Tari Trengganon
Tari Trengganon adalah salah satu kesenian tradisional dari Padukuhan Parakan Wetan, Sensangsari, Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan perpaduan antara musik rebana, bedug, silat, tari, dan nyanyian shalawat. Kesenian tersebut berbentuk tarian kelompok berpasangan dan ditarikan oleh laki-laki semua.[1] Barisan gerakan dan komponen syairnya mencerminkan latar agama Islam serta budaya lokal Medang Kamulan/Trenggalek, sesuai dengan fungsinya sebagai media dakwah dan hiburan.
Sejarah
Trengganon pada awalnya digunakan sebagai media dakwah oleh Kyai Haji Syahid dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Dalam menyampaikan ceramah agama, KH. Syahid menyertakan pementasan kesenian Trengganon sebagai sarana syiar. Syiar ini dilakukan melalui lantunan syair-syair yang diambil dari kitab Barzanji dan dipadukan secara harmonis dengan gerakan jurus-jurus silat. Nama Trengganon berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata tarawih yang berarti "hal yang baik" dan anggonun yang berarti "melaksanakan", sehingga secara harfiah Trengganon dapat dimaknai sebagai “melaksanakan suatu kebaikan”.[butuh rujukan]
Awal kemunculan kesenian Trengganon terjadi sekitar tahun 1930 M di Padukuhan Parakan Kulon, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat itu, masyarakat setempat mulai mempelajari kesenian ini, dan pada tahun 1936 M, Trengganon telah menjadi milik dan bagian dari masyarakat Parakan Kulon. Kemudian, pada tahun 1983 M, kesenian ini dipilih oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman untuk mewakili daerah dalam pementasan kesenian di Jakarta. Namun, karena keterbatasan waktu latihan yang hanya dua bulan, masyarakat Parakan Kulon merasa keberatan dan proses pelatihan kemudian dialihkan ke masyarakat Parakan Wetan. Sejak saat itu, masyarakat Parakan Wetan mempelajari kesenian ini, dan pada tahun yang sama, Trengganon resmi menjadi milik masyarakat Parakan Wetan.[2] Pada masa awal, Trengganon difungsikan sebagai sarana dakwah Islam, namun dalam perkembangannya kesenian ini juga menjadi hiburan masyarakat dan dipentaskan dalam berbagai acara sosial seperti syukuran, pernikahan, khitanan, serta kegiatan keagamaan lainnya.[3]
Kostum
Penari mengenakan pakaian campuran tradisional Jawa dan Melayu dengan nuansa religius. Umumnya terdiri dari peci hitam, baju lengan panjang putih, rompi gelap, celana tanggung, setagen atau kain jarik, kaos kaki dan sepatu hitam. Penari putri dalam beberapa kelompok menyesuaikan kostum dengan mengenakan kerudung langsing. Namun, beberapa penari putri berhijab yang lain memutuskan untuk berhenti terlibat karena konsep busananya yang memakai peci hitam.[2]
Gerakan
Sumber gerak tari kesenian Trengganon adalah unsur gerak pencak silat, yang berarti aspek bentuk dasar meliputi sikap dan gerak tangan dan gerak kaki mengikuti unsur dasar pencak silat. Meskipun begitu, unsur pertunjukan kecepatan tari dalam Trengganon tidak terlalu tajam dan lebih lembut. Motif pencak silat yang dipakai dalam tari Trengganon ada dua aspek, yaitu gerak tangkisan dan serangan. Kegagahan pada motif pencak dapat terlihat pada sikap tubuh, volume gerak dan pengerahan tenaga. Sedangkan, motif serangan pencak silat dalam tari Trengganon terdiri dari gerak memukul, menendang ke depan, dan ke tengah.[4]
Musik pengiring
Trengganon merupakan bentuk kesenian tradisional rakyat yang bernafaskan Islam dan menggabungkan unsur seni musik, tari, silat, serta seni suara. Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan ini antara lain rebana dan bedug, dan dalam perkembangannya ditambahkan kentongan untuk memperkaya irama. Syair-syair dalam pertunjukan Trengganon ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu, biasanya terdiri dari dua bait; bait pertama disebut bawa (pertanyaan), dan bait kedua disebut rodhat (jawaban).[5]
Daftar Referensi
- ^ Hadi, Y. Sumandiyo (1982). "Kesenian Rakyat Trengganon di Daerah Kabupaten Sleman". digilib.isi.ac.id. Diakses tanggal 18 Juni 2025.
- ^ a b "Kesenian Trengganon di Tengah Gempuran Modernisasi". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ Kemdikbud (2021). "Trengganon". referensi.data.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 18 Juni 2025.
- ^ "Sistem Informasi Warisan Budaya :: Selamat datang". siwa.circlelabs.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ Liputan6.com (2025-06-07). "Trengganon, Kesenian di Kabupaten Sleman Bernapaskan Islam". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-18. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


