Tari Tenun Songket
Tari Tenun Songket merupakan salah satu tari tradisional yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Tarian ini merepresentasikan aktivitas serta keceriaan para perempuan dalam proses pembuatan kain songket, yakni kain tenun khas daerah tersebut. Gerakan dalam tarian ini meniru proses menenun. Iringan musiknya yang digunakan biasanya terdiri atas kombinasi alat musik pukul seperti gendang dan akordeon, dengan tempo yang disesuaikan mengikuti gerakan tari. Ekspresi gembira sangat tampak pada wajah pemeran tari ini ketika menenun kain songket. Di Palembang, penari mengenakan baju kurung khas Palembang yang dimodifikasi dengan dominasi warna emas dan kain songket sebagai bawahan. Tari Tenun Songket juga memiliki nilai simbolis karena menunjukkan peran penting perempuan dalam menjaga tradisi dan melestarikan warisan budaya Palembang. Saat ini, tarian ini kerap ditampilkan dalam acara adat, pertunjukan seni, serta kegiatan kebudayaan untuk memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat luas maupun wisatawan.
Asal Usul dan Sejarah Tari Tenun Songket
Tari tenun songket ada sejak sekitar tahun 1980an yang diciptakan oleh Ibu Ernawati di rumahnya. Ibu Ernawati merupakan seorang seniman tari dan seniman drama. Tarian ini diciptakan karena dulu tahun 1980an semua seniman berkumpul untuk menciptakan hal baru yang diadopsi dari sejarah dan budaya Palembang, Sumsel. Salah satu yang diciptakan yaitu tari Tenun Songket yang diadopsi langsung dari tradisi menenun songket. Untuk musik iringan tari Tenun Songket ini adalah lagu Tenun Songket ciptaan Bapak Nungcik Alidin. Bapak Nungcik Alidin adalah suami dari Ibu Ernawati, dia juga seorang pencipta lagu dan seniman. Penyanyinya Herlina Nungcik Alidin. Tarian ini dulu hanya ditampilkan pada acara tertentu seperti dalam acara adat, tarian ini ditampilkan setelah tari sambut. Tarian ini kemudian hilang jejak sekitar tahun 1990an. Karena Pencipta tarian ini meninggal dunia. Selain alm. Ibu Ernawati, yang fasih menarikan tarian ini adalah anaknya, tetapi anaknya juga meninggal dunia. Kemudian sekitar tahun 2000an, para seniman tari ingin mengangkat budaya tarian dari Palembang, lalu mereka memodifikasilah tari tenun songket menjadi tari kresi tenun songket.[1]
Makna Tarian Tenun Songket
Makna setiap gerakan dalam tari tenun songket sebenarnya sesuai dengan lagunya, karena tarian ini dibuat berdasarkan proses menenun songket. Contohnya dalam bait syair pertama “mulo-mulo melereng benang’ gerakan tangan sedang melereng benang atau sedang menyiapkan benang dari gulungan untuk siap digunakan. Selain itu, makna umum yang dipahami masyarakat terkait tenun ini adalah sebagai pengikat persaudaraan dan pelestarian terhadap budaya kain songket yang khas dari Palembang
Referensi
- ^ Hanafiah, M.Ali. "Wawancara tentang Budaya Tenun Songket Palembang" (PDF). Ahli Bidang Sejarah dan Budaya Palembang. Diakses tanggal 30 Agustus 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


