Tugu Peringatan Pieter Erberveld

Tugu Peringatan Peter Erberveld.

Tugu Pieter Erberveld adalah sebuah monumen bersejarah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk memperingati hukuman mati Pieter Erberveld, seorang keturunan Indo-Eropa yang dituduh berkhianat terhadap pemerintahan Hindia Belanda pada awal abad ke-18.[1] Tugu ini awalnya berdiri di bekas lokasi kediaman Erberveld, menghadap Jacatraweg (sekarang Jalan Pangeran Jayakarta), dan selama berabad-abad menjadi simbol yang sarat makna politik dan kolonial.

Latar belakang

Seorang pemuda temenung di depan Tugu Peringatan Pieter Erberveld pada tahun 1890.

Pieter Erberveld dieksekusi pada tahun 1722 setelah dituduh merencanakan pemberontakan terhadap pemerintahan Belanda di Batavia. Hukuman mati tersebut dilakukan secara kejam, dan setelah eksekusinya, pihak Belanda berupaya menjadikannya contoh untuk menakut-nakuti penduduk lokal agar tidak melakukan perlawanan serupa. Sebagai bagian dari upaya tersebut, dibangunlah sebuah tugu peringatan di atas tanah bekas rumah Erberveld.

Pembangunan

Tanggal pasti pembangunan tugu ini tidak diketahui secara jelas. Terdapat kejanggalan kronologis karena tanggal yang tertera pada tugu mendahului tanggal eksekusi Erberveld.[1] Tugu tersebut memiliki bentuk yang khas: di puncaknya terdapat tengkorak dari plester yang ditusuk dengan tombak, sedangkan di bagian bawahnya terdapat prasasti berbahasa Belanda yang menyebut Erberveld sebagai seorang pengkhianat dan memperingatkan agar tidak ada yang meniru tindakannya.[2]

Monumen ini berfungsi sebagai alat propaganda kolonial, menegaskan kekuasaan dan dominasi Belanda atas penduduk pribumi dan keturunan campuran. Selama masa kekuasaan kolonial, tugu ini menjadi salah satu penanda fisik yang paling dikenal di kawasan Batavia lama.

Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945), pemerintah militer Jepang menilai tugu tersebut sebagai simbol penindasan kolonial Belanda yang tidak pantas dipertahankan.[3] Surat kabar Unabara edisi 28 April 1942 melaporkan bahwa otoritas Jepang berencana menurunkan tengkorak dari puncak tugu dalam sebuah upacara resmi. Tidak lama setelah itu, seluruh struktur tugu dihancurkan, kemungkinan besar pada hari yang sama dengan penurunan tengkorak tersebut.

Meskipun tugu asli dirobohkan, prasasti aslinya diselamatkan dan kemudian disimpan di halaman Stadhuis Batavia, yang kini dikenal sebagai Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua Jakarta.

Replika dan Pemindahan

Pada awal atau pertengahan tahun 1970-an, pemerintah atau pihak terkait membangun replika tugu dan prasasti di lokasi aslinya di Jalan Pangeran Jayakarta. Replika tersebut berfungsi sebagai penanda sejarah dan sarana edukasi mengenai kisah Erberveld serta praktik kolonial di masa lalu.

Sekitar tahun 1986, replika tugu dipindahkan ke Museum Prasasti Tanah Abang, Jakarta Pusat, untuk keperluan pelestarian dan pameran yang lebih terawat. Dengan demikian, tugu asli sudah tidak ada lagi, tetapi prasasti aslinya tetap tersimpan di Museum Fatahillah, sementara tugu dan prasasti replika dapat dilihat di Museum Prasasti hingga kini.[4]

Referensi

  1. ^ a b Damarjati, Danu. "Monumen Pieter Erberveld Sang Hero Batavia dengan Tengkorak di Atasnya". detiknews. Diakses tanggal 2025-11-01.
  2. ^ "Wayback Machine". ecommons.cornell.edu. Diakses tanggal 2025-11-01.
  3. ^ Kusumo, Rizky (2022-05-11). "Kisah Pieter Erberveld, Hero Batavia yang Dikenang Jadi Kampung Pecah Kulit". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-02.
  4. ^ Bradley, Horton, William (2003-10). "Pieter Elberveld: The Modern Adventure of an Eighteenth-Century Indonesian Hero" (dalam bahasa American English). ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement