Turunani

Turunani, disebut juga surunani atau sulunami, adalah seni tradisi lisan masyarakat Gorontalo yang berupa lantunan syair yang diiringi tabuhan rebana. Seni ini masih aktif ditampilkan sebagai bagian dalam ritual adat masyarakat.[1][2] Tradisi turunani telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 1044/P/2020.[3]

Sejarah

Secara etimologis, turunani berasal dari istilah sulunani oleh budayawan Yamin Husain yang berarti "suruh nyanyi".[2][4] Istilah ini berasal dari ungkapan “Taranama ya taranamu, ya taranuma”, yang merujuk pada syair-syair berisi selawat yang dilagukan. Sejarah kesenian bernuansa religi ini berkaitan dengan asal-usul masuknya Islam di Gorontalo pada tahun 1525 melalui Sultan Amai. Dalam proses penyebaran agama Islam, sastra lisan seperti Turunani menjadi media dakwah di daerah tersebut.[1]

Ciri khas

Turunani dilantunkan oleh 7-10 orang laki-laki ataupun perempuan secara berkelompok. Seni lisan ini dilantukan dalam bahasa Arab dengan intonasi dan pola ritme lagu tertentu dan dilengkapi iringan rebana pada acara kegembiraan (liango).[3] Turunani disampaikan dalam bentuk syair vokal yang dapat dibagi menjadi delapan jenis lantunan, yakni: Al-Aqiqi, Natahayirudaa (keselamatan besar), Natahayirukiki (keselamatan kecil), Suluta, Jaraha Li Kalibi, Sallu Ala, Jainati Jarati, dan Hatamu.[1] Saat ini, penyampaian turunani juga diiringi alat musik modern seperti kibor, gitar, pengeras suara dan alat musik lainnya sebagai dampak dari masuknya pengaruh budaya luar.[4][5]

Peran

Seni lisan turunani memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakat, antara lain sebagai hiburan, media komunikasi, pelestarian budaya dan sarana mempererat hubungan sosial. Turunani dilaksanakan oleh ahlul di kediaman pihak yang mengadakan acara. Seni turunani ini ditampilkan dalam berbagai perayaan, seperti: pernikahan, akikah, sunat, pembaiatan, dan sebagainya.[2][3] Pada prosesi akikah, syair turunani dilantunkan setelah penyembelihan hewan dan sebelum mohuntingo. Sementara itu, pada acara sunat, syair nahatairuki (keselamatan kecil) turunani menjadi lantunan pengiring hingga prosesi sunat selesai.[1] Pada upacara pernikahan, turunani dilantunkan dalam prosesi molile huali (prosesi meninjau kamar pengantin).[4] Selain pada acara ritual keagamaan, seni lisan turunani juga digunakan sebagai pengiring dalam tari molapi saronde dengan lantunan syair suluta.[6]

Referensi

  1. ^ a b c d Karlan, La Ode; Rahmat, Abdul; Mirnawati, MIra (2019). "Pendidikan Masyarakat Pada Pertunjukan Turunani dalam Upacara Adat Gorontalo". Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal AKSARA. 5 (3): 163–170.
  2. ^ a b c Monoarfa, Rangga Setiawan (2021-11-29). "MUSIK TURUNANI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN MUSIK ETNIS DENGAN JUDUL MO'ELA". SELONDING (dalam bahasa Inggris). 17 (2): 1–14. ISSN 2685-9327.
  3. ^ a b c "Turunani". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ a b c Ibrahim, Arfandi (2025-01-27). "Mengenal Turunani, Tradisi Lisan dan Nyanyian Adat Gorontalo yang Melegenda". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ Renol, Hasan; Pandju, Sri Milawati; Wantu, Mohamad (2020). "Satu Dekade Desa Botungobungo". Jambura History and Culture Journal. 2 (2): 1–6.
  6. ^ Udin, Nur Indawati; Rosidi, Moh. Imron (2023). "Tari Molapi Saronde Dan Relevansinya Dalam Pembelajaran IPS". Jurnal Padang Tekno. 1 (2): 94–97. doi:10.59435/jipnas.v1i2.74.


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement