Wahyu Kliyu

Wahyu Kliyu adalah tradisi tahunan masyarakat Dusun Kendal Lor dan Kendal Kidul, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ritual ini dilaksanakan setiap tanggal 14–15 bulan Sura dalam kalender Jawa, tepatnya pada malam purnama, dengan tujuan memanjatkan doa, ungkapan syukur, dan penolak bala melalui simbolisme sebaran kue apem kecil dan zikir "Wahyu Kliyu".[1] Tradisi ini telah dinyatakan sebagai Warisan Budaya Takbenda dan menjadi atraksi wisata budaya setempat.[butuh rujukan]

Wahyu Kliyu memiliki makna spiritual mendalam sebagai upaya pemulihan masyarakat dari masa pagebluk dan bencana, sekaligus bentuk permohonan kesejahteraan dan perlindungan ilahi. Sebaran apem dan zikir mencerminkan bentuk syukur dan remisi dosa, sedangkan ritual bersama memperkuat solidaritas dan identitas komunitas lokal.[2]

Sejarah

Menurut tradisi lisan, Wahyu Kliyu bermula saat terjadi pergolakan pangan dan wabah di Dusun Kendal pada masa penjajahan Hindia Belanda, sekitar abad ke‑19. Dikisahkan ketika Ki Renggo Wijoyo, lurah setempat, bermimpi di malam bulan Sura bahwa tanah wilayahnya retak akibat gempa.[3] Keesokan paginya, warga menemukan retakan besar dan bambu yang digunakan untuk mengukur kedalamannya hanya berhenti saat menyentuh sebutir uang gobang di dasarnya. Uang tersebut dibawa ke Keraton Surakarta dan ditafsirkan sebagai wahyu—petunjuk suci bagi desa.[butuh rujukan]

Atas saran seorang Pengageng Keraton Surakarta, Ki Renggo Wijoyo menjalankan dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyumuu” sebanyak 344 kali setiap malam bulan purnama di bulan Sura, didahului bacaan Bismillah. Untuk membantu penghitungan, masyarakat diminta membuat 344 apem kecil yang dilemparkan satu per satu ke atas daun pisang sambil berdzikir. Dari situlah muncul tradisi melempar 344 apem kecil sambil membaca dzikir "Ya Hayyu Ya Qayyumu" (yang kemudian berubah lidahnya menjadi “Wahyu Kliyu”) pada malam purnama Sura, agar area kembali aman dan hasil bumi diberkahi.[4]

Tradisi ini terus dijalankan setiap tanggal 15 Sura sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Secara adat, prosesi hanya diikuti oleh laki-laki, sementara perempuan berperan sebagai penonton. Masyarakat Kendal meyakini bahwa jika upacara ini ditinggalkan, bencana serupa dapat kembali terjadi.[butuh rujukan]

Pelaksanaan

Wahyu Kliyu dimulai sejak pukul 19:00 saat warga berkumpul di balai desa, membawa tenong berisi apem. Beragam acara pengantar seperti karawitan, pengajian, kirab gunungan apem, dan wayang kulit diadakan hingga tengah malam. Tepat saat purnama, sesepuh memimpin dzikir bersama sebelum warga laki-laki melemparkan apem ke wadah besar beralaskan daun pisang sambil membaca “Wahyu Kliyu”. Setelah semua apem selesai dilempar, wadah ditutup, didoakan, lalu apem dibagikan sebagai berkat. Jumlah apem mencapai sekitar 344 per Kepala Keluarga—jumlah yang simbolis mengikuti presentasi awalnya.[3]

Upaya Pelestarian

Sejak 2020, Tradisi Wahyu Kliyu mendapat pengakuan dari Kemendikbudristek sebagai Warisan Budaya Takbenda, serta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan lembaga lokal. Dokumentasi ritual disertai narasi sejarah terus dikembangkan melalui media cetak dan daring, termasuk digitalisasi prosesi. Festival rutin turut diinisiasi di Dusun Kendal, melibatkan seniman, pegiat budaya, dan santri, serta edukasi ke sekolah dan kampus. Pada saat pandemi Covid-19 tahun 2021, peserta tradisi lempar apem Wahyu Kliyu sempat dibatasi, tetapi pelaksanaannya tetap berlangsung khidmat.[5]

Referensi

  1. ^ Fikria, Syahaamah. "Mengenal Tradisi Wahyu Kliyu yang Digelar Tiap Bulan Suro di Jatipuro Karanganyar: Tak Sekadar Sebar Apem, Ada Makna Mendalam - Radar Solo". Mengenal Tradisi Wahyu Kliyu yang Digelar Tiap Bulan Suro di Jatipuro Karanganyar: Tak Sekadar Sebar Apem, Ada Makna Mendalam - Radar Solo. Diakses tanggal 2025-06-15.
  2. ^ "Pesona Karanganyar | Jangan Lewatkan Event Terbaru di Karanganyar!". pesonakaranganyar.karanganyarkab.go.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
  3. ^ a b "Mengenal Tradisi Wahyu Kliyu di Dukuh Kendal Karanganyar". Etnis - Warta Identitas Bangsa (dalam bahasa Inggris). 2021-08-29. Diakses tanggal 2025-06-15.
  4. ^ Kompasiana.com (2025-03-15). "Tradisi Lempar Apem di Karanganyar "Wahyu Kliyu"". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-15.
  5. ^ Administrator. "Cegah Covid-19, Tradisi Lempar Apem Wahyu Kliyu Dibatasi - Radar Purworejo". Cegah Covid-19, Tradisi Lempar Apem Wahyu Kliyu Dibatasi - Radar Purworejo. Diakses tanggal 2025-06-15.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement