Tari Wiranata

Tari Wiranata adalah salah satu tarian tunggal (solo) Bali yang termasuk ke dalam kategori tari babancihan, yaitu tarian karakter maskulin yang dibawakan oleh penari putri. Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan keagungan raja sebagai pemimpin perang.[1]

Sejarah dan Asal-Usul

Tari ini diciptakan oleh I Nyoman Kaler pada tahun 1942.[2]

Ciri Khas

Tari ini akan bisa mencapai sukses apabila penarinya manpu memainkan matanya dengan baik. Tari ini biasanya dibawakan oleh seorang wanita.[3]

Ragam Gerak

Ragam gerak dalam Tari Wiranata diawali dengan gerakan mungkah lawang yang dilakukan secara perlahan, disertai agem kanan dan ekspresi wajah (mimik) kenjung manis yang menunjukkan sikap lemah lembut namun waspada. Selanjutnya, penari melakukan perubahan agem kanan dan kiri sebagai transisi sikap tubuh. Gerakan berlanjut dengan ulap-ulap di sisi kanan dan gandar garep, di mana penari melangkah ke depan sambil ngurat daun, yakni gerakan tangan menyerupai gerakan menggurat daun, dengan pandangan diarahkan secara menyilang ke kiri depan dan kanan depan. Kemudian penari melakukan gerakan gandanguri, yaitu mundur secara perlahan.[butuh rujukan]

Gerakan berikutnya adalah ngerangrang pajeng, dengan pola tangan kanan dan kiri bergerak aktif sambil diselingi ngangget, yakni gerakan mengangkat bagian tubuh sambil berputar beberapa kali untuk menunjukkan energi dan semangat. Lalu, penari melakukan nepuk kampuh, yakni menepuk bagian selendang di depan dada, dilanjutkan dengan najog bertanjak dua yaitu langkah-langkah cepat dan berirama menuju ke depan, lalu ditutup dengan gandanguri atau mundur kembali ke belakang sebagai penegas dinamika gerak dalam tarian ini.[4]

Kostum

Dalam pertunjukan Tari Wiranata, penari mengenakan kostum tradisional Bali yang terdiri atas beberapa elemen khas. Bagian kepala dihiasi dengan udeng, kain penutup kepala yang melambangkan kehormatan. Di bagian leher dikenakan badong, sebuah aksesoris berbentuk kalung tebal yang menambah kesan gagah. Penari juga mengenakan sabuk prade di pinggang sebagai pengikat utama kostum, serta ampok-ampok di bagian belakang tubuh atau pantat untuk mempertegas siluet tubuh saat bergerak. Pada lengan, digunakan gelangkane, sejenis gelang yang memperindah tampilan tangan. Sementara itu, tubuh bagian bawah dililit dengan kain lanjingan, kain panjang khas Bali yang menjadi ciri khas busana tradisional penari pria.[5]

Musik Pengiring

Untuk musik pengiring, Tari Wiranata diiringi oleh tabuh-tabuh gamelan yang memiliki variasi irama guna mengikuti dinamika gerak tari. Musik dimulai dengan tabuh Bapang berirama cepat, disusul oleh tabuh Longger yang memiliki tempo sedang. Kemudian, kembali digunakan tabuh Bapang tetapi dengan irama yang lebih bergelombang untuk menyesuaikan perubahan suasana. Selanjutnya, tabuh Pengentrag hadir dengan tempo cepat, diikuti oleh tabuh Pemesan yang memiliki irama halus dan pelan, memberikan jeda yang lebih tenang. Rangkaian musik ditutup dengan tabuh Pengecet yang kembali mengusung irama cepat, memperkuat klimakspertunjukan tari ini.[6]

Daftar Referensi

  1. ^ "TARI WIRANATA | ANTARA Foto". antarafoto.com. Diakses tanggal 2025-06-18.
  2. ^ "Gzhfs | PDF". Scribd. Diakses tanggal 2025-06-18.
  3. ^ "Tari Wiranata Bali » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ "Tari Wiranata, Tarian Tradisional Dari Bali". Cinta Indonesia (dalam bahasa Inggris). 2018-07-21. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ anggayanto (2018-03-20). "Sejarah Tari wiranata | anggayanto". Diakses tanggal 2025-06-18.
  6. ^ "Wiranata I Gusti Ngurah Suka Wijaya Antara | PDF". Scribd. Diakses tanggal 2025-06-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement