Turuk Laggai Mentawai
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (Juni 2025) |
Tarian Turuk Langgai merupakan tarian tradisional masyarakat Mentawai yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 17. Tarian ini mengadopsi gerakan hewan yang ada disekitar mereka. Masyarakat Mentawai percaya tarian ini merupakan cara berkomunikasi dengan roh leluhur.[1] Biasanya tingkah laku binatang tersebut diperhatikan pada saat mereka pergi berburu dan mengerjakan tinungglu atau ladang. Setelah pengamatan yang saksama dan berlangsung lama, maka hasil pengamatan itu dituangkan ke dalam bentuk tarian (turuk) dalam berbagai bentuk gerak atau uliat yang ditampilkan sebagai hiburan di berbagai pesta adat di Mentawai. Kedekatan dengan alam inilah yang memengaruhi semua tingkah laku orang Mentawai, termasuk ke dalam seni tari. Sehingga di berbagai tempat di Mentawai gerakan turuk hampir sama, karena meski berbeda tempat hewan yang diamati hampir sama perilakunya. Gerakan turuk juga menyimpan nilai luhur yang penting dalam kehidupan di Mentawai. Seperti turuk uliat kemut mengambarkan cinta kasih, turuk laggai uliat burung elang dan monyet (bilou) menggambarkan perdamaian antar suku.[2]
Pelaksanaan
Tarian ini biasanya ditarikan pada malam hari sebagai media pengobatan. Turuk laggai adalah bagian akhir dari ritual pengobatan yang dilakukan ,Sikerei akan menari yang tujuannya agar roh yang sakit terhibur dan tidak meninggalkan raganya kalau sampai roh meninggalkan tubuh si sakit maka ia akan meninggal. Dikejauhan tabuhan Tuddukat ( alat musik dari kayu yang dilobangi tengahnya) dan Urai sayup terdengar. Urai merupakan seni olah vokal Mentawai yang dilakukan Sikerei ketika sedang menari dan diakhir setelah tarian selesai. Ketika Tuddukat dipukul maka Sikerei akan menjinjitkan kakinya, kepala mengadah ke atas, badan dibungkukkan dan tangan yang memegang dedaunan mulai bergoyang.[1]
Dalam tarian Turuk Langgai ini ada istilah apakah sebuah kegiatan disetujui oleh leleluhur atau tidak. Bila disetujui maka boleh dilanjutkan. Bila tidak maka akan mendatangan bencana seperti penyakit hingga kematian. Biasanya untuk mengatahui jawaban roh leluhur ini ada cara khusus yang dilakukan Sikerei, seperti melalui pemotongan hewan dan kalau untuk pengobatan tidak boleh dipertontonkan berbeda jika sebagai hiburan seperti ini“ terangnya. Ada dua macam Turuk Langgai yaitu turuk puliaijat ( ritual pengobatan) dan turuk punen ( tarian pesta). “Turuk puliaijat melibatkan roh leluhur jadi tidak akan ditampilkan saat pesta karena itu dilarang,”lanjutnya. Turuk Langgai merupakan implementasi kedekatan alam dengan masyarakat mentawai selaras dengan ajaran Arat Sabulungan ( kepercayaan asli masyarakat Mentawai) yang berfungsi sebagai penyampai nilai-nilai luhur seperti persatuan, perdamaian, kemakmuran , dan cinta kasih antar suku.[1]
Referensi
- ^ a b c Salfitri, Aldilla (23 April 2024). "Turuk Langgai, Implementasi Alam Dalam Sebuah Tarian". RRI. Diakses tanggal 20 Juni 2025.
- ^ "Produk Wisata Turuk Laggai - Tarian Tradisional". jadesta.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


