Wayang Othok Obrol

Wayang Othok Obrol

Wayang Othok Obrol merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional khas Selokromo, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Seni pertunjukan ini memiliki kekhasan tersendiri, yaitu dimainkan dengan gaya dialog santai yang diselingi dengan obrolan dan humor ringan antara para tokoh. Meskipun mengusung cerita-cerita klasik dari epos Mahabharata dan Ramayana, pementasan Wayang Othok Obrol disajikan dengan pendekatan yang lebih akrab dan komunikatif, sehingga menciptakan suasana yang lebih dekat dengan penonton. Ciri khas tersebut menjadikan pertunjukan ini tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai budaya secara informal dan menghibur. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Wayang Othok Obrol sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Deskripsi

Kesenian Wayang Othok Obrol pertama kali diperkenalkan oleh seorang dalang senior bernama Ki Ganda Wiradipa yang berasal dari Traji, Parakan, Kabupaten Temanggung. Berbeda dengan wayang pada umumnya, tokoh-tokoh dalam Wayang Othok Obrol tidak dibuat melalui teknik tatah sungging sebagaimana lazimnya wayang kulit, melainkan dilukis secara manual menggunakan pigmen alami. Bahan pewarna yang digunakan antara lain berasal dari gerusan tulang, biji gendhulak, jelaga, dan unsur alami lainnya.[1]

Seiring perkembangan zaman, terutama dengan masuknya arus globalisasi dan meningkatnya penggunaan media sosial, popularitas Wayang Othok Obrol mengalami penurunan. Kesenian ini dianggap terlalu mempertahankan pakem tradisional dan dinilai kurang mampu beradaptasi dengan dinamika kesenian modern. Akibatnya, keberlangsungan tradisi ini terancam, terlebih karena belum ditemukan generasi penerus yang mampu atau bersedia melanjutkan warisan pedalangan tersebut. Salah satu tantangan utama dalam regenerasi dalang Wayang Othok Obrol adalah keberadaan gaya pedalangan lain yang lebih populer dan dianggap lebih relevan oleh generasi muda. Padahal, kesenian ini telah bertahan dan diwariskan secara turun-temurun selama enam generasi.[2]

Pertunjukan Wayang Othok Obrol mengangkat cerita-cerita dari epos Mahabharata dan Ramayana, yang disajikan melalui tokoh-tokoh seperti Murti Serat, Raja Kengsi, Andhaliretna, serta tokoh-tokoh populer seperti Semar Supit dan Semar Cukur. Kekuatan utama Wayang Othok Obrol terletak pada gaya penceritaannya yang merakyat, ringan, serta sarat makna, sehingga menjadikannya dekat dengan masyarakat dan sempat mencapai popularitas di wilayah tersebut. Selain itu, kesenian ini memiliki keunggulan dalam aspek efisiensi pertunjukan, karena hanya melibatkan satu orang dalang dan delapan orang pemain gamelan (niyaga), tanpa kehadiran sinden. Efisiensi tersebut menjadikan biaya operasional Wayang Othok Obrol relatif rendah, sehingga lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat.[3]

Asal-usul

Penamaan Othok Obrol pada Wayang Othok Obrol diyakini berasal dari kata "ngobrol" atau "bercerita", yang mencerminkan gaya pertunjukannya yang bersifat lisan dan komunikatif. Kesenian ini bermula dari upaya Ki Ganda Wiragaru, seorang mantan lurah prajurit dari Kerajaan Mataram, yang mengembangkan bentuk pertunjukan wayang sederhana di wilayah Traji. Karena mayoritas masyarakat di daerah tersebut berprofesi sebagai petani dan memiliki keterbatasan dalam pemahaman seni pertunjukan, maka Ki Ganda Wiragaru menciptakan instrumen dan bentuk wayang yang mudah dipahami. Dalam proses latihannya, pertunjukan dilakukan sambil berbincang atau bercakap-cakap, sehingga lahirlah istilah "Othok Obrol" sebagai penanda ciri khas pertunjukan tersebut.[4]

Wayang Othok Obrol umumnya dipentaskan dalam rangkaian upacara adat seperti merdhi desa (ruwat bumi atau sedekah bumi), yang dalam tradisi Yogyakarta dikenal sebagai rasulan. Cerita yang biasa dibawakan dalam pertunjukan ini antara lain Mekukuan, sebuah kisah yang sarat dengan doa permohonan agar desa diberi kemakmuran dan kesuburan, sejalan dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar adalah petani. Selain itu, dalam tradisi masyarakat Selokromo juga terdapat peristiwa budaya yang dikenal sebagai bendung ngelak, yaitu ritual pembendungan sumber air di Sungai Galuh yang dialirkan ke anak sungai menuju Selokromo. Setelah ritual ini dilakukan, masyarakat menyelenggarakan pertunjukan Wayang Othok Obrol dengan lakon seperti Bendung Tambak Situbondo. Lakon ini terinspirasi dari kisah pasukan Ciung Wanara dari Pancawati yang membendung Samudra Hindia untuk mencapai Negeri Alengka demi menyelamatkan Dewi Sinta.[5]

Referensi

  1. ^ "Dinas Kominfo Wonosobo". diskominfo.wonosobokab.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-16.
  2. ^ Group, Gatra Media. "Mengenal Wayang Othok Obrol Khas Wonosobo yang Kini Sebagai WBTB | Gaya Hidup". www.gatra.com. Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. ^ "Dinas Kominfo Wonosobo". diskominfo.wonosobokab.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-16.
  4. ^ Sururi, M. Muchsin. "Wayang Othok Obrol, Warisan Budaya Tak Benda: Simbol Kekayaan Tradisi Wonosobo - Neo Historia". Wayang Othok Obrol, Warisan Budaya Tak Benda: Simbol Kekayaan Tradisi Wonosobo - Neo Historia. Diakses tanggal 2025-06-16.
  5. ^ "Wayang Othok Obrol dan Tari Daeng Diakui Kesenian Asli Wonosobo" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-16.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement