Tari Janger Kolok Desa Bengkala

Tari Janger Kolok adalah salah satu bentuk kesenian unik dari Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Tarian ini merupakan adaptasi inklusif dari kesenian tradisional Janger — tetapi dibawakan secara istimewa oleh penari-penari tuli (kolok) dari komunitas masyarakat setempat.

Desa Bengkala dikenal sebagai “Desa Kolok”, yakni desa dengan populasi warga tuli yang cukup besar dan telah mengembangkan sistem komunikasi khusus yang disebut Bahasa Isyarat Bengkala (Kata Kolok).

Dalam konteks ini, Tari Janger Kolok menjadi representasi kearifan lokal dan ekspresi kesetaraan difabel di tengah tradisi seni Bali. Tarian ini turut didokumentasikan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali dan Dinas Kebudayaan Buleleng sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda Bali Utara.

Bentuk Pertunjukan

Tari Janger Kolok mempertahankan struktur dasar dari tari Janger pada umumnya — yakni tarian berpasangan antara kelompok penari laki-laki (Kecak) dan perempuan (Janger) namun disesuaikan dengan kemampuan komunikasi penari tuli.

Para penari tidak mengikuti irama musik melalui pendengaran, melainkan melalui getaran tanah dan isyarat visualyang diberikan oleh pemimpin tari atau penabuh. Getaran dari gamelan angklung dan kendang menjadi panduan utama ritme gerak, sedangkan penari saling berinteraksi dengan bahasa isyarat Bengkala yang menggantikan dialog vokal Janger tradisional. Kostum yang digunakan tetap mengikuti ciri khas Janger Bali Utara, yakni busana warna-warni dengan hiasan bunga di kepala bagi penari perempuan dan udeng bagi laki-laki.

Musik pengiring Janger Kolok umumnya menggunakan gamelan angklung kebyar dengan tempo yang disesuaikan agar lebih mudah diikuti melalui ritme tubuh. Gerakannya lembut, ekspresif, dan menekankan pada komunikasi non-verbal, ekspresi wajah, isyarat tangan, serta kontak mata menjadi elemen penting. Melalui gerak yang selaras, para penari mengekspresikan nilai-nilai kebersamaan, kegembiraan, dan rasa syukur.

Hal ini menjadikan Tari Janger Kolok bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga simbol keberdayaan komunitas disabilitas dalam pelestarian budaya.

Fungsi Sosial dan Nilai Budaya

Bagi masyarakat Bengkala, Tari Janger Kolok memiliki fungsi sosial, spiritual, dan edukatif:

  • Sebagai media ekspresi diri bagi warga kolok agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan budaya desa.
  • Sebagai simbol inklusi budaya, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkesenian.
  • Sebagai identitas lokal, yang memperkuat citra Desa Bengkala sebagai desa yang berbudaya, inklusif, dan harmonis.

Pementasan Janger Kolok kerap ditampilkan dalam festival seni, acara adat, dan kunjungan budaya, baik di tingkat kabupaten maupun nasional.

Referensi

  1. Astuti, N. L. P. (2020). Eksistensi Tari Janger Kolok di Desa Bengkala, Buleleng. Jurnal Penelitian Seni Budaya, Vol. 12(2), Universitas Pendidikan Ganesha.
  2. Rai, I. N. (2021). Inklusi dan Kearifan Lokal dalam Kesenian Janger Kolok Bengkala. Prosiding Seminar Nasional Seni dan Budaya ISI Denpasar.
  3. BBC Indonesia. (2018). Janger Kolok: Tarian Tanpa Suara dari Desa Bengkala. Retrieved from https://www.bbc.com/indonesia/majalah-43894537
  4. Kompas.com. (2023). Janger Kolok, Kesenian Unik dari Desa Tuli di Bali. Retrieved from https://www.kompas.com/stori/read/2023/04/23/
  5. UNESCO Jakarta Office. (2022). Inclusive Heritage: Bengkala, the Village of Silence. Retrieved from https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000381739

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement