Tragedi Bintaro (film)
| Tragedi Bintaro | |
|---|---|
Sampul VCD | |
| Sutradara | Buce Malawau |
| Produser | Bucuk Suharto |
| Ditulis oleh | Marselli |
Berdasarkan | Tabrakan kereta api Bintaro 1987 |
| Pemeran | Roldiah Matulessy Ferry Octora Lia Chaidir Asrul Zulmi Aspar Paturusi Nyoman Ayu Lenora Cynthia Fransiska Ferry Iskandar Andi Hermawan Yoga Pratama Tino Karno |
| Penata musik | Suka Hardjana |
| Sinematografer | William Samara |
| Penyunting | Maruli Ara |
| Distributor | Safari Sinar Sakti Film |
Tanggal rilis | 4 Mei 1989 |
| Durasi | 93 menit |
| Negara | |
| Bahasa | Bahasa Indonesia |
Tragedi Bintaro adalah film Indonesia bergenre drama tragedi yang dirilis pada 4 Mei 1989 dan disutradarai oleh Buce Malawau. Film ini dibintangi antara lain oleh Roldiah Matulessy, Ferry Octora, dan Lia Chaidir. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang korban kecelakaan kereta api Bintaro 1 pada tanggal 19 Oktober 1987.
Sinopsis
Juned tinggal bersama neneknya, Minah, dan empat saudara kandungnya di pemukiman padat Jakarta. Kedua orang tuanya telah berpisah rumah karena konflik, sehingga Minah harus mengasuh kelima cucunya sambil bekerja serabutan. Juned, meskipun masih anak-anak, menunjukkan tanggung jawab besar dengan berjualan koran dan menabung hasil penjualannya. Ia juga berusaha membantu kakaknya, Mulyadi, yang kesulitan membayar uang sekolah, meskipun upayanya sempat disalahpahami oleh neneknya.
Konflik keluarga semakin kompleks ketika Juned mengetahui ayahnya makan bersama perempuan lain, sementara ibunya sedang sakit. Juned menggunakan seluruh tabungannya untuk pengobatan sang ibu. Di tengah persiapan pindah ke desa, Juned merasa kecewa karena tidak menerima hadiah dari ayahnya seperti saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia tetap ikut dalam perjalanan bersama nenek dan saudara-saudaranya.
Saat kereta yang mereka tumpangi mulai berjalan, ayah Juned datang ke stasiun untuk memberikan hadiah yang tertunda. Namun, karena ukuran bungkusan terlalu besar, hadiah tersebut tidak dapat diberikan melalui jendela kereta. Juned pun menangis karena tidak menerima hadiah tersebut. Tak lama kemudian, kereta mengalami tabrakan maut dengan kereta lain, menyebabkan seluruh anggota keluarga Juned tewas, kecuali dirinya yang berhasil diselamatkan meski harus kehilangan kaki kirinya.
Kecelakaan tersebut menjadi titik balik bagi orang tua Juned. Di rumah sakit, Juned mempertemukan kembali ayah dan ibunya yang sebelumnya hidup terpisah. Ia meminta mereka untuk berdamai demi masa depan yang lebih baik. Di akhir kisah, Juned tampil sebagai dirinya sendiri, mengenakan penyangga kaki, dan menyampaikan harapan agar kisah keluarganya dapat menjadi pelajaran bagi semua orang.[1]
Pemeran
- Roldiah Matulessy sebagai nenek Minah
- Ferry Octora sebagai Juneidi Wijaya/Juned
- Ps. Andy Otniel sebagai Mulyadi
- Lia Chaidir sebagai Lena, ibu Juned
- Asrul Zulmi sebagai Efendi, ayah Juned
- Tino Karno sebagai rekan Efendi
- Aspar Paturusi sebagai PPKA Stasiun Sudimara
- Nyoman Ayu Lenora
- Cynthia Fransiska
- Ferry Iskandar
- Andi Hermawan
- Yoga Pratama
Penghargaan
| Tahun | Penghargaan | Kategori | Penerima | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| 1989 | Festival Film Indonesia 1989 | Film Terbaik | Tragedi Bintaro | Menang |
| Sutradara Terbaik | Buce Malawau | Menang | ||
| Pemeran Pendukung Pria Terbaik | Asrul Zulmi | Menang | ||
| Pemeran Pendukung Wanita Terbaik | Lia Chaidir | Nominasi | ||
| Pemeran Cilik Terbaik | Ferry Octora | Menang | ||
| Skenario Terbaik | Marselli | Nominasi | ||
| Cerita Asli Terbaik | Marselli | Nominasi | ||
| Penyuntingan Terbaik | Maruli Ara | Nominasi | ||
| Tata Musik Terbaik | Suka Hardjana | Nominasi | ||
| Tata Suara Terbaik | Kemal Redha | Nominasi | ||
| Tata Sinematografi Terbaik | William Samara | Nominasi | ||
| Tata Artistik Terbaik | Rogoes Soemarco | Nominasi | ||
| Piala Kartini | Pemeran Cilik Terbaik | Ferry Octora | Menang |
Referensi
- ^ "Tragedi Bintaro (1989)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2023-01-31.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


