Upacara Ngamandian Ucing
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: pengutipan catatan kaki perlu diperbaiki dengan mengutip nama penulis bukan nama media pemberitaan. (Juni 2025) |

Upacara Ngamandian Ucing adalah sebuah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, provinsi Jawa Barat. Tradisi Ngamandian Ucing yang dalam bahasa Indonesia berarti memandikan kucing dilakukan sebagai salah satu bentuk permohonan hujan di kala kemarau panjang yang menyebabkan sejumlah pepohonan dan sumber air mengalami kekeringan.[1] Upacara Ngamandian Ucing masuk sebagai salah satu Kebudayaan Takbenda dari Jawa Barat dan teregistrasi secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 1044/P/2020.[2]
Asal-usul
Penggagas tradisi Ngamandian Ucing ini adalah lelulur Desa Nyenang bernama Nyimas Kubang Karancang. Dikutip dari salah satu tokoh masyarakat tersebut yang bernama Abah Aca, Nyimas Kubang Karancang merupakan keturunan dari Prabu Siliwangi. Berdasarkan tradisi lisan yang ada, penamaan Desa Nyenang sendiri berasal dari ungkapan bahagia terhadap kampung tersebut. Peristiwa tersebut terjadi lantaran Nyimas Kubang Karancang yang awalnya gundah ketika berenang di Sungai Leuwipanjang dan tiba-tiba menjadi senang saat memandang keindahan alam di kampung Nyenang.[3]
Terdapat tradisi lisan berupa puisi dari Nyimas Kubang Karancang yang merupakan asal-usul penamaan Desa Nyenang yang berbunyi sebagai berikut:
Nu ngebak awak sampulur badan, nu geulis kokojayan di leuwi panjang, ngadaweung di batu tumpang, nyénangkeun rasa nyageurkeun ruruhit haté sirna kunangénan éndahna alam.
— Nyimas Kubang Karancang, [4]
Terjemahannya: Ia mandi dalam keindahan tubuhnya, berenang di dasar sungai yang panjang dengan sosok cantiknya, duduk di atas batu besar dan bermeditasi, menikmati kesembuhan kesedihan batinnya, yang terhapus saat melihat keindahan alam.[4]
Terdapat dokumen yang mencatat tentang Ngamandian Ucing, yaitu catatan yang mengungkapkan tentang masa revolusi perang kemerdekaan di bawah kepemimpinan lurah Jayadinata di Desa Nyenang pada tahun 1945-1947. Dokumen tersebut membuktikan bahwa tradisi Ngamandian Ucing sudah ada sebelum tahun 1945. Sampai sekarang, tradisi Ngamandian Ucing masih dilakukan oleh masyarakat Desa Nyenang.[3]
Sampai sekarang belum ditemukan waktu dan tahun dimulainya ritual ini, namun menurut salah satu tokoh masyarakat lainnya yaitu Abah Tatang mengungkapkan terdapat tradisi lisan berupa pesan-pesan nenek moyang yang diyakini cikal bakal ritual Ngamandian Ucing yang berbunyi sebagai berikut:
Lamun katangen ku aranjeun, taneuh bejad, lamping, gawir tatangkalan garing, samangsa muara bojong caina geus saat ngoletrak, Pek geura laksanakeun Ngamandian Ucing kucara ngadoa make budaya.
— Abah Tatang, [4]
Terjemahannya: Jika diperhatikan tanah retak, jurang dan tebing serta pepohonan mengering, dan ketika sumber air di Muara Bojong mengering, digunakan tata cara adat untuk melakukan ritual Ngamandian Ucing.[4]
Prosesi upacara
Terdapat tiga tahap dalam prosesi tradisi Ngamandian Ucing yaitu persiapan, pelaksanaan dan akhir pelaksanaan.
Adapun pelaksanaan tradisi Ngamandian Ucing terdiri dari tiga tahapan, meliputi persiapan, pelaksanaan, dan akhir pelaksanaan. Pada tahapan persiapan, para tetua adat akan memperhatikan tanda-tanda alam untuk menentukan waktu pelaksanaan ritual. Sembari membaca tanda-tanda alam, masyarakat mempersiapkan tempat di sungai Muara Bojong, membuat tumpeng teri, menyediakan panayogean, mempersiapkan sesajen, mempersiapkan musik Reog Buhun, dan seekor kucing yang bakal diarak ke tempat ritual. Setelah semua persiapan selesai, masyarakat dan tetua adat yang berkumpul di lapangan Desa Nyenang. Kemudian rombongan tersebut melakukan arak-arakan dengan membawa semua sarana dan prasarana sampai ke sungai Leuwipanjang dan menata tempat untuk menyajikan tumpeng dan menyalakan dupa. Selanjutnya tetua adat akan mengukur bambu panayogean dengan merentangkan ujung jari tengah tangan kanan dan tangan kiri. Pada tahapan terakhir, setelah ritual dan doa leluhur dipanjatkan selesai, masyarakat akan membawa kucing yang berada di dalam kurungan dari anyaman bambu ke aliran sungai Muara Bojong untuk dimandikan.[5]
Catatan kaki
- ^ merdeka 2022.
- ^ referensi 2020.
- ^ a b Bandungmu 2021.
- ^ a b c d GNFI 2023.
- ^ Kompas 2023.
Daftar pustaka
Sumber daring
- "Upacara Ngamandian Ucing". Budaya Kita Kemendikbud.
- "Melihat Upacara Memandikan Kucing di Bandung, Tradisi Unik untuk Meminta Hujan". Merdeka.com. Diakses tanggal 2025-06-16.
- Anugrah, Feri (2021-07-06). "Mengenal Tradisi "Ngamandian Ucing" dari Bandung Barat". Bandungmu. Diakses tanggal 2025-06-16.
- Ditanugraha, Angga (2023-11-06). "Upacara Ngamandian Ucing, Ritual Alam Semesta dari Kabupaten Bandung Barat". GNFI. Diakses tanggal 2025-06-16.
- Setyaningrum, Puspasari (2023-09-10). "Ngamandian Ucing, Ritual Memandikan Kucing di Kampung Nyenang". Kompas. Diakses tanggal 2025-06-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


