Togak Tonggol

Togak Tonggol merupakan salah satu tradisi budaya bagi Masyarakat Langgam di Kabupaten Pelalawan, Riau yang diadakan tiap tahun. Togak Tonggol atau tegaknya Tonggol adalah tradisi menaikkan Bendera Kebesaran setiap suku Ketiapan yang ditegakkan pada tonggak (tiang) tanpa aral melintang baik sebelum acara maupun pada saat prosesi penegakan Tonggol.[1]

Tonggol berbentuk seperti bendera dengan warna-warna tertentu yang dimiliki oleh perangkat adat yaitu batin, penghulu, dan ketiapan (pembantu batin) dan diwariskan secara turun temurun serta menjadi alat kebesaran. Setiap tonggol disimpan di rumah suku dari pejabat adat yang menjabat atau disebut dengan rumah soko. Warna-warna pada Tonggol memiliki makna-makna yaitu hitam melambangkan adat, putih melambangkan alim ulama, kuning melambangkan raja, merah melambangkan hulubalang, dan hijau melambangkan rakyat.[2]

Tradisi Togak Tonggol ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Pemerintah melalui Kemendikbudristek pada tahun 2020. Perayaan Togak Tonggol bersamaan dengan Balimau Potang Mogang, ketika ada togak masyarakat adat yang tidak naik, maka dipercaya ada masalah di masyarakat adat tersebut.[2]

Tonggol adalah marwah suku yang tidak boleh diperlakukan sembarangan atau ditegakkan setiap saat tanpa sebuah upacara adat dan persetujuan suku. Tegaknya tonggol juga menjadi penanda bahwa anak-kemanakan yang berada dalam lindungan pemuka adat berada dalam hubungan yang harmoni.[1]

Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara adat ini dimulai dengan menaikkan atau menegakkan Tonggol, di mana Tonggol dikeluarkan dari Rumah Sompu yang dikelola oleh Soko dan Sanak Padusi dan dibawa ke lapangan. Lalu, prosesi di lapangan dimulai dari Penyampaian Kata Permohonan Diri dari Pemangku Pucuk Adat untuk meminta izin menegakkan (togak) Tonggol Kebesaran Adat.[1]

Ketika izin sudah diberikan maka seluruh Mamak, Datuk, Batin dan Penghulu dalam wilayah adat untuk dijemput agar turun dan mendekat ke tiang. Hal ini dilakukan agar dapat memulai proses penegakan Tonggol di lapangan. Soko menyerahkan Tonggol kepada Ninik Mamak, Datuk, Batin dan Penghulu pada setiap Ketiapan. Selanjutnya Ninik Mamak, Batin dan Penghulu pada setiap Ketiapan menyerahkan kepada Kemenakan Jantan Urang Sumondo.

Tonggol diikat pada ujung tiang (tonggak) dan mulailah prosesi Penaikan Togak Tonggol oleh Kemenakan Jantan Urang Sumondo. Hal ini diawali dengan membaca Shalawat Nabi disertai dengan menyembelih hewan kurban berupa seekor kambing atau sesuai kemampuan serta diiringi dengan Silat Induk Berempat. Setelah Tonggol ditegakkan dengan sempurna tanpa aral melintang atau hambatan lainnya, maka disampaikanlah Pauh-pauh berupa syarat-syarat yang harus ditaati bersama selama Tonggol ditegakkan sampai sore. Adapun pauh-pauh yang dimaksud adalah, kuning melambangkan makna raja, hijau melambangkan makna rakyat, merah melambangkan makna kecintaan Ketiapan[1]

Tradisi ini disertai dengan atraksi. Seperti di Batu Belah, Kampar ada arak-arakan perahu hias. Di Pekanbaru juga ada tradisi lepas bebek. Khusus untuk Togak Tonggol, tradisi ini merupakan tradisi penting dalam pebatinan Petalangan kurang oso tigo puluah Kabupaten Pelalawan. Keberadaannya merepresentasikan kehidupan dan keberadaan orang Petalangan dengan sistem adat yang dipertahankan sebagai pedoman kehidupan sehari-hari.[2]

Referensi

  1. ^ a b c d "Atraksi Togak Tonggol". jadesta.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
  2. ^ a b c Fitri, Tuti (11 Maret 2024). ""Togak Tonggol" Tradisi Melayu Pelalawan Menyambut Puasa". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 20 Juni 2025.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement