Tari Pajjaga Andi
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Tari Pajjaga Andi adalah tarian tradisional Bugis yang berasal dari lingkungan kerajaan Bone, Sulawesi Selatan. Tarian ini awalnya merupakan bagian dari tradisi istana, berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap raja yang dianggap sebagai keturunan dewa.[1] Tari Pajjaga Andi Makkunrai diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 372/M/2021.[2]
Sejarah
Tari Pajjaga Andi ini bermula dari lingkungan kerajaan Luwu dan diperkenalkan ke Bone melalui pernikahan antara La Patau Matanna Tikka (Raja Bone) dengan seorang putri dari Luwu. Putri tersebut membawa serta pengawal dan penghiburnya ke Istana Bone (Saoraja), yang kemudian memunculkan bentuk awal tarian ini. Kata pajjaga berasal dari kata pa (orang) dan jaga (berjaga), yang berarti "orang yang berjaga" atau "pengawal". Pada mulanya, tari ini hanya bernama tari Pajjaga. Tari ini kemudian dikenal sebagai Pajjaga Andi pada masa Raja Bone ke-32,Andi Mappanyukki, sekitar tahun 1931. Nama "Andi" merujuk pada gelar kebangsawanan Bugis.[1]
Nilai dan filosofi
Tari Pajjaga Andi mengandung filosofi penghormatan, kesetiaan, dan perlindungan terhadap pemimpin. Ia dipentaskan baik sebagai tarian ritual maupun hiburan dalam lingkungan istana, khususnya saat menerima tamu kerajaan atau dalam waktu-waktu senggang.[1] Tari ini juga menggambarkan nilai tata krama, adat istiadat dan budaya sopan santun istana Bone. Tari ini biasanya dipentaskan pada hari-hari besar, seperti peringatan Hari Jadi Bone, dan dulunya hanya ditarikan oleh perempuan bangsawan.[2]
Pola gerak
Tari Pajjaga Andi yang dikembangkan oleh Sanggar Seni Arung Palakka menampilkan penari perempuan usia remaja dengan jumlah genap, biasanya 2, 4, 6, atau 8 orang. Tari ini memiliki ragam gerak yang mencerminkan tahapan sopan santun dalam budaya Bugis, yaitu: Muttama (gerakan masuk), Makkasiwiyang (penghormatan), Mangngade (adab), Mappatabe (meminta izin), Massampeang (menolak bala), Mali Siparappe Rebba Sipatokkong (saling membantu), Sere (menari), dan Massimang (mohon pamit). Pola lantai tidak digunakan pada masa kerajaan, tetapi dalam perkembangannya kini telah ditambahkan untuk pertunjukan, termasuk pola duduk yang khas antara laki-laki dan perempuan saat berada di depan raja.[2]
Alat musik
Tari Pajjaga Andi ini diiringi dengan musik dari dua buah gendang, satu gong, satu kancing, dan satu ana’ baccing. Alat musik lain seperti kacapi dan seruling juga digunakan untuk pelengkap suasana.[2]
Busana
Penari Tai Pajjaga Andi menggunakan busana adat Bugis dan terdiri dari: waju tokko (baju bodo), lipa tallasa (sarung khas), tali bennang (ikat pinggang), simatayya, potto lampe (gelang panjang), kalung, bangkara (anting-anting), patteppo jakka (bando), pinang goyang, simpolong tettong (sanggul berdiri), kembang dan dadasa. Selain itu, digunakan properti tari seperti kipas dan selendang.[2]
Referensi
- ^ a b c Sulistilawati, S., Naimah, N., Asfar, A. M. I. T., Asfar, A. M. I. A., Nurannisa, A., Nurlia, N., & Astria, R. D. (2023). Indigenous Cultural Knowledge: Eksplorasi Budaya Lokal Tari Pajjaga Andi dalam Proses Pembelajaran. Purbalingga: Eureka Media Aksara
- ^ a b c d e "Tari Pajjaga Andi Makkunrai". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


