Upacara Adat Tunggul Wulung
Upacara Adat Tunggul Wulung adalah upacara adat bersih yang dilaksanakan di makam Ki Ageng Tunggul Wulung Dusun Dukuhan Xiii, Desa Sendang Agung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Upacara adat Tunggul Wulung memiliki prosesi adat lain seperti prosesi di rumah juru kunci makam Ki Ageng Tunggul Wulung. Juru kunci memimpin upacara adat tunggul wulung dengan persiapan seperti, waktu mulainya upacara dan pihak yang terlibat dalam upacara. Sedangkan upacara adat di rumah juru kunci dipimpin oleh kaum atau rois.[1]
Tujuan
Upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur serta doa dalam memohon perlindungan kepada tuhan pencipta alam semesta. Doa ini dikhususkan oleh warga desa agar masyarakat mendapat keberkahan, kesejahteraan, serta perlindungan dari adanya bencana. Di balik makna terselenggaranya upacara adat ini, terkaitkan juga dengan wujud pernghormatan warga desa kepada mendiang ki ageng tunggul wulung.[2] Tokoh ini menjadi perantara bentuk permohonan terhadap kesejahteraan dan perlindungan dari terkena bencana.[3]
Upacara adat Tunggul Wulung telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2013 tentang Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[3]
Sejarah
Pelaksanaan upacara adat Tunggul Wulung dilakukan setiap Jumat Pon pada musim panen atau satu tahun sekali di sekitar bulan Agustus. Jumat Pon diyakini sebagai hari keramat karena memiiki kisah yang melatarbelakangi terselenggaranya upacara rutinan tahunan Tunggul Wulung. Sejarahnya bermula pada terjadinya peristiwa bernama moksa pada Ki Ageng Tunggul Wulung, bersama istri beliau, pengikutnya, serta hewan peliharaannya. Moksa terjadi saat pelaksanaan tirakat mendapat petunjuk di bawah Pohon Timoho dekat Sungai progo, Dusun Dukuhan, Sendangagung, Minggir, Sleman.[3]
Kemudian lokasi tersebut dibuatkan sebuah nisan seperti makam yang diyakini masyarakat sebagai tempat pelaksanaan tirakat dan ziarah, terlebih pada malam Jumat Pon. Terdapat sebuah kisah yang berkaitan dengan adanya makam tersebut, yaitu peristiwa hilangnya penari Tayub yang pada waktu itu melakukan tirakat dalam mendapatkan keselamatan dan penglarisan, kemudian terciptalah upacara adat Tunggul Wulung yang disertai dengan Tayub dan sesaji. Tayuban dalam adat ini menjadi bagian penting dari rangkaian acara sebagai bentuk pengesahan upacara bersih desa yang bertujuan pada harapan kesuburan.[3]
Tata Cara
Upacara adat Tunggul Wulung dimulai dengan Sendang Beji atau Diro ke arah petilasan Ki Tunggul Wulung dan dibarengi dengan keberangkatan pengiriman hasil desa dengan iringan kesenian tradisional dari kantor desa Sendangagung. Sesampainya di pertigaan Dusun Dukuhan, iringan dari kedua arah antara Sendang Beji dengan hasil desa dari kantor desa dipertemukan pada tengah jalan, kemudian berangkat bersamaan menuju tempat moksa Ki Tunggul Wulung. Sebelum itu, dibawa ke juru kunci dan melakukan upacara dan Tari Tayub, lalu kenduri, dan ziarah ke petilasan moksa beliau. Kemudian dilakukan lagi Tari Tayub, dan malam hari terlaksana wayang kulit sampai larut malam.[3]
Referensi
- ^ "Jogja Budaya". jogjabudaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ Liputan6.com (2025-06-08). "Upacara Adat Tunggul Wulung, Tradisi Bersih Desa yang Terus Dilestarikan". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-11-21. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ a b c d e "UPACARA ADAT TUNGGUL WULUNG SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAKBENDA INDONESIA". kebudayaan.slemankab.go.id. 2021-12-22. Diakses tanggal 2025-11-21.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


