Trilema Münchhausen

Baron Munchausen menarik dirinya keluar dari lumpur dengan rambutnya sendiri.

Dalam ranah epistemologi, trilema Münchhausen adalah sebuah eksperimen pemikiran yang dimaksudkan untuk memperlihatkan ketidakmungkinan teoretis dari pembuktian suatu kebenaran, bahkan dalam ranah logika dan matematika, tanpa bertumpu pada asumsi yang telah lebih dulu diterima. Bila ditanyakan bagaimana suatu proposisi dapat diketahui kebenarannya, tentu dapat diajukan suatu bukti pendukung. Namun, pertanyaan yang sama dapat diarahkan pula kepada bukti itu sendiri, dan begitu seterusnya pada bukti berikutnya. Trilema Münchhausen menunjukkan bahwa hanya ada tiga jalan untuk menuntaskan sebuah bukti:

  • Penalaran melingkar, yakni ketika bukti atas sebuah proposisi justru berasumsi pada kebenaran proposisi itu sendiri
  • Regresi tak berhingga, yakni ketika setiap bukti menuntut bukti lain yang lebih lanjut, ad infinitum
  • Argumen dogmatis, yang bersandar pada prinsip-prinsip yang diterima begitu saja, tanpa pembelaan lebih lanjut selain pernyataan itu sendiri

Maka trilema ini menyingkap kenyataan bahwa kita dipaksa memilih di antara tiga pilihan yang sama-sama tidak memuaskan.

Nama

Istilah Münchhausen-Trilemma diciptakan oleh filsuf Jerman Hans Albert pada tahun 1968, merujuk pada sebuah trilema mengenai "dogmatisme versus regresi tak berhingga versus psikologisme" yang digunakan oleh Karl Popper.[1] Nama ini merupakan rujukan pada persoalan "bootstrapping", yang terilhami dari kisah Baron Munchausen (dalam bahasa Jerman, "Münchhausen") yang menarik dirinya sendiri beserta kuda yang ia tunggangi keluar dari sebuah lumpur hanya dengan rambutnya sendiri. Seperti halnya Munchausen, yang mustahil bergerak maju karena ia tak memiliki pijakan kokoh, setiap upaya pembenaran atas seluruh pengetahuan pada akhirnya gagal, sebab ia mesti berangkat dari keadaan tanpa pengetahuan, dan karenanya tidak dapat benar-benar bergerak maju. Ia bisa saja berangkat dari sebagian pengetahuan yang diterima begitu saja, seperti dalam dogmatisme; atau tidak pernah sungguh mulai, seperti dalam regresi tak berhingga; atau menjadi penalaran melingkar, yang hanya membenarkan dirinya sendiri tanpa fondasi yang independen—seabsurd Münchhausen yang mengangkat dirinya keluar dari lumpur tanpa tumpuan eksternal.

Dalam epistemologi kontemporer, para penganut koherensisme dianggap menerima tanduk “melingkar” dari trilema ini; para fondasionalis bergantung pada argumen aksiomatis. Sedangkan pandangan yang merangkul regresi tak berhingga dikenal sebagai infinitisme.

Trilema ini juga disebut sebagai trilema Agrippa atau trilema Agrippan,[2] mengacu pada argumen serupa yang dilaporkan oleh Sextus Empiricus, dan dinisbahkan kepada Agrippa si Skeptis oleh Diogenes Laërtius. Namun, argumen Sextus itu terdiri dari lima (bukan tiga) "modus".

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Dogmatismus – unendlicher Regreß – Psychologismus Albert, Traktat über kritische Vernunft, 1968, hlm. 11, dikutip dalam Westermann, Argumentationen und Begründungen in der Ethik und Rechtslehre, 1977, hlm. 15.
  2. ^ Franks, Paul W.; Franks, Assistant Professor of Philosophy Paul W. (30 October 2005). All Or Nothing: Systematicity, Transcendental Arguments, and Skepticism in German Idealism (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. hlm. 18. ISBN 978-0-674-01888-4.

Bacaan lanjutan

  • Hans Albert, Treatise on Critical Reason, Princeton University Press, 1985, chap. I, sect. 2.
  • For Hans Albert's scientific articles see List of Publications in Hans Albert at opensociety.de

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement