Upacara panjang jimat

Abdi dalem Keraton Kanoman Cirebon tengah membawa lilin besar pada prosesi tradisi malam panjang jimat.

Panjang jimat adalah tradisi peringatan Maulid Nabi di Cirebon, Jawa Barat untuk mengenang dan selalu meneladani Nabi Muhammad SAW. Para pemuka agama di tiga keraton Cirebon (Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan), pada abad ke-15 lalu mengadopsi peringatan Maulid tersebut dan menyesuaikan dengan adat keraton sehingga dibuatlah upacara Panjang jimat atau kerap disebut Pelal.[butuh rujukan]

Pelaksanaan

Upacara panjang jimat merupakan puncak acara peringatan maulid Nabi di tiga keraton. Di keraton Kanoman, upacara digelar pada pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan sembilan kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara panjang jimat.[1]

Tanda pembukaan upacara panjang jimat juga ditandai dengan tiupan peluit sebagai isyarat kepada warga yang menonton agar memberikan jalan bagi iring-iringan keluarga yang diikuti abdi dalem menuju Langgar Alit yang berjarak sekitar 500 m. Dalam perjalan menuju langgar alit, seluruh iring-iringan sambil membaca shalawat nabi.[1]

Setelah lonceng dibunyikan, Pangeran Patih PRM Qodiran mewakili Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin yang menggunakan jubah emas keluar dari ruang Mande mastaka menuju Bangsal jinem. Disini, pangeran menerima sungkem dari Pangeran Komisi, Rohim, sebagai tanda dimulainya proses panjang jimat. Selama prosesi upacara digelar, Pangeran Patih sama sekali tidak diperkenankan bicara sepatah kata pun sebagai simbol istikamah.[1]

Setelah Pangeran Komisi memberikan sungkem kepada Pangeran Patih, iring-iringan mulai berjalan. Pangeran patih bersama keluarga berada paling depan. Iring-iringan dikuti oleh rombongan wanita bangsawan yang tidak sedang datang bulan dan mereka membawa barang pusaka keraton serta perlengkapan rumah tangga seperti piring, lodor, kendi juga barang peninggalan bersejarah lainnya. Perjalanan rombongan diawali dari depan pendopo keraton, kemudian melewati Pintu Si Blawong yang dibuka hanya pada prosesi maulid saja dan berakhir di Masjid Agung Kanoman.[1]

Setelah tiba di masjid, seluruh rombongan duduk rapi di dalam masjid dan mendengarkan pembacaan riwayat Nabi, pembacaan barjanji, kalimat Thoyyibah, shalawat Nabi dan ditutup dengan berdoa bersama. Setelah acara usai, seluruh nasi dan lauk pauk yang dibawa rombongan dibagikan kepada keluarga seluruh orang yang hadir.[1]

Filosofi

Dalam ritual ini, kata "Panjang" ditafsirkan secara harfiah, adalah bentuk piring dan perabotan dapur peninggalan sejarah yang diisi dengan makanan dengan analogi sebagai prosesi kelahiran nabi. Sedangkan kata "Jimat" merupakan akronim dari kata Diaji dan Dirumat yang berarti dipelajari dan diamalkan yakni ajaran-ajaran Islam dengan manauladani Mabi Muhammad.[1]

Di Cirebon, peringatan maulid nabi juga turut digelar di makan Sunan Gunung Jati.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g Bukhawan, Tantan (2010-02-27). "Panjang Jimat di Keraton Cirebon". Okezone News. Diakses tanggal 2026-04-03.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement