Tatwa Sapta Kanda Empat
Tatwa Sapta Kanda Empat[1] adalah salah satu ajaran inti dari Organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa "Dharma Murti".[2] Ajaran ini telah digali, diteliti, dikembangkan, disosialisasikan, dan dipublikasikan oleh Pendiri Dharma Murti, Pan Putu Budihartini[3] sejak tahun 1982 (sejak Dharma Murti berdiri) hingga akhir hayatnya dan beberapa buku-buku ajarannya pun telah diterbitkan secara komersial.[4]
Menurut Pan Putu Budihartini (2000),[5] Tatwa Sapta Kanda Empat merupakan budaya spiritual daerah Bali yang universal dan menjiwai spiritualitas umat Hindu Bali pada khususnya. Eksistensi dari Tatwa Sapta Kanda Empat ini pernah tenggelam dan ditelantarkan oleh orang-orang Bali sendiri karena mereka "kecanduan" dengan budaya asing dan ada pihak-pihak yang berusaha mendiskreditkan ajaran ini secara masif untuk kepentingan kelompoknya kala itu.

Namun seiring perkembangan waktu, akhirnya ajaran ini semakin diterima dengan baik karena memang ajaran ini merupakan warisan nenek moyang dan leluhur di Bali yang erat sekali kaitannya dengan upacara/upakara tertentu seperti mecaru, tiga bulanan, bayuh oton, metatah atau mesangih, pawiwahan, mewinten, termasuk pengabenan yang menjadi tradisi dan kebudayaan masyarakat Bali hingga saat ini.
Jika boleh jujur, adanya tradisi mecaru, tiga bulanan, bayuh oton, metatah atau mesangih, pawiwahan, mewinten, dan ngaben bukanlah bagian dari Agama Hindu sebagaimana agama ini berasal dari India. Namun, karena Agama Hindu masuk ke Nusantara termasuk masuk ke Bali dengan cara yang smooth dan tidak meninggalkan adat, tradisi, dan kebudayaan Bali akhirnya Agama Hindu diterima oleh masyarakat dan berakulturasi dengan kebudayaan Bali dan hingga kini dikenal dengan nama HINDU BALI.
Oleh karena, ajaran HINDU BALI merupakan ajaran yang menggabungkan dua pengetahuan (sastra) suci menjadi satu kesatuan yang utuh maka untuk memahami ajaran ini harus mempelajari dua pengetahuan suci yang tak lain adalah :
a). Weda
b). Tatwa Sapta Kanda Empat
Kedua pengetahuan suci itu harus dipelajari secara komprehensif. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, dibanding-bandingkan, tetapi harus saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya secara simultan.[6]
Pengertian Tatwa Sapta Kanda Empat
Istilah TATWA SAPTA KANDA EMPAT[1] berasal dari empat kata yang meliputi :
- Tatwa = Ajaran, Sastra, Pengetahuan Suci
- Sapta = Tujuh
- Kanda = Cerita, Pitutur, Petuah
- Empat = Cakra, Cakrawala, Dunia
Dengan demikian, TATWA SAPTA KANDA EMPAT dapat diartikan sebagai ajaran, sastra, atau pengetahuan suci tentang tujuh cerita atau pitutur yang berbicara tentang cakrawala atau dunia beserta segala yang hidup didalamnya.
Pembagian Tatwa Sapta Kanda Empat
Adapun pembagian dari TATWA SAPTA KANDA EMPAT itu, yaitu :
- Kanda Empat Buta
- Kanda Empat Rare
- Kanda Empat Nyama
- Kanda Empat Dewa
- Kanda Empat Subiksa
- Kanda Empat Sari
- Kanda Empat Moksa
1. Kanda Empat Buta
Kanda Empat Buta pada prinsipnya menceritakan bahwa dunia Ketuhanan Yang Maha Esa itu bersifat buta. Buta diartikan sebagai gaib, abstrak, gelap, dan transedental. Dan untuk menghormati dan mengagung-agungkan sifat Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat buta, gaib, abstrak, dan transedental itu maka dilaksanakanlah upacara korban suci berupa Mecaru untuk memulihkan atau mengembalikan keadaan pada sedia kala sebagaimana sifat beliau yang Maha Gaib, Heneng, Hening, dan Maha Sempurna.
2. Kanda Empat Rare
Kanda Empat Rare pada prinsipnya menceritakan dunia bayi (rare=bayi) dengan rentang usia 0-2 tahun. Bahwa ketika terjadi kelahiran bayi maka menurut ajaran Kanda Empat Rare dilakukan hal berikut ini :
- Jika bayi laki-laki, ari-arinya ditanam sebelah kanan pintu depan rumah
- Jika bayi perempuan, ari-arinya ditanam sebelah kiri pintu depan rumah
Menurut tradisi dan adat Bali maka upacara yang berkaitan dengan bayi diantaranya yaitu upacara dapetan, upacara metelah-telah (kepus puser), upacara tiga bulanan (netelunin), dan upacara ngotonin.
3. Kanda Empat Nyama
Kanda Empat Nyama pada prinsipnya menceritakan dunia anak-anak dimana mereka bisa saling berinteraksi, bersenda gurau dengan saudara dan teman-teman sebayanya (nyama) dengan rentang usia sekitar 2-6 tahun. Pada fase kehidupan ini maka upacara yang dilakukan adalah nebusin oton (mebayuh oton) dengan memperhatikan neptu dari hari kelahiran dan pasaran (meliputi saptawara dan pancawara).
4. Kanda Empat Dewa
Kanda Empat Dewa pada prinsipnya menceritakan dunia anak-anak yang beranjak dewasa dengan rentang usia sekitar 6-18 tahun. Pada fase kehidupan ini, mereka sedang menempuh pendidikan di lembaga pendidikan baik formal maupun non formal dengan sungguh-sungguh untuk mempersiapkan masa depannya.
Adapun upacara yang dibutuhkan pada fase kehidupan ini adalah Upacara Mepandes, Metatah atau Mesangih atau acapkali disebut juga Upacara Potong Gigi.
5. Kanda Empat Subiksa
Kanda Empat Subiksa pada prinsipnya menceritakan dunia kedewasaan dan intelektualitas umat manusia dengan rentang usia sekitar 18-35 tahun. Pada fase kehidupan ini mereka disebut subiksa yang berarti biksu, wiku, intelek, terpelajar, atau golongan cendekia. Nah, pada tahap kehidupan ini mereka sudah dianggap dewasa dan layak untuk melanjutkan ke jenjang perkawinan. Oleh karena itu, upacara yang perlu dipersiapkan pada fase kehidupan ini adalah upacara pawiwahan atau upacara perkawinan.
6. Kanda Empat Sari[7]
Kanda Empat Sari pada prinsipnya menceritakan dunia pembangunan manusia seutuhnya dengan rentang usia sekitar 35-75 tahun. Kata “Sari” dalam Kanda Empat Sari diartikan sebagai sisa atau bekas. Yang bermakna bahwa pada fase kehidupan ini, mereka telah berpikir bahwa di sisa kehidupan ini apa yang akan ia tinggalkan tatkala ia dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa. Apakah nama baik atau nama buruk, apakah ia bisa menjadi role model atau panutan di masyarakat atau tidak.
Nah, upacara yang perlu dilakukan pada fase kehidupan ini adalah upacara mewinten (upacara kepanditaan dan penyucian diri).
7. Kanda Empat Moksa
Kanda Empat Moksa pada prinsipnya menceritakan dunia kematian dengan rentang usia sekitar 75-100 tahun. Dunia kematian itu adalah dunia yang pasti akan dilalui oleh umat manusia dimanapun mereka berada. Dunia kematian itu bersifat gaib sebagaimana sifat Tuhan Yang Maha Esa dan kita tidak tahu kapan pastinya kita akan melewati fase kehidupan ini.
Bisa jadi kita mati muda, bukan? Artinya sebelum usia 75 tahun, kita sudah di panggil oleh-Nya. Untuk upacara yang di bahas di sesi ini adalah upacara kematian, upacara penguburan, atau upacara ngaben. Menurut Pan Putu Budihartini (2004), Tatwa Sapta Kanda Empat merupakan Budaya Spiritual Bali. Ia adalah kekayaan rohaniah nenek moyang Bangsa Indonesia khususnya yang ada di Bali. "Ajaran ini tidak boleh tenggelam lagi. Saya berharap kepada generasi muda Hindu Bali untuk segera mempelajari ajaran yang adiluhung ini. Dan Dharma Murti telah menghimpun ajaran ini dengan baik,” ucapnya dalam berbagai kesempatan.[4]
Referensi
- ^ a b Budihartini, Pan Putu (2000). "Tatwa Kanda Empat Sari: Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Daerah Bali yang Universal". Perpustakaan Politeknik Negeri Bali. Diakses tanggal 2025-02-20.
- ^ Nurhadi, Gendro (2010). "Ensiklopedi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa" (PDF). Perpustakaan Kemendikbud RI. Diakses tanggal 2025-02-19.
- ^ "Ajaran Organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa DHARMA MURTI". Diakses tanggal 2025-02-19.
- ^ a b Budihartini, Pan Putu (2004). Tatwa Kanda Empat Buta: Budaya Spiritual Bali, Bukan Agama, Bukan Mitologi, dan Bukan Cerita Pewayangan. Lampung Tengah: DPP Dharma Murti. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Budihartini, Pan Putu (2000). Mengungkap Tatwa Sapta Kanda Empat: Budaya Spiritual Bali yang Universal, Menjiwai Spiritualitas Umat Hindu Bali Khususnya. Denpasar: Harian Bali Post. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Budihartini, Pan Putu (2001). Pengobatan Alternatif Sapta Kanda Empat. Denpasar: Pustaka Bali Post. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Budihartini, Pan Putu (2000). "Tatwa Kanda Empat Sari: Nilai-Nilai Luhur Budaya Spiritual Bangsa Daerah Bali yang Universal". Shopee. Diakses tanggal 2025-02-20.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


