tari ini berdasarkan dokumentasi dan wawancara dengan penari seperti Samsuri dan Suharji, memperkaya koreografi dengan pola gerak tradisional seperti trecet, srisig, sabetan, dan penggunaan properti khas: gada untuk Gatutkaca dan cambuk bersuara untuk Dadung Awuk.[3]
Tari ini dipentaskan pertama kali di Pendopo Ageng Mangkunegaran pada 1991 sebagai tari penyambutan tamu, dan selanjutnya menjadi bagian rutin dalam acara budaya keraton maupun Festival Keraton Nusantara 1996. Selain ditampilkan di istana, wireng ini bahkan pernah dipentaskan di Perancis saat perayaan 100 tahun Menara Eiffel tahun 1989.[butuh rujukan]
Pelaksanaan
Wireng Gatutkaca Dadung Awuk dibawakan oleh dua penari laki‑laki dengan penuh khidmat dalam bentuk ritual tari sosial: tiga fase—maju (gawang), inti (beksan dan perang), dan mundur. Gerakan ritual diiringi alunan gamelan tradisional, seperti pathetan slendro menyura, ladrang sapu jagad, dan sambak ro, yang diakhiri dengan paket ayak‑ayakan.[1]
Penari Gatutkaca mengenakan kostum gagah, lengkap dengan gada sebagai lambang kekuatan kesatria; penari Dadung Awuk memakai cambuk di pergelangan untuk memperkuat karakter raksasa dan atmosfer peperangan. Adegan inti memperlihatkan pertarungan simbolik antara dua tokoh, dengan gerakan raksasa (ronggeh, glece, cakrak) dan kesatria gagah (kambeng tinantang). Setelah klimaks, penari mundur sebagai penutup prosesi.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Upaya pelestarian Wireng Gatutkaca Dadung Awuk dilakukan melalui berbagai kegiatan institusional dan komunitas budaya. Pura Mangkunegaran secara berkala menampilkan tari ini dalam berbagai pagelaran, termasuk acara kenegaraan dan festival kebudayaan seperti Mangkunegaran Performing Art. Pementasan rutin ini menjadi bagian dari revitalisasi seni pertunjukan klasik keraton agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.[3]
Selain itu, lembaga pendidikan seni seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta turut mengajarkan tarian ini sebagai bagian dari kurikulum tari klasik. Rekonstruksi tari oleh koreografer dan dosen tari dilakukan berdasarkan kajian historis serta wawancara dengan pelaku budaya, sehingga mempertahankan keaslian bentuk, iringan gamelan, dan makna filosofis dari tari tersebut.[butuh rujukan]
Dokumentasi dalam bentuk digital—baik melalui media sosial, kanal YouTube budaya, maupun publikasi jurnal seni—juga menjadi salah satu strategi penting untuk memperluas jangkauan dan mendorong generasi muda mengenal dan melestarikan Wireng Gatutkaca Dadung Awuk.[butuh rujukan]
Referensi
- ^ a b Mangkunegaran, Pracima (2025-05-01). "Beksan Gatotkaca Dadung Awuk". Pracima Boga Sana. Diakses tanggal 2025-06-16.
- ^ Editor (2010-07-17). "Tarian Masterpiece Mangkunegaran Performing Art". Solo Grafi. Diakses tanggal 2025-06-16.
- ^ a b antaranews.com (2010-07-01). "Mangkunegaran Tampilkan Tari Aslinya Dalam "Performing Art"". Antara News. Diakses tanggal 2025-06-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


