Tari Podang Payakumbuh
Tari Podang Payakumbuh merupakan salah satu kesenian tradisional khas Nagari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat yang menampilkan gerakan silat dengan properti pedang panjang.[1] Seni Tari Podang Payakumbuh telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 315/M/2023.[2]
Sejarah
Tari Podang Payakumbuh terbentuk dari permainan silek dan podang anak-anak nagari. Pada awalnya, Tari Podang Payakumbuh dipelajari oleh para pemuda, terutama yang tidak bersekolah ataupun yang telah mempelajari ilmu agama. Latihan dilakukan di Ujuang Tanjuang, daerah terluar kampung, agar para penari dapat berkonsentrasi karena tarian ini melibatkan penggunaan pedang yang membutuhkan kehati-hatian. Sebelum berlatih menampilkan tarian Podang Payakumbuh, penari perlu menyiapkan beberapa bahan, seperti bareh sagantang (segantang beras), pisau dari besi, kain putiah sakabuang (kain putih dengan ukuran kurang dari dua meter), pitih sapiak ( uang 1 rupiah, dengan nominal yang disesuaikan dengan masa), serta lapangan latihan yang diberi darah ayam.[1][3]
Gerakan-gerakan dalam Tari Podang Payakumbuh menyimbolkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Nagari, seperti hubungan manusia dengan sesama, dengan Tuhan, dan dengan alam. Dahulu, Tari Podang Payakumbuh ditampilkan dalam berbagai acara, seperti batagak pangulu, alek nagari, serta acara penyambutan tamu kehormatan. Namun, di era modern acara-acara tersebut lebih memilih pertunjukan seni tari lainnya.[1][3]
Pola gerak
Tari Podang Payakumbuh dapat ditampilkan secara berpasangan oleh dua orang tanpa batasan gender maupun usia. Namun, pada umumnya penari merupakan laki-laki. Tarian ini hanya bisa dilakukan dalam jumlah kecil karena penggunaan pedang membutuhkan ruang gerak yang luas. Durasi penampilan berkisar 3–5 menit dan tidak menceritakan kisah tertentu, melainkan menyimbolkan makna melalui gerakan.[1] Tari Podang terdiri atas 20 gerakan pokok yang dilakukan secara berulang. Gerakan-gerakan tersebut antara lain Salam Pembuka, Barabah Mandi, Sewa, Cubadak Alia, salam kepada penonton, Ambiak Podang, Cubadak Alia pakai Podang, Sewa pakai Podang, Manggureh Tanah, Anggar 7, Anggar 3-catuak, Badansu, Sipak Pacaraian, Bagoluik Gajah Dorong, dan Salam Penutup. Semua gerakan ini dikembangkan dari gerakan silat (silek) dan permainan pedang,[3] yang sudah mengalami modifikasi untuk ditampilkan di hadapan penonton.[1]
Busana dan properti
Penari Podang Payakumbuh mengenakan busana serba hitam yang disebut baju silek, yang terdiri dari baju taluak balango, celana sarawa gandik, kain sarung (kain jao), dan penutup kepala (deta hitam). Para penari tidak menggunakan riasan wajah, menekankan kesederhanaan dan sifat alami laki-laki Minang. Properti utama tari berupa pedang dengan panjang sekitar 80–120 cm. Pedang ini tidak harus seragam karena dapat disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan alat.[1]
Musik
Pertunjukan Tari Podang Payakumbuh diiringi alat musik tradisional Minangkabau seperti saluang, gandang tambua, tassa, dan talempong. Lagu yang dimainkan disebut “Anak-anak”, karenamerujuk pada jenis lagu yang ringan dan pendek. Jumlah pemain musik berkisar antara lima hingga tujuh orang, tanpa aturan baku. Iringan musik berfungsi sebagai pemberi arah ketukan dalam gerakan tari.[1]
Pola lantai
Tari Podang Payakumbuh tidak memiliki panggung atau tempat pertunjukan khusus. Tarian ini dapat dapat ditampilkan kapan saja dan di mana saja, asalkan tempatnya memungkinkan pergerakan secara bebas. Pola lantai dalam tarian ini memadukan garis lurus dan lengkung, memungkinkan penari untuk bertukar posisi atau berhadapan langsung.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f g h Edinon, Gustia Arini (2022-04-30). "Nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan tari Podang dan implementasinya dalam pembelajaran di sekolah". Imaji. 20 (1): 69–77. doi:10.21831/imaji.v20i1.47371. ISSN 2580-0175.
- ^ "Tari Podang Payakumbuh". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ a b c Gustia Arini, E; Sudarman, Yos (2020). "Education Values in Podang Dance at Napar Nagari Koto Nan Gadang Payakumbuh West Sumatra". Proceedings of the Eighth International Conference on Languages and Arts (ICLA-2019). Paris, France: Atlantis Press. doi:10.2991/assehr.k.200819.071.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


