Tenun Sekomandi
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Tenun Sekomandi adalah kain tenun tradisional yang berasal dari masyarakat suku Kalumpang di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.[1] Kain tenun tradisional ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 186/M/2015.[2]
Makna etimologis
Istilah Sekomandi berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa lokal, yaitu "seko", yang berarti "persaudaraan atau kekeluargaan", serta kata "mandi", yang berarti "kuat atau erat". Oleh karenanya, Sekomandi dapat diartikan sebagai ikatan persaudaraan yang kuat.[3]
Pembuatan
Tenun Sekomandi dibuat dari bahan dasar kulit kayu yang diproses dengan cara ditumbuk hingga halus, kemudian diolah dan dipintal menjadi benang. Penenunan kain dilakukan secara manual menggunakan alat tenun tradisional (gedogan) oleh ibu rumah tangga dengan pola hias yang diatur sebelum proses penenunan dimulai. Pembuatan tenun ini menggunakan bahan pewarna alami yang berasal dari akar pohon, dedaunan,[1][4] campuran cabai, dan bahan alami lainnya.[3]
Pola dan motif
Kain tenun Sekomandi memiliki pola dasar geometris dengan bentuk perisai, jajar genjang, garis beraturan, serta bentuk lain yang menyerupai orang dan kepiting.[5] Kain tenun tradisional ini memiliki beragam motif dengan maknanya tersendiri. Beberapa di antaranya adalah motif Ulukarua Kasalle, Ulukarua Barinnik, Tonoling, Telensepuk, Sambo Tanete, Porikokkok, Tossobalekoan, dan Sarakka. Motif Ulu Karua mencerminkan delapan sosok pemangku adat. Warna-warna yang digunakan dalam kain ini berupa perpadian jingga, merah, cokelat, hijau, krem, dan kuning.[4]
Pemanfaatan
Secara tradisional, kain tenun Sekomandi memiliki nilai tukar dan pernah digunakan sebagai alat barter. Tenun tradisional ini memiliki nilai yang setara dengan hewan ternak seperti babi dan kerbau. Selain sebagai alat tukar, kain ini juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat tas, selendang, dan taplak meja.[3]
Pada era modern, tenun Sekomandi kerap dijadikan hadiah bagi tamu kehormatan. Pengolahan tenun ini dapat menghasilkan produk turunan seperti pakaian, perlengkapan mode, dan dekorasi.[1] Sebagai objek warisan budaya, kain tenun ini juga telah ditampilkan dalam berbagai pameran seperti Harvesting Gernas BBI 2022, Sulbar Expo di Balikpapan, dan Pameran Kriyanusa di Jakarta.[4]
Referensi
- ^ a b c Ramli S., Hamzar, Mu’fidatul N. Hajjad, dan Muhammad Aqil (2024). The Utilisation Of Digital Marketing Through Influencers To Maintain Sekomandi Weaving As A Creative Economic Product Of Kalumpang Women In Mamuju District. ISRG Journal of Economics and Business Management, 2(6), 19–29.
- ^ "Kain Tenun Sukomandi". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b c Sholihah, N. N. I., & Rahayu, I. A. T. (2024). PERANCANGAN MOTIF UNTUK SERAGAM SEKOLAH BERSUMBER IDE PERPADUAN RUMAH ADAT BOYANG DAN MOTIF KAIN TENUN SEKOMANDI MENGGUNAKAN APLIKASI CORELDRAW DI KEKEAN WASTRA GALLERY. JPBD (Jurnal Penelitian Busana dan Desain), 4(1), 9-24.
- ^ a b c Musyrifah, Musyrifah; Tanniewa, Adam Musa; Saal, Asmawati (2023-12-18). "Pengembangan Etalase Digital sebagai Media Promosi Kain Tenun Sekomandi". E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. 14 (4): 796–802. doi:10.26877/e-dimas.v14i4.16709. ISSN 2528-5041.
- ^ Rahmadani, E. P., Nasrullah, N., & Idris, S. (2024). Unsur Regionalisme pada Fasade bangunan Terminal Angkutan Darat Tipe A di Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Jurnal Arsitektur Sulapa, 6(1), 32-39.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


