Tari Poang
Tari Poang adalah salah satu tarian tradisional ritual dari masyarakat Sakai di Kabupaten Bengkalis, Riau untuk penyambutan tamu kehormatan.[1] Seni tari tradisional ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 1044/P/2020.[2]
Sejarah
Tari Poang terinspirasi dari legenda masyarakat Sakai tentang pertempuran antara Putri Punai Onai dan Raja Potugal Bosi yang hendak merebut daerah kekuasaan. Keduanya kemudian terlibat perang walaupun masih sesama orang Sakai.[1] Pada awalnya, Tari Poang ditampilkan dalam acara penyambutan kepala suku adat yang meninjau desa Kesumbo Ampai, Bengkalis.[3]
Persiapan
Sebelum pertunjukan, penari mengikuti ritual tapung tawar, yakni penyapuan tujuh macam bunga ke arah penjuru mata angin dan pengasapan penari dengan tujuan meminta izin dari tetua adat dan makhluk halus agar pertunjukan berlangsung aman dan sakral.[1]
Bentuk pertunjukan
Tari Poang biasanya ditampilkan oleh laki-laki dewasa dalam jumlah ganjil. Penari berdiri dalam dua barisan genap, dengan satu penari sebagai pemanah berada di tengah. Struktur tari ini terdiri atas lima bagian: gondang poang yang diambil dari gerakan silat, kumbang berupa gerakan berputar, panto yaitu barisan yang disertai pukulan pada alat dari papan sebagai tanda penyambutan tamu, lancang kocik yang membentuk angka delapan, dan olang-olang yang menggambarkan adegan pemanahan satu per satu hingga akhir tarian. Durasi penampilan Tari Poang berkisar antara 20–25 menit, dan setiap bagiannya diiringi oleh irama musik yang berbeda.[1]
Busana
Penari Tari Poang mengenakan pakaian dengan warna-warna simbolik: hitam, merah, putih, dan kuning. Susunan warna disesuaikan dengan posisi penari, seperti warna hitam di depan, merah di belakangnya, dan putih atau kuning pada bagian belakang atau tengah untuk pemanah. Pakaian modern kini dibuat dari kain tekstil pabrikan, tetapi dulunya busana dibuat dari kulit kayu yang diolah hingga menyerupai kain. Penari juga mengenakan penutup kepala khas berwarna krem atau kuning muda yang disebut deta.[1] Pada tari ini juga digunakan beberapa jenis senjata sebagai properti, seperti kujo, keris, panah, pedang, sumpit, tameng, dan tombak.[3]
Iringan musik
Pada Tari Poang digunakan beberapa alat musik sebagai pengiring, sepert: odok (sejenis drum), gondang panjang, dan gambang. Odok dan gondang panjang berfungsi mengatur ritme dan tempo, sedangkan gambang memainkan melodi. Setiap bagian dalam struktur tari memiliki iringan musik yang berbeda.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f Asril, Asril; Jamarun, Novesar; Hamzah, Hamzah; Halilintar, Mansur; Saputra, Trio (2020-07-09). "Tari Poang dan Tari Olang-olang Pertunjukan Ritual Masyarakat Sakai di Kabupaten Bengkalis, Riau". Mudra Jurnal Seni Budaya. 35 (2): 154–163. doi:10.31091/mudra.v35i2.1056. ISSN 2541-0407.
- ^ "Tari Poang". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b Simanjuntak, Elisabeth Christina Hotmaria. "Mengenal Tari Poang, Tarian Adat Penyambutan Tamu oleh Suku Sakai di Riau". detiksumut. Diakses tanggal 2025-06-19.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


