Tradisi Smong
Semong (Bahasa Simeulue: Smong) adalah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun sejak tsunami besar tahun 1907. Melalui nyanyian, cerita rakyat, hingga syair nandong, masyarakat Simeulue belajar mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami yakni air laut surut drastis, gempa kuat, dan perilaku hewan. Anak-anak diajarkan sejak dini bahwa jika fenomena itu terjadi, mereka harus segera berlari ke tempat yang lebih tinggi.[1]
Smong merupakan salah satu kearifan lokal Aceh, khususnya bagi masyarakat Simeulue yang tinggal di daerah pesisir. Istilah ini digunakan sebagai sistem peringatan dini terhadap ancaman bencana tsunami yang berpotensi terjadi di wilayah tersebut. Kata smong berasal dari bahasa Simeulue, dari dialek Devayan, yang berarti hempasan gelombang air laut. Istilah ini sudah akrab di telinga masyarakat Simeulue sejak lebih dari seratus tahun lalu.[2][3]
Asal usul Smong
Kemunculan smong berawal dari bencana tsunami yang terjadi di pesisir Pulau Simeulue pada tahun 1907 silam. Kala itu ombak besar menghantam pesisir-pesisir pulau Simeulue terutama di Kecamatan Teupah Barat. Tsunami dengan magnitude 7,6 tersebut menjadi mimpi buruk sekaligus pelajaran berharga bagi masyarakat Simeulue. Ribuan nyawa melayang, rumah dan surau hancur, serta harta benda pun lenyap. Jejak bencana itu masih terlihat pada sebuah kuburan yang terletak di pelataran masjid Desa Salur, Kecamatan Teupah Barat. Oleh para tetua dan tokoh adat, kisah smong itu pun diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui nafi-nafi. Nafi sendiri merupakan budaya lokal masyarakat Simeulue berupa adat tutur atau cerita yang berisi nasihat dan petuah kehidupan, tak terkecuali smong.[2][4]
Cerita smong disampaikan kepada generasi muda dalam berbagai kesempatan. Misalnya, saat memanen cengkeh, setelah mengaji, juga di malam hari sebagai pengantar tidur buah hati. Harapannya, kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tragedi serupa tidak terulang lagi. Di era sekarang, smong tidak hanya diceritakan melalui nafi-nafi. Para tetua dan tokoh adat menyampaikan nafi-nafi kepada kaum muda untuk menjadi pelajaran. Mereka juga menceritakan kisah tersebut melalui nanga-nanga dan kesenian Nandong. Kisah itu pun disenandungkan melalui lagu dan puisi, salah satunya yang diciptakan oleh Muhammad Riswan alias Moris, salah satu tokoh adat sekaligus pemerhati budaya Simeulue.[2][4]
Syair tentang Smong
Berikut bunyi bait syair lagu karya Moris yang bercerita tentang Smong:[4]
|
Enggel mon sao curito |
dengarlah sebuah cerita |
Peran Smong pada tsunami Aceh 2004
Ketika gempa 26 Desember 2004 mengguncang Aceh, penduduk Simeulue yang sudah dibekali pengetahuan Smong segera berlari ke perbukitan. Hasilnya, meski pulau itu berada dekat episentrum, korban jiwa hanya ratusan dibandingkan ratusan ribu di Banda Aceh dan wilayah pesisir lain.[1]
Smong sebagai warisan budaya
Secara antropologis, Smong bukan sekadar pengetahuan praktis, tetapi juga warisan budaya yang memperkuat identitas Simeulue. Melalui nandong, masyarakat tidak hanya mengingat bencana, tetapi juga merayakan ketahanan kolektif mereka. Smong menjadi simbol solidaritas dan gotong royong dalam menghadapi krisis.[1]
Seiring perkembangan teknologi, Smong juga mengalami transformasi. Smong mulai diadaptasi ke dalam bentuk media digital seperti film pendek, komik, hingga konten media sosial. Bahkan, ada penelitian terbaru yang mendokumentasikan penggunaan Smong dalam musik populer dan seni kontemporer. Namun, modernisasi ini membawa tantangan tersendiri, proses adaptasi kearifan lokal ke dalam format baru dapat berisiko mengurangi nilai substantifnya. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan antara menjaga autentisitas pesan Smong dengan menyesuaikannya untuk generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital.[1]
Rujukan
- ^ a b c d "Kearifan Lokal Simeulue sebagai Warisan Budaya Mitigasi Tsunami". Portal Literasi Sejarah Bencana (dalam bahasa Inggris). 2025-09-08. Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ a b c "Mengenal Smong, Kearifan Lokal yang Jadi Mitigasi Bencana di Aceh". kumparan. Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ Aminah, Afiqa Aulia; Apriliya, Seni; Setiadi, Pidi Mohammad (2025-07-31). "SMONG: SASTRA LOKAL SEBAGAI STRATEGI MITIGASI BENCANA BERBASIS BUDAYA". Taroa: Jurnal Pengabdian Masyarakat (dalam bahasa Inggris). 4 (2): 208–217. doi:10.52266/taroa.v4i2.4362. ISSN 2828-3600.
- ^ a b c Perhubungan, PPID (2020-02-07). "Smong, Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana". Dishub (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-12.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


